Friday, 15 February 2013


MAKNA DIFERENSIASI KARYA SENI LUKIS “PASREN”
DI KABUPATEN KLATEN

Waluya1, Nanang Rizali2, Slamet Subiyantoro3
Magister Humaniora Program PASCASARJANA UNS

walvasc@gmail.com

Abstrak

Latar Belakang:“Pasren” (Paguyuban Senirupawan Klaten) adalah organisasi kesenian yang beranggotakan para seniman seni rupa yang berasal dari berbagai latar belakang sosial-budaya, pendidikan dan pekerjaan di Kabupaten Klaten. Latar belakang diferensiasi kehidupan sosial-budaya pelukis “Pasren” mungkin dapat melahirkan corak/gaya berbeda-beda dan memiliki makna tertentu untuk dipahami. Namun, tingkat pemahaman masyarakat awam masih terbatas, akibatnya kurang apresiatif. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kejelasan yang latar belakang pemikiran, ideologi dan filosofis, perwujudan dan pemaknaan keperbedaan dalam keragaman karya seni lukis “Pasren”
Metode: Jenis penelitian kualitatif ini pengkajiannya menggunakan paradigma Tafsir Kebudayaan Clifford Geertz didukung teori Semiotika dengan pendekatan Hermeneutika. Untuk memberikan gambaran keperbedaan dalam keragaman karya seni lukis, menggunakan sampel purposif yang teridentifikasi. Pengumpulan data menggunakan empat teknik, yaitu: wawancara mendalam, observasi langsung, analisis dokumen, dan teknik cuplikan. Teknik analisis data mencakup tiga langkah, yakni reduksi, kategorisasi dan sintesisasi. Hasil analisis data disajikan secara informal; secara deskriptif yang didukung secara formal berupa diagram maupun tabel hanya bersifat sebagai pelengkap.
Hasil: Setelah dilakukan analisis terhadap sejumlah karya seni lukis “Pasren” ternyata diferensiasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Klaten berpengaruh dalam konsep berkarya yang melahirkan keragaman corak dan gaya karya seni lukis “Pasren” yang menjadi simbol komunikasi budaya. Setiap karya seni lukis memiliki nilai estetis, struktur dan makna yang berbeda-beda. Pemaknaannya, menunjukkan adanya kesamaan berupa makna ma’rifat, makna kehidupan dan makna sosial-budaya. Dalam penafsirannya ditemukan bentuk konsep trilogifiguratif yang merupakan kesatuan bidang horizontal) (trimandala) dan vertikal dalam wujud limas segitiga ke atas (triloka) sebagai lambang trihitakarana berarti tiga hubungan keselarasan, yakni hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Tuhan. Berdasarkan konsep trilogifiguratif itu, maka dapat ditafsirkan sebuah korelasi antara tiga makna berpusat pada dzat Ghoib (Allah).

Kata Kunci: diferensiasi, seni lukis, “Pasren”, makna.

PENDAHULUAN


Kebudayaan adalah suatu kondisi sosial-budaya yang majemuk, kadang-kadang mengalami perbenturan ideologis, tetapi juga ada yang malah saling mengisi di antara kemajemukan kebudayaan tersebut. Budaya baru dapat terbentuk apabila terjadi interaksi kepentingan bersama antar individu (Kayam, 1981). Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial pada hakikatnya setiap individu ingin berkomunikasi dengan sesamanya. Untuk menyampaikan suatu maksud agar bisa diterima orang lain, maka secara konsensus dapat dilakukan melalui simbol tertentu dalam berkomunikasi.      Dalam sibernetika sistem sosial –budaya, menurut Talcot Parson (dalam Waseno, 1998), kebudayaan menjadi dasar bagi sistem-sistem yang lebih rendah tingkatannya, yaitu sistem sosial, sistem kepribadian dan sistem organis. Berbeda budaya seni yang dapat diamati hanyalah gejalanya saja. Artinya, karya seni sebagai produk kebudayaan dapat dimaknai sebagai gejala perwujudan status kepribadian dalam masyarakat.
       Berdasarkan keanekaragaman karya seni yang dikenal di dalam masyarakat sepanjang zaman, maka seperti yang diperkirakan Sedyawati (2006), bahwa posisi seni dalam masing-masing masyarakat tersebut dapat berbeda-beda yang dapat memaknai sebagai bagian dari kebudayaan. Sebagaimana dikatakan Poespowardojo (1989), bahwa usaha ini terlaksana dengan memberikan makna manusiawi kepada materi atau benda seni yang diolahnya dan membuat tata kehidupan masyarakat menjadi manusiawi di samping juga sebagai manifestasi kepribadian suatu masyarakat.
 Kebudayaan sebagai akar seni telah menumbuhkembangkan cabang-cabang seni seperti seni rupa, seni musik, seni tari, seni teater dan seni sastra. Seni rupa termasuk salah satu cabang seni dapat ditempatkan sebagai substansi kajian budaya. Seni rupa hanyalah bagian dari unsur seni yang keberadaannya sama dengan cabang-cabang seni lainnya. Ia bukan sekedar objek yang terpisah dengan subjeknya (perupa) apalagi latar subjeknya. Seni penuh nilai dan makna; bukan kuantitas tetapi kualitas, posisinya ada dalam wilayah kebudayaan (Subiyantoro, 2010). Sebagai salah satu ranting seni rupa, seni lukis hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai media ungkapan simbolis. Proses penciptaannya tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan diferensiasi  sosial-budaya melahirkan beranekaragam corak dan gaya pada hasil karya lukisnya. Seni lukis ditujukan sebagai tolok ukur nilai estetika, tanpa mengurangi fungsi sebagai bahasa rupa untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dengan demikian setiap corak dan gaya lukisan tersebut dapat memberikan stimulan dan motivasi bagi pengamatnya untuk mengetahui, meneliti, dan mengungkap makna simbolis dari karya tersebut.
Simbol merupakan salah satu istilah yang sangat banyak digunakan dalam ilmu humaniora (Ratna, 2007). Dengan cara masuk ke dalam tatanan simbolis inilah subjek terbentuk. Di luar tatanan simbolis hanya ada psikosis. Menurut Lacan (Barker, 2000), simbolis adalah suatu struktur bahasa dan makna sosial yang diterima yang bersifat melingkupi. Maka, komunikasi antar budaya sangat diperlukan untuk dapat memaknai simbol-simbol seni tersebut oleh Liliweri (2003) disebutnya ‘komunikasi sebagai aktivitas simbolis’, Analogi lain dapat dicontohkan pada seorang pelukis yang mengalihkan percakapannya pada pengamatnya melalui karya lukisnya sebagai simbol komunikasi. 
Ketika suatu kelompok individu bertemu dalam persamaan profesi dan persepsi, maka mereka berkeinginan untuk membangun suatu simbol identitas kelompok yang biasa disebut organisasi. Ferdinand Tonnies (dalam Setiadi, 2006) mengemukakan, bahwa terbentuknya organisasi yang dilandasi atas kepentingan bersama untuk mewujudkan tujuan tertentu dapat disebut paguyuban.  Maka, sebagai pengikat kebersamaan dalam berkarya para seniman membentuk organisasi kesenian. Salah satunya adalah “Pasren” (Paguyuban Senirupawan Klaten), yaitu organisasi kesenian yang beranggotakan para seniman seni rupa yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, agama, pekerjaan, dan asal daerah di Kabupaten Klaten.
Keberagaman latar belakang sosial-budaya masyarakat Klaten sangat mewarnai diferensiasi karya seni lukis yang mereka tampilkan melahirkan corak dan gaya dalam lukisan yang berbeda-beda yang bersifat ideoantropologis.
Secara ideoantropologis setiap individu memiliki paradigma dan ideologi masing-masing sebagaimana paparan Althusser (dalam Barker, 2009) berikut.
“Ideologi adalah pengalaman yang dijalani. Di sisi lain, ideologi juga dipahami sebagai seperangkat makna rumit yang menjelaskan dunia Ideologi dikatakan mempresentasikan hubungan imajiner individu dengan kondisi eksistensi nyata mereka”.

