MAKNA
DIFERENSIASI KARYA SENI LUKIS “PASREN”
DI KABUPATEN
KLATEN
Waluya1, Nanang Rizali2, Slamet Subiyantoro3
Magister Humaniora Program PASCASARJANA UNS
walvasc@gmail.com
Abstrak
Latar Belakang:“Pasren” (Paguyuban
Senirupawan Klaten) adalah organisasi kesenian yang beranggotakan para seniman
seni rupa yang berasal dari berbagai latar belakang sosial-budaya, pendidikan
dan pekerjaan di Kabupaten Klaten. Latar
belakang diferensiasi kehidupan sosial-budaya pelukis “Pasren” mungkin dapat melahirkan corak/gaya berbeda-beda dan memiliki
makna tertentu untuk dipahami.
Namun, tingkat pemahaman masyarakat
awam masih terbatas, akibatnya kurang apresiatif.
Tujuan penelitian ini
adalah mengkaji
kejelasan yang latar belakang
pemikiran, ideologi dan filosofis, perwujudan
dan pemaknaan keperbedaan dalam keragaman karya
seni lukis “Pasren”
Hasil: Setelah dilakukan analisis terhadap sejumlah karya seni lukis “Pasren”
ternyata diferensiasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Klaten
berpengaruh dalam konsep berkarya yang melahirkan keragaman corak dan gaya karya
seni lukis “Pasren” yang menjadi simbol
komunikasi budaya. Setiap karya seni lukis memiliki nilai
estetis, struktur dan makna yang berbeda-beda. Pemaknaannya, menunjukkan
adanya kesamaan berupa makna ma’rifat, makna kehidupan dan makna
sosial-budaya. Dalam penafsirannya ditemukan
bentuk konsep trilogifiguratif yang merupakan kesatuan bidang horizontal)
(trimandala) dan vertikal dalam wujud
limas segitiga ke atas (triloka) sebagai lambang
trihitakarana berarti
tiga hubungan keselarasan, yakni hubungan
manusia dengan manusia, manusia dengan alam
semesta, dan manusia dengan Tuhan. Berdasarkan konsep trilogifiguratif itu, maka dapat ditafsirkan sebuah korelasi antara
tiga makna berpusat pada dzat Ghoib
(Allah).
Kata Kunci: diferensiasi, seni
lukis, “Pasren”, makna.
PENDAHULUAN
Kebudayaan
adalah suatu kondisi sosial-budaya yang majemuk, kadang-kadang mengalami perbenturan
ideologis, tetapi juga ada yang malah saling mengisi di antara kemajemukan kebudayaan
tersebut. Budaya baru dapat terbentuk apabila terjadi interaksi kepentingan
bersama antar individu (Kayam, 1981). Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial
pada hakikatnya setiap individu ingin berkomunikasi dengan sesamanya. Untuk
menyampaikan suatu maksud agar bisa diterima orang lain, maka secara konsensus
dapat dilakukan melalui simbol tertentu dalam berkomunikasi. Dalam sibernetika sistem
sosial –budaya, menurut Talcot Parson
(dalam Waseno, 1998), kebudayaan menjadi dasar bagi sistem-sistem yang lebih
rendah tingkatannya, yaitu sistem sosial, sistem kepribadian dan sistem
organis. Berbeda budaya seni yang
dapat diamati hanyalah gejalanya
saja.
Artinya, karya seni sebagai produk
kebudayaan dapat dimaknai sebagai gejala perwujudan status kepribadian dalam
masyarakat.
Berdasarkan
keanekaragaman karya seni yang dikenal di dalam masyarakat sepanjang zaman,
maka seperti yang diperkirakan Sedyawati (2006), bahwa posisi seni dalam
masing-masing masyarakat tersebut dapat berbeda-beda yang dapat memaknai sebagai bagian dari
kebudayaan. Sebagaimana
dikatakan Poespowardojo (1989), bahwa usaha ini terlaksana dengan memberikan
makna manusiawi kepada materi atau benda seni yang diolahnya dan membuat tata
kehidupan masyarakat menjadi manusiawi di samping juga sebagai manifestasi
kepribadian suatu masyarakat.