Dengan demikian setiap pelukis cenderungmempresentasikan pemaknaan atas keadaan dan peristiwa yang mereka alami, misalnya pemaknaan sebab-akibat kebijakan pemerintah, lingkungan hidup, sosial budaya, keagamaan, dan sebagainya.
Maka, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui perwujudan keperbedaan dalam keragaman karya seni “Pasren” itu memiliki makna yang dilatarbelakangi oleh diferensiasi kehidupan sosial-budaya masyarakat dan untuk untuk mengetahui cara pemaknaannya. Lebih khusus tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kejelasan yang latarbelakang pemikiran, ideologi dan filosofis, perwujudan makna keperbedaan dalam keragaman karya seni lukis “Pasren” dan bagaimana pemaknaannya.
Berdasarkan penelusuran pada beberapa perpustakaan, studi ilmiah tentang diferensiasi seni yang berlatar belakang keberagaman sosial-budaya, hingga kini belum banyak dilakukan. Lebih-lebih terhadap tema diferensiasi karya seni lukis dalam khazanah kajian budaya. Bahkan  dapat dikatakan, bahwa data sekunder yang dapat menunjang penelitian ini masih terbatas. Walaupun demikian, dalam penelusuran berbagai sumber pustaka telah ditemukan beberapa tulisan ilmiah mengenai kajian seni lukis sebagai berikut.
(1) Penelitian yang dilakukan Sujatmiko (2006) yang tercermin pada judul Perbedaan Teknik Melukis Anak Binaan pada Sanggar Bambu di Yogyakarta. Dengan paradigma aksiologi dan pendekatan strukturalisme, memperoleh temuan, yakni (a) Walaupun teknik melukis pada Sanggar Bambu telah diberikan secara sama, namun pada kenyataannya telah terjadi perbedaan teknik melukis antara pelukis yang satu dengan yang lainnya. (b) Perbedaan kebanyakan disebabkan oleh tingkat pemahaman dan ketrampilan mengolah media lukis.
(2) Karya ilmiah berjudul Penelitian Seni dengan Pendekatan Semiotik yang ditulis Dharsono (1996) dosen ISI Surakarta bertujuan  ingin mengenalkan, bahwa teori semiotika dapat dijadikan pendekatan terhadap kajian seni. Walaupun rumusan masalahnya tidak begitu jelas, dapat diketahui fokus kajiannya adalah menganalisis empat karya seni lukis yang berbeda-beda corak dan gayanya.
(3) Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh V.Kristanti Putri Laksmi (2009) yang juga seorang dosen ISI Surakarta, berjudul Kajian Makna Simbolis Motif Batik Sidowirasat Surakarta ini mengkaji makna simbolis garis pola-pola batik pembentuk motif batik Sidowirasat tersebut. menggunakan pendekatan teori Ernest Cassier yang menjelaskan, bahwa manusia adalah animal symbolicum, makhluk yang dapat mengerti dan menggunakan simbol-simbol (tanda-tanda). Kesimpulan yang dalam menjawab masalah adalah, bahwa motif Sidowirasat merupakan salah satu motif batik yang digunakan atau dipakai pada upacara perkawinan, baik di dalam maupun di luar Kraton.
  Berdasarkan temuan beberapa penelitian mengenai kajian seni rupa atau lebih khusus seni lukis di atas, menunjukkan adanya persamaan dalam hal metodologi penelitian, misalnya: objek yang diteliti, pendekatan dan paradigmanya. Namun, dari segi fokus, substansi dan permasalahan yang diangkat tetap berbeda. Beberapa temuan dalam penelusuran perpustakaan tersebut di atas dan beberapa pernyataan dalam buku-buku rujukan dapat dijadikan kajian pustaka dan diupayakan berkaitan dengan proses pengambilan data awal, membangun konsep, memperoleh metoda, membangun atau memperoleh teori, dan untuk memposisikan penelitian ini sebagai kajian ilmiah yang orisinalitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Klaten selama kurang-lebih 6 bulan mulai Januari sampai Juli 2012. Sebagai bagian dari kawasan wilayah kebudayaan, Kabupaten Klaten terletak di lintasan antara dua ‘kota budaya’ Yogyakarta dan Solo (Surakarta) Popinsi Jawa Tengah.
       Berdasarkan data monografi tahun 2011, Kabupaten Klaten luas wilayahnya 65.556 Ha, terdiri dari lahan pertanian sawah 36.781 Ha, bukan sawah 6.383 Ha dan selebihnya untuk pemukiman penduduk, pertokoan, dan tempat industri. Secara geografis, kondisi iklim kabupaten Klaten sub tropis, terletak antara 110.30o - 110.45o bujur timur dan antara 7.30o - 7.45o lintang selatan. Wilayah Kabupaten Klaten terbagi atas tiga dataran, yakni sebelah utara merupakan dataran lereng gunung Merapi, sebelah timur membujur ke barat termasuk dataran rendah dan sebelah selatan merupakan dataran gunung kapur. Kondisi geografis itu memberikan karakter tanah di setiap wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten.
       Penelitian jenis kualitatif ini dirancang dengan menggunakan paradigma Tafsir Kebudayaan Clifford Geertz.. Sesuai hakikat keilmuan, Tafsir Kebudayaan sebagai teori tafsir yang adalah ilmu yang bersifat interpretatif untuk mencari makna (Geertz, 2004). Penelitian bersifat terbuka, perubahan dianggap sebagai nilai tambah, bukan kegagalan. Oleh karena itu, penelitian tidak menggunakan hipotesis dan variabel yang dirinci secara eksplisit, maka menggunakan teori pendukung yang lain. Teori pendukung yang digunakan adalah teori Semiotika; suatu teori formal yang disesuaikan dengan hakikat objek, yakni seni lukis yang dianalogikan sebagai teks bahasa (baca: bahasa rupa) dan sebagai sistem tanda dan simbol yang perlu dimaknai secara bebas atau arbitrair  (Eco, 2009).
       Sesuai hakikat metode analisis penelitian kualitatif, maka penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika. Pendekatan ini memungkinkan seseorang bebas menafsirkan karya seni lukis menurut pemahamannya sendiri secara kritis (Poespoprodjo, 2004).
       Ruang lingkup penelitian meliputi seluruh anggota “Pasren”. Namun, untuk memberikan gambaran keperbedaan dalam keragaman lukisan, maka sesuai diambil sampel purposif yang teridentifikasi berdasarkan corak dan gaya yang dikaitkan dengan latar belakang sosial-budaya dari pelukis anggota ‘Pasren’.
Untuk mendapatkan informasi tentang data-data di lapangan, maka pertama ditentukan beberapa wakil kelompok yang disebut informan atau narasumber. Untuk mendapatkan data-data yang akurat, maka ditentukan dua jenis informan yakni informan pangkal dan informan kunci.
Informan pangkal pada umumnya satu orang, yang namanya sudah diketahui oleh peneliti terlebih dahulu. Melalui informan pangkal ini, akan ditentukan nara sumber lain. Dengan demikian, informan pangkal merupakan petunjuk teknik bola salju untuk menjadi petunjuk bagi informan-informan yang lain secara berantai. Sementara, informan kunci adalah narasumber utama (bisa lebih dari satu orang) dengan nama-nama dan keahliannya masing-masing yang diduga dapat memberikan informasi yang memadai terhadap objek penelitian.
Kedua, arsip/ dokumen berupa beberapa jenis dokumen yang berkaitan dengan dokumen yang ada di lapangan baik formal dan informal. Dokumen formal berupa surat-surat resmi, misalnya surat keputusan yang berkaitan dengan sejarah dan ijin pendirian organisasi “Pasren”. Dokumen informal berupa notulen rapat, kumpulan katalog pameran, foto-foto dokumen kegiatan, dan catatan-catatan lainnya yang mendukung,
Secara garis besar pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan empat teknik, yaitu: a), wawancara mendalam  b), observasi langsung,  c) analisis dokumen, dan d) teknik cuplikan. Teknik analisis data mencakup tiga langkah, yakni reduksi, kategorisasi, sintesisasi, dan menyusun ‘hipotesis kerja’. Hasil analisis data disajikan secara informal; secara deskriptif yaitu melalui kata-kata, kalimat, dan bentuk-bentuk narasi yang lain. Penyajian secara formal; baik melalui diagram maupun tabel hanya bersifat sebagai pelengkap.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian mendapatkan temuan berupa keberagaman bentuk kehidupan sosial-budaya masyarakat di Kabupaten  Klaten, misalnya kehidupan pertanian, perkebunan, industri kerajianan rakyat, keagamaan atau aliran kepercayaan, pendidikan, perdagangan dan adat-istiadat. Latar belakang kehidupan sosial-budaya    berpengaruh dalam konsep berkarya yang melahirkan keragaman corak dan gaya hasil karya seni lukis “Pasren”. Corak dan gaya karya seni lukis tersebut menjadi simbol komunikasi budaya dan bahasa rupa antara pelukis dan pengamatnya. Setelah dilakukan analisis terhadap sejumlah hasil karya seni lukis “Pasren” dapat diketahui adanya perbedaan proses dan teknik berkarya yang menyebabkan terjadinya keperbedaan corak dan gaya yang masing-masing memiliki nilai estetis, struktur dan makna yang berbeda pula. Namun, berdasarkan hasil pemaknaan terhadap beberapa karya seni lukis “Pasren”, menunjukkan adanya keterkaitan dan kesamaan makna antara karya seni lukis satu dengan lainnya yang terbentuk oleh adanya latar belakang pemikiran, ideologi dan filosofis pelukis “Pasren” dalam berkarya seni lukis yang berwujud corak dan gaya misalnya: Naturalisme, Realisme, Impresionisme,Romantisme,Ekspresionisme,Surealisme, Kubisme dan Abstrakisme.