Kebudayaan
sebagai akar seni telah menumbuhkembangkan cabang-cabang seni seperti seni
rupa, seni musik, seni tari, seni teater dan seni sastra. Seni rupa termasuk
salah satu cabang seni dapat ditempatkan sebagai substansi kajian budaya. Seni
rupa hanyalah bagian dari unsur seni yang keberadaannya sama dengan
cabang-cabang seni lainnya. Ia bukan sekedar objek yang terpisah dengan
subjeknya (perupa) apalagi latar subjeknya. Seni penuh nilai dan makna; bukan
kuantitas tetapi kualitas, posisinya ada dalam wilayah kebudayaan (Subiyantoro, 2010). Sebagai salah satu
ranting seni rupa, seni
lukis hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai media ungkapan simbolis. Proses penciptaannya
tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan
diferensiasi sosial-budaya melahirkan beranekaragam
corak dan gaya pada hasil karya lukisnya. Seni lukis ditujukan sebagai tolok
ukur nilai estetika, tanpa mengurangi fungsi sebagai bahasa rupa untuk
menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dengan demikian setiap corak dan gaya
lukisan tersebut dapat memberikan stimulan dan motivasi bagi pengamatnya untuk
mengetahui, meneliti, dan mengungkap makna simbolis dari karya tersebut.
Simbol
merupakan salah satu istilah yang sangat banyak digunakan dalam ilmu humaniora
(Ratna, 2007).
Dengan cara masuk ke dalam tatanan simbolis inilah subjek terbentuk. Di luar
tatanan simbolis hanya ada psikosis. Menurut Lacan (Barker, 2000), simbolis
adalah suatu struktur bahasa dan makna sosial yang diterima yang bersifat
melingkupi. Maka, komunikasi
antar budaya sangat diperlukan untuk dapat memaknai simbol-simbol seni tersebut oleh Liliweri (2003) disebutnya ‘komunikasi
sebagai aktivitas simbolis’, Analogi lain dapat dicontohkan pada seorang pelukis yang
mengalihkan percakapannya pada pengamatnya melalui karya lukisnya sebagai
simbol komunikasi.
Ketika suatu
kelompok individu bertemu dalam persamaan profesi dan persepsi, maka mereka
berkeinginan untuk membangun suatu simbol identitas kelompok yang biasa disebut
organisasi. Ferdinand Tonnies (dalam Setiadi, 2006) mengemukakan, bahwa terbentuknya organisasi
yang dilandasi atas kepentingan bersama untuk mewujudkan tujuan tertentu dapat
disebut paguyuban. Maka, sebagai pengikat kebersamaan dalam
berkarya para
seniman membentuk organisasi kesenian. Salah satunya adalah “Pasren” (Paguyuban
Senirupawan Klaten), yaitu organisasi kesenian yang beranggotakan para seniman
seni rupa yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, agama,
pekerjaan, dan asal daerah di Kabupaten Klaten.
Keberagaman latar belakang sosial-budaya masyarakat Klaten
sangat mewarnai diferensiasi karya seni lukis yang mereka tampilkan melahirkan corak dan gaya dalam lukisan
yang berbeda-beda yang bersifat ideoantropologis.
Secara
ideoantropologis setiap individu
memiliki paradigma dan ideologi masing-masing sebagaimana paparan Althusser
(dalam Barker,
2009) berikut.
“Ideologi
adalah pengalaman yang dijalani. Di sisi lain,
ideologi juga dipahami sebagai seperangkat makna rumit yang menjelaskan dunia…
Ideologi dikatakan mempresentasikan hubungan imajiner individu dengan kondisi
eksistensi nyata mereka”.
Dengan
demikian setiap pelukis cenderungmempresentasikan
pemaknaan atas keadaan dan peristiwa yang mereka alami, misalnya pemaknaan
sebab-akibat kebijakan pemerintah, lingkungan hidup, sosial budaya, keagamaan,
dan sebagainya.
Maka, tulisan ini bertujuan untuk
mengetahui perwujudan keperbedaan dalam keragaman karya seni “Pasren” itu
memiliki makna yang dilatarbelakangi oleh diferensiasi kehidupan sosial-budaya
masyarakat dan
untuk untuk mengetahui cara pemaknaannya.
Lebih khusus tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kejelasan
yang latarbelakang pemikiran, ideologi dan
filosofis, perwujudan makna keperbedaan
dalam keragaman karya seni lukis “Pasren” dan bagaimana pemaknaannya.
Berdasarkan penelusuran pada beberapa perpustakaan, studi
ilmiah tentang diferensiasi seni yang berlatar belakang keberagaman
sosial-budaya, hingga kini belum banyak dilakukan. Lebih-lebih terhadap tema
diferensiasi karya seni lukis dalam khazanah kajian budaya. Bahkan dapat dikatakan, bahwa data sekunder yang
dapat menunjang penelitian ini masih terbatas. Walaupun demikian, dalam penelusuran berbagai sumber pustaka
telah ditemukan beberapa tulisan ilmiah mengenai kajian seni lukis sebagai
berikut.
(1) Penelitian yang dilakukan Sujatmiko (2006) yang tercermin
pada judul Perbedaan Teknik Melukis Anak
Binaan pada Sanggar Bambu di Yogyakarta. Dengan
paradigma aksiologi dan pendekatan strukturalisme, memperoleh temuan, yakni (a) Walaupun teknik melukis pada
Sanggar Bambu telah diberikan secara sama, namun pada kenyataannya telah
terjadi perbedaan teknik melukis antara pelukis yang satu dengan yang lainnya.
(b) Perbedaan kebanyakan disebabkan oleh tingkat pemahaman dan ketrampilan
mengolah media lukis.
(2) Karya ilmiah berjudul Penelitian Seni dengan Pendekatan Semiotik
yang ditulis Dharsono (1996) dosen ISI Surakarta bertujuan ingin mengenalkan, bahwa teori semiotika
dapat dijadikan pendekatan terhadap kajian seni. Walaupun rumusan masalahnya
tidak begitu jelas, dapat diketahui fokus kajiannya adalah menganalisis empat
karya seni lukis yang berbeda-beda corak dan gayanya.
(3) Penelitian ilmiah yang
dilakukan oleh V.Kristanti Putri Laksmi (2009) yang juga seorang dosen ISI
Surakarta, berjudul Kajian Makna Simbolis
Motif Batik Sidowirasat Surakarta
ini mengkaji makna simbolis garis pola-pola batik
pembentuk motif batik Sidowirasat tersebut.
menggunakan pendekatan teori Ernest Cassier yang menjelaskan, bahwa manusia
adalah animal symbolicum, makhluk
yang dapat mengerti dan menggunakan simbol-simbol (tanda-tanda). Kesimpulan yang dalam
menjawab masalah adalah, bahwa motif Sidowirasat
merupakan salah satu motif batik yang digunakan atau dipakai pada upacara
perkawinan, baik di dalam maupun di luar Kraton.
Berdasarkan
temuan beberapa penelitian mengenai kajian seni rupa atau lebih khusus seni
lukis di atas, menunjukkan adanya persamaan dalam hal metodologi penelitian,
misalnya: objek yang diteliti,
pendekatan dan paradigmanya. Namun, dari segi fokus, substansi dan permasalahan
yang diangkat tetap berbeda. Beberapa
temuan dalam penelusuran perpustakaan tersebut di atas dan beberapa pernyataan
dalam buku-buku rujukan dapat dijadikan kajian pustaka dan diupayakan berkaitan
dengan proses pengambilan data awal, membangun konsep, memperoleh metoda,
membangun atau memperoleh teori, dan untuk memposisikan penelitian ini sebagai
kajian ilmiah yang orisinalitasnya dapat dipertanggungjawabkan.
METODE
PENELITIAN
Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Klaten selama kurang-lebih 6
bulan mulai Januari sampai Juli 2012. Sebagai bagian
dari kawasan wilayah kebudayaan, Kabupaten Klaten terletak di lintasan antara
dua ‘kota budaya’ Yogyakarta dan Solo (Surakarta) Popinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan
data monografi tahun 2011,
Kabupaten Klaten luas wilayahnya 65.556 Ha, terdiri dari lahan pertanian sawah
36.781 Ha, bukan sawah 6.383 Ha dan selebihnya untuk pemukiman penduduk,
pertokoan, dan tempat industri. Secara geografis, kondisi iklim kabupaten
Klaten sub tropis, terletak antara 110.30o - 110.45o bujur timur dan antara
7.30o - 7.45o lintang selatan. Wilayah
Kabupaten Klaten terbagi atas tiga dataran, yakni sebelah utara merupakan
dataran lereng gunung Merapi, sebelah timur membujur ke barat termasuk dataran
rendah dan sebelah selatan merupakan dataran gunung kapur. Kondisi geografis
itu memberikan karakter tanah di setiap wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten.
Penelitian jenis
kualitatif ini dirancang dengan menggunakan paradigma Tafsir Kebudayaan Clifford Geertz..