Latar Belakang Penciptaan  dan Perwujudan Keperbedaan dalam Keragaman Karya Seni Lukis “Pasren”

Sebagaimana kebanyakan para pelukis dalam berkarya tentunya tidak bisa terlepas dengan pengalaman-pengalaman kehidupannya yang berpengaruh terhadap pemikiran fenomena budaya yang terjadi baik yang bersangkut paut dengan kisah hidupnya sendiri maupun yang mengenai orang lain. Kecenderungan dari yang akan berakumulasi bersama dengan pemikiran manusia dapat menumbuhkan sebuah ideologi pada diri seorang pelukis.
        Pertumbuhan ideologi pada setiap diri seorang pelukis apabila dihubungkan dengan fenomena budaya, maka ideologi memiliki karakter dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Artinya, keberadaan ideologi itu didukung oleh individu atau kelompok. Sebagai contoh, ideologi Islam didukung oleh golongan santri, komunisme didukung kelompok abangan dan nasionalisme sekuler didukung oleh kepompok priyayi (Yatim, 1999).  Dengan demikian, sebagaimana dikatakan Althusser (dalam Barker, 2009), bahwa idelogi memiliki dua ujung. Di satu sisi dunia adalah kondisi nyata kehidupan manusia dan disisi lain ideologi juga dipahami sebagai perangkat makna rumit yang menjelaskan dunia. Oleh karena itu, ideologi dapat dilihat sebagai sebuah gagasan pemikiran atau ide-ide yang berada pada wilayah kebudayaan yang melahirkan karya seni.
        Demikian pula ketika ideologi seseorang bersentuhan dengan suatu kepercayaan terhadap yang menjadi ideologi baik bersifat individualistis maupun kolektif, maka akan menjadi sebuah filosofi. Filosofi ini akan menjadi suatu kebenaran logika, estetika, metafisika, dan epismetologi, maka akan berubah menjadi pengetahuan yang didasarkan pada akal budi mengenai hakikat yang ada, sebab, asal dan hukumnya. Dengan demikian hubungan antara pemikiran, ideologi dan filosofi tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena ketiganya merupakan kesatuan proses yang utuh didalam alam pikir seorang pelukis.
          Oleh karena itu, dalam analisis berikut ini akan dibahas menurut bentuk peristiwa atau fenomena budaya yang melatar belakangi para pelukis “Pasren” dalam berkarya. Berhubung dengan banyaknya keragaman hasil karya seni lukis yang ditemukan dalam organisasi “Pasren”, maka akan diambil beberapa sampel yang relevan dan disesuaikan dengan bentuk peristiwa atau fenomena tersebut.
       Sebagai contoh, Karya Joko SP (47 th) berjudul “Pemandangan Tanah Alam Toraja” yang dilukiskan secara Naturalisme tampak memperlihatkan dengan jelas kepada kita, bahwa pelukisnya memiliki latar belakang pemikiran tentang keindahan dalam proses berkarya.
       Latar belakang keindahan yang menempatkan kecantikan wanita sebagai objek adalah lukisan hasil karya Winarno GN (63 th) berjudul “Joget”. Mengamati hasil karya lukis tersebut, pelukisnya tampak berantusias ingin menampilkan simbol-simbol budaya dan alam lingkungan yang dijadikan background yang memenuhi bidang lukisnya. Berdasarkan simbol-silmbol tersebut dapat diketahui sebuah pemikiran pentingnya melestarikan kebudayaan yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Lukisan ini tentunya bisa mewakili sebuah ideologi budaya bangsa bisa dikaitkan dengan simbol-simbol, misalnya umbul-umbul berupa kain berwarna merah putih menunjukkan dengan jelas penciptaan di dalam lukisan tersebut dipengaruhi oleh ideologi negara. Objek-objek berupa flora dan fauna sebagai tanda-tanda dan sekaligus simbol yang mengakomoditasi pemikrian untuk mengajak pengamatnya ikut menjaga kelestarian lingkungan alam sebagai bagian dari kesemestaan alam ciptaan Allah. Rupanya Karang Sasongko (49 th) juga ingin menyampaikan sebuah pemikiran, bahwa kesemestaan alam ciptaan Tuhan itu misteri. Menurutnya penggalan hutan itu menandakan, bahwa manusia itu hanya mengerti sedikit tentang ciptaan Allah. Anggapan ini seperti yang dikatakan pada konsep ciptaannya yang telah disebutkan di atas.
       Berdasarkan konsep penciptaan tersebut dapat dipahami, bahwa Karang Sasongko memiliki suatu ideologi ketuhanan yang diwujudkan dalam bentuk kecintaannya kepada alam semesta. Dia juga menyarankan, jika ingin tahu lebih banyak tentang misteri alam ciptaan Tuhan, maka harus dapat mengamati, menggali, memahami, dan menghayatinya.
        Pemikiran tentang penderitaan kehidupan masyarakat kecil seperti tampak karya Realisme hasil karya Joko Temin (33 th) berjudul “Pekundi” dan karya Cak Min (39 th) berjudul “Milihi Mbako”. Kedua karya ini memiliki persamaan pemikiran, bahwa hidup harus bekerja dan bekerja dan bekerja itu untuk hidup. Sementara perbedaan pemikiran kedua pelukis ini adalah jika pada lukisan “pekundi” bekerja dengan kemandirian yang cenderung berkreasi sedangkan pada lukisan “Milihi Mbako” itu bekerja untuk orang lain atau sebuah pabrik tembakau.
       Kedua karya itu memiliki ideologi dua ujung. Seperti yang dikatakan Althusser (2010), bahwa ideologi di satu sisi adalah kehidupan nyata manusia yang meliputi pandangan dunia yang menjadi landasan orang untuk hidup dan menyelami dunia ini. Ideologi ini tampak pada karya Joko Temin yang dianggapnya di balik kesederhanaan seorang pengrajin gerabah memiliki pandangan hidup yang cukup luas untuk menunjukkan keberadaan hasil karyanya. Gerabah merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan atau merefleksikan hasil karya budaya tradisional yang memiliki ciri khas bagi penikmatnya bisa jadi juga orang asing. Di sisi lain, ideologi mengajarkan bekerja untuk menerima dan tunduk kepada eksploitasi mereka. Pernyataan itu dapat untuk menyoroti kandungan ideologi pelukis Cak Min yang membidik objek para buruh wanita yang bekerja pada sebuah pabrik tembakau di Klaten seperti tersebut diatas.
        Tampaknya sebuah pemikiran yang mengkhususkan, bahwa gunung Merapi memiliki pesona dan misteri tersendiri bagi masyarakat Klaten. Oleh karena itu, dua pelukis “Pasren” beraliran Impresionisme berikut ini mengangkat gunung Merapi sebagai objek lukisannya. Dua pelukis yang dimaksud adalah Kus Indra (43 th) yang melukiskan lukisannya berjudul Lembah Merapi dan Kapten Suwarto (55 th) berjudul “Pesona Merapi”. Pemikiran kedua, pelukis ini dilandasi oleh keindahan dan keunikan gunung Merapi. Keindahan gunung dapat dianalogikan dengan filosofi Jawa yang berbunyi Sri Gunung artinya gunung itu keindahannya akan tampak bagus jika dilihat dari kejauhan, tapi ketika didekati sama sekali tidak ada bentuk seperti yang dilihat dari jarak jauh itu.