Sesuai hakikat keilmuan, Tafsir Kebudayaan sebagai teori tafsir yang adalah
ilmu yang bersifat interpretatif untuk mencari makna (Geertz, 2004). Penelitian
bersifat terbuka, perubahan dianggap sebagai nilai tambah, bukan kegagalan.
Oleh karena itu, penelitian tidak menggunakan hipotesis dan variabel yang
dirinci secara eksplisit, maka menggunakan teori pendukung yang lain. Teori pendukung yang
digunakan adalah teori Semiotika; suatu teori formal yang disesuaikan dengan
hakikat objek, yakni seni lukis yang dianalogikan sebagai teks bahasa (baca:
bahasa rupa) dan sebagai sistem tanda dan simbol yang perlu dimaknai secara bebas atau arbitrair
(Eco, 2009).
Sesuai
hakikat metode analisis penelitian kualitatif, maka penelitian ini menggunakan
pendekatan hermeneutika. Pendekatan
ini memungkinkan seseorang bebas menafsirkan karya seni lukis menurut
pemahamannya sendiri secara kritis
(Poespoprodjo, 2004).
Ruang
lingkup penelitian meliputi seluruh anggota “Pasren”. Namun, untuk memberikan
gambaran keperbedaan dalam keragaman lukisan, maka sesuai diambil sampel
purposif yang teridentifikasi berdasarkan corak dan gaya yang dikaitkan dengan
latar belakang sosial-budaya dari pelukis anggota ‘Pasren’.
Untuk
mendapatkan informasi tentang data-data di lapangan, maka pertama ditentukan beberapa wakil
kelompok yang disebut informan atau narasumber. Untuk mendapatkan data-data
yang akurat, maka ditentukan dua jenis informan yakni informan pangkal dan
informan kunci.
Informan
pangkal pada umumnya satu orang, yang namanya sudah diketahui oleh peneliti
terlebih dahulu. Melalui informan pangkal ini, akan ditentukan nara sumber
lain. Dengan demikian, informan pangkal merupakan petunjuk teknik bola salju
untuk menjadi petunjuk bagi informan-informan yang lain secara berantai.
Sementara, informan kunci adalah narasumber utama (bisa lebih dari satu orang)
dengan nama-nama dan keahliannya masing-masing yang diduga dapat memberikan
informasi yang memadai terhadap objek penelitian.
Kedua,
arsip/ dokumen
berupa beberapa jenis dokumen yang berkaitan dengan dokumen yang ada di
lapangan baik formal dan informal. Dokumen formal berupa surat-surat resmi,
misalnya surat keputusan yang berkaitan dengan sejarah dan ijin pendirian
organisasi “Pasren”. Dokumen informal berupa notulen rapat, kumpulan katalog
pameran, foto-foto dokumen kegiatan, dan catatan-catatan lainnya yang
mendukung,
Secara
garis besar pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan empat
teknik, yaitu: a), wawancara mendalam
b), observasi langsung, c)
analisis dokumen, dan d) teknik cuplikan. Teknik analisis data mencakup tiga
langkah, yakni reduksi, kategorisasi, sintesisasi, dan menyusun ‘hipotesis
kerja’. Hasil analisis data disajikan secara informal; secara deskriptif yaitu
melalui kata-kata, kalimat, dan bentuk-bentuk narasi yang lain. Penyajian
secara formal; baik melalui diagram maupun tabel hanya bersifat sebagai
pelengkap.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil
penelitian mendapatkan temuan berupa keberagaman bentuk
kehidupan sosial-budaya masyarakat
di Kabupaten Klaten, misalnya kehidupan
pertanian, perkebunan, industri kerajianan rakyat, keagamaan atau aliran
kepercayaan, pendidikan, perdagangan dan adat-istiadat. Latar belakang
kehidupan sosial-budaya berpengaruh
dalam konsep berkarya yang melahirkan keragaman corak dan gaya hasil karya seni
lukis “Pasren”. Corak dan gaya karya
seni lukis tersebut menjadi simbol komunikasi budaya dan bahasa rupa antara
pelukis dan pengamatnya. Setelah dilakukan analisis terhadap sejumlah hasil
karya seni lukis “Pasren” dapat diketahui adanya perbedaan proses dan teknik
berkarya yang menyebabkan
terjadinya keperbedaan corak dan gaya yang masing-masing memiliki nilai
estetis, struktur dan makna yang berbeda pula. Namun,
berdasarkan
hasil pemaknaan terhadap beberapa karya
seni lukis “Pasren”,
menunjukkan adanya keterkaitan
dan kesamaan makna antara karya seni lukis satu dengan lainnya yang terbentuk oleh adanya
latar belakang pemikiran, ideologi dan filosofis pelukis “Pasren” dalam
berkarya seni lukis yang berwujud corak
dan gaya misalnya: Naturalisme, Realisme, Impresionisme,Romantisme,Ekspresionisme,Surealisme, Kubisme dan Abstrakisme.