        Ketika pemikiran tersebut berubah menjadi sebuah ideologi, maka gunung Merapi menjadi simbol yang perlu ditempatkan dari sisi fungsi atau kemanfaatannya bagi manusia. Maka, ketika gunung itu dirusak kemanfaatan itu juga akan berubah menjadi bencana alam. Dengan demikian,  lukian objek gunung Merapi itu mempunyai misi ideologi berupa sebuah ajakan pada orang lain untuk memulihkan keseimbangan alam.
        Simbol keharmonisan keluarga yang tampak pada karya GM. Sudarta (66 th) berjudul “Bapa, Ibu lan Putra Kinasih memiliki latar belakang pemikiran dan ideologi tersendiri. Pesan yang disampaikan dalam lukisan karya GM. Sudarta merupakan sebuah pemikiran mengajak penikmatnya untuk mencintai keluarganya sebagai simbol kecintaannya kepada Allah. Di sisi lain, latar belakang kehidupan beragama yang dipengaruhi oleh dogma “trinitas” katholik yang sebelum dia mualaf beragama islam. Objek bapa dianalogikan sebagai simbol Allah, ibu sebagai simbol Bunda Maria, dan putra itu sebagai simbol anak yaitu Yesus Kristus yang tersatukan secara harmonis melalui rohul kudus.
        Selanjutnya adalah pemikiran Jaya Adi (51 th) dalam karya lukisnya yang berjudul “Oprasi Semar” menujukkan kepekaannya terhadap kondisi negara yang carut marut yang disebabkan oleh ketidak tuntasan pemerintah dalam mengelola pemerintahan dan mensejahterakan rakyat. Menurutnya, dari ketidaktuntasan itu menyebabkan terkoyaknya ideologi politik di Indonesia muncul berbagai kerusuhan diberbagai daerah, bahkan tidak sedikit yang ingin melepaskan diri dari NKRI. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan negara itu perlu diadakan “ruwatan” dengan mengoprasi semar sebagai simbol bersatunya antara rakyat dan pemimpinnya
        Di sisi lain, pemikiran Sugito Slamet (50 th) dalam lukisannya yang berjudul “Bima Melawan Naga Nemburnawa” merupakan perwujudan dari ideologi perjuangan seorang satria dalam tokoh pewayangan bernama Bima. Dalam cerita pewayangan, Bima yang mempunyai nama lain Werkudara adalah salah seorang satria dari pandawa lima yang menjadi murid guru Durna. Tampaknya filosofi dalam dunia pendidikan dan keprofesian guru yang berbunyi “guru kuwi kudu bisa digugu lan ditiru”  (guru itu harus bisa menjadi panutan dan contoh) baik perbuatan, sikap dan  tingkah lakunya bagi setiap siswa didiknya.
        Bima tidak membantah ketika diutus oleh guru Durna untuk mencari tirta perwitasari (air suci kehidupan). Setelah sekian lama mencari sampailah Bima di tengah lautan luas dan bertemu rintangan, yakni diserang oleh seekor naga yang sangat besar bernama Naga Nemburnawa. Kemudian keduanya bertarung sampai titik  darah penghabisan dan akhir dari pertarungan itu dimenangkan oleh Sang Bima.  Di saat itulah Bima mendapat ilmu yang paling tinggi, dia bertemu dengan Dewa Ruci yang berbentuk bayangan miniatur wajah dirinya sendiri. Dalam dialog dengan Dewa Ruci itulah sang bima mendapat jawaban atas perintah gurunya tersebut. Kemudian Sang Bima menghadap guru Durna untuk menyampaikan hasil pencarian tirta perwitasari tersebut. Pada akhirnya Bima disambut guru Durna dengan penuh keheranan dalam hatinya dan dinyatakan lulus ujian dalam mencapai kesempurnaan hidup sejati sebagai seorang satria yang kuat mandraguna tiada tanding.
        Pemikiran selanjutnya adalah mengenai kepolosan seorang bocah seperti tampak pada lukisan ekspresionisme hasil karya Samina (40 th) yang berjudul “Walk Together”.  Walaupun antara judul dan objek lukisannya terasa tidak ada kesatuan, namun tampak pelukisnya ingin memberikan sebuah opini pemikiran pada pengamatnya. Sesuai judulnya, kata walk together jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “jalan bersama”. Sementara objek yang ditampilkan hanya seorang bocah, maka pemikiran yang kebersamaan itu hanya menjadi sebuah ideologi harapan saja terhadap pentingnya hidup bersama akan melahirkan kebaikan bagi semua orang. Harapan inilah yang menjadi lamunan seorang bocah yang memperlihatkan tatapan matanya penuh harapan   seperti tampak pada objek lukis tersebut. Kepiawaian Samina dalam karya lukisnya ini adalah dapat mendiskonstruksikan antara objek dan situasi kebersamaan yang tidak tampak pada lukisan itu, namun bisa jadi bentuk objek kebersamaan terlihat oleh objek anak di kejauhan sana sebagai bentuk filosofi gotong royong atau “bersama kita bisa” dalam kehidupan bermasyarakat.
Berbeda dengan karya Yoyok WB Besur (40 th) yang berjudul “Ndonga”. Tampak jelas ideologi yang ditampilkan pelukisnya, yakni ideologi keagamaan. Hal ini didukung oleh bentuk objek biksu dan biksuni yang dilukiskan dengan penuh ekspresi dan suasana ritual dalam agama budha dengan sangat jelas. Di samping itu, lukisan ini memberikan kesan, bahwa suasana ritual itu membutuhkan waktu yang tenang tanpa gangguan. Dengant eknik hitam putih saja bisa memberikan kesan ketenangan suasana malam hari untuk mencapai kesempurnaan hidup. Sebagaimana filosofi dalam agama Budha yang dituliskan dalam kitab lalitavistara, bahwa manusia hidup perlu kesucian hati, manusia hidup perlu kedamaian hati, dan manusia hidup perlu ketenangan hati. Dengan demikian lukisan ini sangat tepat untuk mengangkat objek ketenangan hati seorang penganut agama Budha.
       Lukisan surealisme hasil karya Sigit GP (49 th) berjudul “Sebuah Harapan” menunjukkan adanya pemikiran tentang harapan kedamaian dunia. Pemikiran ini memungkinkan adanya ideologi kemanusiaan, bahwa setiap orang membutuhkan kedamaian hati maupun kedamaian antar manusia. Artinya manusia tidak bisa terlepas dari hubungan dengan manusia lain maupun hubungannya dengan alam semesta.
        Masih mengenai persentuhan dengan  objek-objek dalam lukisan Surealisme, Phepen Parjimin mengangkatnya ke atas kanvas dengan judul “Menyatu” Dalam lukisan ini tampak pelukisnya ingin mengajarkan pemikiran tentang kebersatuan yang menyatu, maka terwujudlah suatu kesatuan objek yang backgroundnya sampai tidak jelas. Dengan ketidakjelasan ini justru melahirkan suatu produk lukisan yang unik dan menarik.
        Visualisasi dari peristiwa mimpi bisa juga dilihat pada karya Heri Cahyono (34 th) berjudul “Tak Ada Gading yang Tak Retak”. yang berbentuk sepotog gading gajah. Objek itu merupakan buah pemikiran Heri Cahyono yang dipengaruhi oleh bunyi pribahasa dalam bahasa Indonesia. Namun, untuk meperlihatkan kesurealismenya, objek gading itu digambarkan dengan guratan-guratan tekstur yang sanagt kentara sekali yang mungkin bertujuan untuk menyembunyikan bentuknya.