Latar Belakang Penciptaan dan
Perwujudan Keperbedaan dalam Keragaman Karya Seni Lukis “Pasren”
Sebagaimana
kebanyakan para pelukis dalam berkarya tentunya tidak bisa terlepas dengan
pengalaman-pengalaman kehidupannya
yang berpengaruh terhadap pemikiran fenomena budaya yang
terjadi baik yang bersangkut paut dengan kisah hidupnya sendiri maupun yang
mengenai orang lain. Kecenderungan dari yang akan berakumulasi bersama dengan
pemikiran manusia dapat menumbuhkan sebuah ideologi pada diri seorang pelukis.
Pertumbuhan ideologi pada
setiap diri seorang pelukis apabila dihubungkan dengan fenomena budaya, maka
ideologi memiliki karakter dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Artinya,
keberadaan ideologi itu didukung oleh individu atau kelompok. Sebagai contoh,
ideologi Islam didukung oleh golongan santri, komunisme didukung kelompok
abangan dan nasionalisme sekuler didukung oleh kepompok priyayi (Yatim, 1999). Dengan demikian, sebagaimana dikatakan Althusser
(dalam Barker, 2009), bahwa idelogi memiliki dua ujung. Di satu sisi dunia
adalah kondisi nyata kehidupan manusia dan disisi lain ideologi juga dipahami
sebagai perangkat makna rumit yang menjelaskan dunia. Oleh karena itu, ideologi
dapat dilihat sebagai sebuah gagasan pemikiran atau ide-ide yang berada pada
wilayah kebudayaan yang melahirkan karya seni.
Demikian
pula ketika ideologi seseorang bersentuhan dengan suatu kepercayaan terhadap
yang menjadi ideologi baik bersifat individualistis maupun kolektif, maka akan
menjadi sebuah filosofi. Filosofi ini akan menjadi suatu kebenaran logika,
estetika, metafisika, dan epismetologi, maka akan berubah menjadi pengetahuan
yang didasarkan pada akal budi mengenai hakikat yang ada, sebab, asal dan
hukumnya. Dengan demikian hubungan antara pemikiran, ideologi dan filosofi
tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena ketiganya merupakan kesatuan
proses yang utuh didalam alam pikir seorang pelukis.
Oleh karena itu, dalam analisis
berikut ini akan dibahas menurut bentuk peristiwa atau fenomena budaya yang
melatar belakangi para pelukis “Pasren” dalam berkarya. Berhubung dengan
banyaknya keragaman hasil karya seni lukis yang ditemukan dalam organisasi
“Pasren”, maka akan diambil beberapa sampel yang relevan dan disesuaikan dengan
bentuk peristiwa atau fenomena tersebut.
Sebagai
contoh, Karya Joko SP (47 th) berjudul “Pemandangan Tanah Alam Toraja” yang dilukiskan secara Naturalisme tampak memperlihatkan dengan
jelas kepada kita, bahwa pelukisnya memiliki latar belakang pemikiran tentang
keindahan dalam proses berkarya.
Latar
belakang keindahan yang menempatkan kecantikan wanita sebagai objek adalah
lukisan hasil karya Winarno GN (63 th) berjudul “Joget”. Mengamati hasil karya
lukis tersebut, pelukisnya tampak berantusias ingin menampilkan simbol-simbol budaya
dan alam lingkungan yang dijadikan background
yang memenuhi bidang lukisnya. Berdasarkan simbol-silmbol tersebut dapat
diketahui sebuah pemikiran pentingnya melestarikan kebudayaan yang menjadi
kebanggan bangsa Indonesia. Lukisan ini tentunya bisa mewakili sebuah ideologi
budaya bangsa bisa dikaitkan dengan simbol-simbol, misalnya umbul-umbul berupa
kain berwarna merah putih menunjukkan dengan jelas penciptaan di dalam lukisan
tersebut dipengaruhi oleh ideologi negara. Objek-objek berupa flora dan fauna
sebagai tanda-tanda dan sekaligus simbol yang mengakomoditasi pemikrian untuk
mengajak pengamatnya ikut menjaga kelestarian lingkungan alam sebagai bagian
dari kesemestaan alam ciptaan Allah. Rupanya Karang Sasongko (49 th) juga ingin menyampaikan
sebuah pemikiran, bahwa kesemestaan alam ciptaan Tuhan itu misteri. Menurutnya
penggalan hutan itu menandakan, bahwa manusia itu hanya mengerti sedikit
tentang ciptaan Allah. Anggapan ini seperti yang dikatakan pada konsep
ciptaannya yang telah disebutkan di atas.
Berdasarkan konsep penciptaan tersebut
dapat dipahami, bahwa Karang Sasongko memiliki suatu ideologi ketuhanan yang
diwujudkan dalam bentuk kecintaannya kepada alam semesta. Dia juga menyarankan,
jika ingin tahu lebih banyak tentang misteri alam ciptaan Tuhan, maka harus
dapat mengamati, menggali, memahami, dan menghayatinya.
Pemikiran tentang
penderitaan kehidupan masyarakat kecil seperti tampak karya Realisme hasil karya Joko
Temin (33 th) berjudul “Pekundi” dan
karya Cak Min (39 th) berjudul “Milihi
Mbako”. Kedua karya ini memiliki persamaan pemikiran, bahwa hidup harus
bekerja dan bekerja dan bekerja itu untuk hidup. Sementara perbedaan pemikiran
kedua pelukis ini adalah jika pada lukisan “pekundi” bekerja dengan kemandirian
yang cenderung berkreasi sedangkan pada lukisan “Milihi Mbako” itu bekerja untuk orang lain atau sebuah pabrik
tembakau.
Kedua
karya itu memiliki ideologi dua ujung. Seperti yang dikatakan Althusser (2010), bahwa ideologi di satu
sisi adalah kehidupan nyata manusia yang meliputi pandangan dunia yang menjadi landasan
orang untuk hidup dan menyelami dunia ini. Ideologi ini tampak pada karya Joko
Temin yang dianggapnya di balik kesederhanaan seorang pengrajin gerabah
memiliki pandangan hidup yang cukup luas untuk menunjukkan keberadaan hasil
karyanya. Gerabah merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan atau
merefleksikan hasil karya budaya tradisional yang memiliki ciri khas bagi
penikmatnya bisa jadi juga orang asing. Di sisi lain, ideologi mengajarkan
bekerja untuk menerima dan tunduk kepada eksploitasi mereka. Pernyataan itu
dapat untuk menyoroti kandungan ideologi pelukis Cak Min yang membidik objek
para buruh wanita yang bekerja pada sebuah pabrik tembakau di Klaten seperti
tersebut diatas.
Tampaknya sebuah
pemikiran yang mengkhususkan, bahwa gunung Merapi memiliki pesona dan misteri
tersendiri bagi masyarakat Klaten. Oleh karena itu, dua pelukis “Pasren”
beraliran Impresionisme
berikut ini mengangkat gunung Merapi sebagai objek lukisannya. Dua pelukis yang
dimaksud adalah Kus Indra (43 th) yang melukiskan lukisannya berjudul Lembah
Merapi dan Kapten Suwarto
(55 th) berjudul “Pesona Merapi”.
Pemikiran kedua, pelukis ini dilandasi oleh keindahan dan keunikan gunung
Merapi. Keindahan gunung dapat dianalogikan dengan filosofi Jawa yang berbunyi Sri Gunung artinya gunung itu
keindahannya akan tampak bagus jika dilihat dari kejauhan, tapi ketika didekati
sama sekali tidak ada bentuk seperti yang dilihat dari jarak jauh itu.
Ketika
pemikiran tersebut berubah menjadi sebuah ideologi, maka gunung Merapi menjadi
simbol yang perlu ditempatkan dari sisi fungsi atau kemanfaatannya bagi
manusia. Maka, ketika gunung itu dirusak kemanfaatan itu juga akan berubah
menjadi bencana alam. Dengan demikian,
lukian objek gunung Merapi itu mempunyai misi ideologi berupa sebuah ajakan
pada orang lain untuk memulihkan keseimbangan alam.
Simbol keharmonisan
keluarga yang tampak pada karya GM. Sudarta (66 th) berjudul “Bapa, Ibu lan Putra Kinasih” memiliki latar belakang pemikiran dan ideologi
tersendiri. Pesan yang disampaikan dalam lukisan karya GM. Sudarta merupakan
sebuah pemikiran mengajak penikmatnya untuk mencintai keluarganya sebagai
simbol kecintaannya kepada Allah.