        Lukisan hasil karya Heri Cahyono menunjukkan ideologi, bahwa orang itu tidak boleh sombong karena manusia itu tidak sempurna, sedikit atau banyak pasti memiliki kekurangan. Kesempurnaan sejati hanya dimiliki oleh Tuhan seperti yang dituliskan pada huruf Arab berbunyi “Allah” secara samar-samar dibagian atas bidang lukisan tersebut. Dengan demikian yang ingin disampaikan pelukis ini adalah nilai-nilai ideologis agama yang mengagungkan kekuasaan Tuhan.
        Lukisan corak Kubisme yang berjudul Panglima Sudirman hasil karya Ansori (51 th). Lukisan ini digarap dengan teknik berbahan pecahan-pecahan keramik atau biasa disebut mozaik. Dalam lukisan itu terdapat dua latar belakang pemikiran, yakni latar belakang sejarah dan latar belakang pemberdayaan barang limbah lingkungan.
        Objek Jenderal Sudirman menunjukkan adanya latar belakang sejarah, karena sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Jenderal Sudirman merupakan tokoh nasional yang memiliki kesejarahan sebagai seorang tokoh perang gerilya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
        Latar belakang pemikiran sejarah ternyata dapat membawa penikmatnya pada sebuah ideologi negara dalam menghadapi ancaman dari luar yaitu penjajah yang ingin menguasai bumi Indonesia kembali. Seperti tersirat dalam filosofi Jawa “rawe-rawe rantas malang-malang putung” yang artinya segala sesuatu yang menjadi hambatan atau gangguan harus diberantas dan segala sesuatu yang akan menghalangi perjuangan harus dipatahkan atau dituntaskan sampai akar-akarnya. Oleh karena itu, negara dalam situasi kondisi apapun maka harus dibela oleh semua warga negaranya.
        Permainan politik negara rupanya bisa memberikan inspirasi dan pemikiran sebuah analogi permainan pula, seperti tampak pada lukisan kubisme hasil karya Budi Budek’s (38 th) berdujul “Ular Tangga”. Oleh pelukisnya karya itu diakuinya sebagai sindiran terhadap jalannya pemerintahan suatu negara itu tidak ubahnya sebuah permainan ular tangga yang di dalamnya syarat saling menggulingkan untuk mencapai kekuasaan. Sebagaimana Budek’s mengungkapkan: “ kita ini hanya menjadi korban permainan para penguasa di atas; di ibukota negara sana. Dari ungkapan itu, dapat dipahami terdapat hubungan timbal-balik antara pemimpin negara dan rakyatnya yang notabene sebagai tanda terimakasih atas dukungan rakyat dalam pemilu.
        Lukisan kaligrafi berjudul “Pengorbanan” hasil karya Suwardi Harris” (57 th) tampaknya merupakan hasil refleksi pemikiran seperti diuraikan di atas. Karya ini dipesankan oleh pelukisnya, bahwa sekecil apapun setiap orang apalagi seorang pemimpin harus memiliki nilai pengorbanan untuk kepentingan umum. Mengutip sebuah hadis shahih Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain” Di sisi lain pengorbanan bisa menjadi sebuah filosofi Jawa, “jer basuki mawa beya” artinya untuk mencapai sebuah cita-cita itu membutuhkan pengorbanan bisa berupa harta, tenaga, atau setidaknya pengorbanan perasaan hati.
        Dengan demikian pengorbanan itu ada yang bersifat material dan spiritual. Apabila bersifat material, maka bisa langsung dikeluarkan bentuk pengorbanan itu misalnya berbentuk sedekah uang atau bahan makan. Namun apabila bersifat spiritual dapat memberikan motivasi pada seseorang yang hampir putus asa. Maka, dibutuhkan kecerdasan pencarian sasaran yang akan dibantu.
        Latar belakang pemikiran filosifis seperti itu telah diangkat oleh Adi Prawito kedalam karya lukisnya yang berjudul “Pencarian”. Lukisan abstrak sederhana yang hanya berobjek segitiga itu menawarkan bermacam pemikiran yang harus dicari bagi pengamatnya. Secara tersirat sebuah ideologi pelukisnya yang memberikan alternatif pilihan untuk mengambil sikap hidup baik itu di jalan hidup yang benar maupun yang salah.
        Untuk dapat menentukan pilihan, seseorang menyiapkan diri memiliki mental dan kekuatan batin agar tidak keliru mengambil jalan yang salah dan tersesat. Bagi seorang pelukis kekuatan batin itu dapat menjadi dasar utama untuk melahirkan sebuah hasil karya yang merupakan refleksi dari sebuah pilihan antara baik dan buruk seperti telah disebutkan di atas.
       Seorang pelukis Abstrakisme Bambang Pujiono (52 th) yang meletakkan kekuatan batin dalam berkarya seperti tampak pada lukisannya berjudul “Power”. Kata power diartikan sebagai kekuatan batin untuk menyikapi terhadap fenomena kehidupan dan kesemestaan ciptaan-Nya. Bambang Pujiono dalam melukis dilatarbelakangi oleh pemikirannya tentang persoalan dan makna kehidupan semesta. Unsur-unsur seni rupa yang dituangkan ke atas kanvasnya dianggapnya sebagai simbol untuk berkomunikasi pada pengamatnya.
        Dengan demikian, karya seni lukis seabstrak apapun  dalam konsep penciptaan tetap menjadi representasi pemikiran dan ideologi penciptanya. Bahkan, lukisan bergaya abstrak yang cenderung liar, ruwet, dan eksperimental oleh seorang pelukis dapat dijadikan sebagai media untuk menyindir sesuatu kondisi tertentu, misalnya kondisi jalannya pemerintahan yang berlangsung pada saat ini. Sebagai contoh, lukisan abstrak non-objektivisme berjudul “Potret Nagari” hasil karya Pitut Saputra (33 th). Karya ini oleh pelukisnya diakui sebagai cerminan kondisi negara yang carut marut tidak ada kunjung selesai. Hal ini ditandai dengan teknik melukisnya yang berupa tumpahan-tumpahan dan cipratan-cipratan minyak secara bebas, spontan, dan liar yang pada akhirnya menghasilkan sebuah lukisan tanpa objek. Dengan demikian, wujud lukisan abstrak hasil karya Pitut Saputra yang terlihat ruwet dan liar itu dapat dianalogikan sebagai sistem pemerintahan yang mengalami krisis multidimensi.
        Rakyat mendambakan kehalusan budi pekerti dalam menyikapi setiap persoalan yang terjadi saat ini. Kehalusan budi pekerti itu oleh Satya Budi Santosa dianalogikan dengan teknik melukisnya yang halus untuk menampilkan kesan cahaya, seperti pada luksiannya yang berjudul “Dini” (2005). Kehalusan teknik melukis itu tampaknya salah satu tujuannya adalah untuk mencapai kesan cahaya. Oleh karena itu, ketika melihat karya yang abstrak non-objektivisme tersebut terasa damai dan tenang.