Di sisi lain, latar belakang kehidupan beragama yang
dipengaruhi oleh dogma “trinitas” katholik yang sebelum dia mualaf beragama
islam. Objek bapa dianalogikan
sebagai simbol Allah, ibu sebagai
simbol Bunda Maria, dan putra itu
sebagai simbol anak yaitu Yesus Kristus yang tersatukan secara harmonis melalui
rohul kudus.
Selanjutnya
adalah pemikiran Jaya Adi (51 th) dalam karya lukisnya yang berjudul “Oprasi
Semar” menujukkan
kepekaannya terhadap kondisi negara yang carut marut yang disebabkan oleh
ketidak tuntasan pemerintah dalam mengelola pemerintahan dan mensejahterakan
rakyat. Menurutnya, dari ketidaktuntasan itu menyebabkan terkoyaknya ideologi
politik di Indonesia muncul berbagai kerusuhan diberbagai daerah, bahkan tidak
sedikit yang ingin melepaskan diri dari NKRI. Oleh karena itu, untuk mengatasi
permasalahan negara itu perlu diadakan “ruwatan”
dengan mengoprasi semar sebagai simbol bersatunya antara rakyat dan pemimpinnya
Di
sisi lain, pemikiran Sugito Slamet (50 th) dalam lukisannya yang berjudul “Bima
Melawan Naga Nemburnawa” merupakan
perwujudan dari ideologi perjuangan seorang satria dalam tokoh pewayangan
bernama Bima. Dalam cerita pewayangan, Bima yang mempunyai nama lain Werkudara
adalah salah seorang satria dari pandawa lima yang menjadi murid guru Durna.
Tampaknya filosofi dalam dunia pendidikan dan keprofesian guru yang berbunyi “guru kuwi kudu bisa digugu lan ditiru” (guru itu harus bisa menjadi panutan dan
contoh) baik perbuatan, sikap dan
tingkah lakunya bagi setiap siswa didiknya.
Bima tidak membantah ketika
diutus oleh guru Durna untuk mencari tirta
perwitasari (air suci kehidupan). Setelah sekian lama mencari sampailah
Bima di tengah lautan luas dan bertemu rintangan, yakni diserang oleh seekor
naga yang sangat besar bernama Naga Nemburnawa. Kemudian keduanya bertarung
sampai titik darah penghabisan dan
akhir dari pertarungan itu dimenangkan oleh Sang Bima. Di saat itulah Bima mendapat ilmu yang paling
tinggi, dia bertemu dengan Dewa Ruci yang berbentuk bayangan miniatur wajah
dirinya sendiri. Dalam dialog dengan Dewa Ruci itulah sang bima mendapat
jawaban atas perintah gurunya tersebut. Kemudian Sang Bima menghadap guru Durna
untuk menyampaikan hasil pencarian tirta
perwitasari tersebut. Pada akhirnya
Bima disambut guru Durna dengan penuh keheranan dalam hatinya dan dinyatakan
lulus ujian dalam mencapai kesempurnaan hidup sejati sebagai seorang satria
yang kuat mandraguna tiada tanding.
Pemikiran
selanjutnya adalah mengenai kepolosan seorang bocah seperti tampak pada lukisan ekspresionisme hasil karya Samina
(40 th) yang berjudul “Walk Together”. Walaupun antara judul dan objek lukisannya
terasa tidak ada kesatuan, namun tampak pelukisnya ingin memberikan sebuah
opini pemikiran pada pengamatnya. Sesuai judulnya, kata walk together jika
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “jalan bersama”. Sementara objek
yang ditampilkan hanya seorang bocah, maka pemikiran yang kebersamaan itu hanya
menjadi sebuah ideologi harapan saja terhadap pentingnya hidup bersama akan
melahirkan kebaikan bagi semua orang. Harapan inilah yang menjadi lamunan
seorang bocah yang memperlihatkan
tatapan matanya penuh harapan seperti
tampak pada objek lukis tersebut. Kepiawaian Samina dalam karya lukisnya ini
adalah dapat mendiskonstruksikan antara objek dan situasi kebersamaan yang
tidak tampak pada lukisan itu, namun bisa jadi bentuk objek kebersamaan terlihat
oleh objek anak di kejauhan sana sebagai
bentuk filosofi gotong royong atau “bersama kita bisa” dalam kehidupan
bermasyarakat.