Pemaknaan terhadap Perwujudan Keperbedaan dalam Keragaman Karya Seni Lukis “Pasren”

Untuk mengkaji makna keperbedaan dalam keragaman karya seni lukis “Pasren” harus menempatkan karya seni lukis sebagai tanda atau simbol sebagaimana telah diuraikan pada pembahasan bab sebelumnya, bahwa sebuah komposisi seni lukis adalah susunan yang merupakan susunan atau pengorganisasian dari unsur-unsur garis, shape (bidang), barik (tekstur), dan warna yang tersusun sebagai bentuk karya seni lukis. Lewat komposisi tersebut sebuah karya seni lukis akan memberikan informasi kesan dan makna. Maka, akan terjadi komunikasi antara pelukis dan pengamatnya melalui tanda-tanda atau simbol-simbol yang dihadirkan didalam bingkai lukisan tersebut.
          Karya seni lukis “Pasren” merupakan tanda atau simbol yang diciptakan pelukisnya, dalam hal ini berfungsi sebagai pengirim tanda atau simbol. Pada karya seni lukis, komposisi merupakan tanda pertama yang pokok dilihat pengamatnya, karena dapat mengkomunikasikan maksud seniman (dalam arti karya seni lukisnya kepada pengamat). Sebagai sebuah tanda atau simbol, komposisi dalam karya seni lukis “Pasren” merupakan penyusunan atau pengorganisasian dari unsur-unsur garis, bidang, warna, ruang, dan tekstur yang disusun dalam satu kesatuan. Demikian juga dengan unsur-unsur seni rupa itu sendiri merupakan tanda atau simbol yang memiliki maknanya masing-masing.
        Berdasarkan tanda atau simbol-simbol yang dikirimkan melalui setiap hasil karya melukis “Pasren” seperti telah diuraikan di atas, maka dalam analisis makna simbolis keperbedaan dan keberagaman karya seni lukis “Pasren” dapat diketahui ada tiga pokok pemaknaan. Tiga makna yang dimaksud antara lain: (1) makna ma’riifat; menganalisis atau membahas keseluruhan bentuk alam semesta cipataan Tuhan baik dari sisi keindahan maupun makna di balik keindahan alam tersebut. (2) makna kehidupan; yakni pemaknaan mengenai  segala bentuk kehidupan di masyarakat, khususnya masyarakat bawah dalam upaya memperjuangkan dan mempertahankan kehidupannya di tengah carut marutnya sistem pemerintahan dan (3) makna sosial-budaya; menganalisis dan membahas karya lukis “Pasren” yang mengangkat kehidupan sosial budaya yang berupa atraksi-atraksi seni  budaya sebagai unsur kebudayaan. Untuk mengetahui makna simbolis tersebut lebih mendalam, maka dapat diuraikan dalam pembahasan berikut ini.
        Setelah dilakukan pemaknaan yang diteruskan dengan penafsiran terhadap keperbedaan dalam keragaman karya sen lukis “Pasren”, maka ditemukan bentuk konsep trilogifiguratif yang berupa struktur tiga bidang dwimatra (horizontal) dalam wujud bidang segi tiga mendatar (trimandala) dan trimatra (vertikal) dalam wujud limas segitiga ke atas (triloka). Keduanya sebagai lambang atau simbol trihitakarana. Trihitakarana berarti tiga hubungan keselarasan atau keharmonisan, yakni tiga hubungan keselarasan adalah hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Tuhan. Berdasarkan konsep trilogifiguratif itu, maka dapat ditafsirkan sebuah korelasi antara tiga makna simbolis terhadap keragaman karya seni lukis “Pasren”, yakni makna ma’rifat, makna kehidupan, dan makna sosial-budaya dengan latar belakang konsep penciptaan seni lukis “Pasren” yang terdiri dari tiga hal, yakni latar belakang pemikiran, ideologi dan filosofi yang berpusat pada dzat Ghoib (Allah).

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa latar belakang kehidupan sosial-budaya yang melingkupi para pelukis “Pasren” sangat berpengaruh dalam proses penciptaan karya lukisnya.
       Keperbedaan latar belakang tersebut juga dapat melahirkan perwujudan corak dan gaya pada hasil karya seni lukis “Pasren”. Ketika corak dan gaya lukisan
itu dianalisis dan dilakukan pemaknaan, maka dapat ditemukan semacam jaring-jaring  makna yang sama, walaupun corak dan gayanya berbeda-beda. Makna yang dimaksud adalah makna ma’rifat, makna kehidupan dan makna sosial-budaya. Dari ketiga makna ini dapat dibuat pola limas segitiga yang disebut limas trilogifiguratif yang menjadi lambang tiga keselarasan (trihitakarana).
       Saran yang disampaikan, hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan sumbangan sekaligus menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam kaitannya dengan masalah kajian budaya. Lebih khusus lagi mengenai analisis seni lukis sebagai bagian dari kajian budaya dan seni rupa. Di samping itu, dapat memberikan inspirasi dan menambah referensi penelitian-penelitian berikutnya atau sebagai pembanding dalam penelitian budaya yang lain.   Saran praktis yang dapat diberikan adalah agar peneliti budaya dapat menerapkan teori yang dipakai untuk menganalisis, kemudian mencoba mencari kelebihan dan kekurangan teori tersebut yang selanjutnya berani menyampaikan pendapat sendiri sebagai penguatan ilmiah.






DAFTAR PUSTAKA

Barker, Chris. 2009. Cultural Studies (terjemahan Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Dharsono, (Sony Kartika). 2007. Budaya Nusantara: Kajian Konsep Mandala dan Konsep Triloka terhadap Pohon Hayat pada Batik Klasik. Bandung: Rekayasa Sains.

_____ . 1996. Penelitian Seni dengan Pendekatan Semiotik. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

Eco, Umberto. 2009. Teori Semiotika: Signifikasi Komunikasi, Teori Kode serta Teori Poduksi-Tanda. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Geertz, Clifford. 2004. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.          
Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

Laksmi, V. Kristanti Puri. 2009. Penelitian: Kajian Makna Simbolis Motif Batik Sidowirasat Surakarta. Surakarta: Institut Seni Indonesia.

Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS

Poespowardoyo, Soerjanto. 1989. Strategi Kebudayaan: Suatu Pendekatan Filosofis. Jakarta: Gramedia.

Poespoprodjo. 2004. Hermeneutika. Bandung: Pustaka Setia.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_____ 2007. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Setiadi, M.Elly, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.

Subiyantoro, Slamet. 2010. Antropologi Seni Rupa, Teori, Metode dan Contoh Telaah Analisis. Surakarta: UNS Press.

     Waseno, dkk. 1998. Pola Permukiman Tradisional Daerah Jawa Tengah: Kab. Sukoharjo, Boyolali, Klaten, Brebes dan Kodya. Semarang: Proyek Inventarisasi Nilai-nilai Budaya dan Dokumentasi Sejarah Peniggalan Purbakala Daerah Jawa Tengah.

Yatim, Badri. 1999. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Press.

No comments:

Post a Comment