Berbeda dengan karya Yoyok WB Besur (40
th) yang berjudul “Ndonga”. Tampak jelas ideologi
yang ditampilkan pelukisnya, yakni ideologi keagamaan. Hal ini didukung oleh
bentuk objek biksu dan biksuni yang dilukiskan dengan penuh ekspresi dan
suasana ritual dalam agama budha dengan sangat jelas. Di samping itu, lukisan
ini memberikan kesan, bahwa suasana ritual itu membutuhkan waktu yang tenang
tanpa gangguan. Dengant eknik hitam putih saja bisa
memberikan kesan ketenangan suasana malam hari untuk mencapai kesempurnaan hidup. Sebagaimana filosofi
dalam agama Budha yang dituliskan dalam kitab lalitavistara, bahwa manusia hidup perlu kesucian hati, manusia
hidup perlu kedamaian hati, dan manusia hidup perlu ketenangan hati. Dengan demikian lukisan
ini sangat tepat untuk mengangkat objek ketenangan hati seorang penganut agama
Budha.
Lukisan surealisme hasil karya Sigit GP (49 th) berjudul
“Sebuah Harapan” menunjukkan adanya pemikiran tentang harapan kedamaian dunia.
Pemikiran ini memungkinkan adanya ideologi kemanusiaan, bahwa setiap orang
membutuhkan kedamaian hati maupun kedamaian antar manusia. Artinya manusia
tidak bisa terlepas dari hubungan dengan manusia lain maupun hubungannya dengan
alam semesta.
Masih mengenai
persentuhan dengan objek-objek dalam lukisan Surealisme, Phepen
Parjimin mengangkatnya ke atas kanvas dengan judul “Menyatu” Dalam lukisan ini
tampak pelukisnya ingin mengajarkan pemikiran tentang kebersatuan yang menyatu,
maka terwujudlah suatu kesatuan objek yang backgroundnya
sampai tidak jelas. Dengan ketidakjelasan ini justru melahirkan suatu produk
lukisan yang unik dan menarik.
Visualisasi
dari peristiwa mimpi bisa juga dilihat pada karya Heri Cahyono (34 th) berjudul
“Tak Ada Gading yang Tak Retak”.
yang berbentuk sepotog gading gajah. Objek itu merupakan buah pemikiran Heri
Cahyono yang dipengaruhi oleh bunyi pribahasa dalam bahasa Indonesia. Namun,
untuk meperlihatkan kesurealismenya, objek gading itu digambarkan dengan
guratan-guratan tekstur yang sanagt kentara sekali yang mungkin bertujuan untuk
menyembunyikan bentuknya.
Lukisan
hasil karya Heri Cahyono menunjukkan ideologi, bahwa orang itu tidak boleh
sombong karena manusia itu tidak sempurna, sedikit atau banyak pasti memiliki
kekurangan. Kesempurnaan sejati hanya dimiliki oleh Tuhan seperti yang
dituliskan pada huruf Arab berbunyi “Allah” secara samar-samar dibagian atas
bidang lukisan tersebut. Dengan demikian yang ingin disampaikan pelukis ini
adalah nilai-nilai ideologis agama yang mengagungkan kekuasaan Tuhan.
Lukisan corak Kubisme yang berjudul “Panglima Sudirman” hasil karya Ansori (51
th). Lukisan ini digarap dengan teknik berbahan pecahan-pecahan keramik atau biasa disebut mozaik. Dalam lukisan itu terdapat dua
latar belakang pemikiran, yakni latar belakang sejarah dan latar belakang
pemberdayaan barang limbah
lingkungan.
Objek Jenderal Sudirman
menunjukkan adanya latar belakang sejarah, karena sudah menjadi pengetahuan
umum, bahwa Jenderal Sudirman merupakan tokoh nasional yang memiliki
kesejarahan sebagai seorang tokoh perang gerilya dalam mempertahankan
kemerdekaan Republik Indonesia.
Latar
belakang pemikiran sejarah ternyata dapat membawa penikmatnya pada sebuah
ideologi negara dalam menghadapi ancaman dari luar yaitu penjajah yang ingin
menguasai bumi Indonesia kembali. Seperti tersirat dalam filosofi Jawa “rawe-rawe rantas malang-malang putung” yang
artinya segala sesuatu yang menjadi hambatan atau gangguan harus diberantas dan
segala sesuatu yang akan menghalangi perjuangan harus dipatahkan atau
dituntaskan sampai akar-akarnya. Oleh karena itu, negara dalam situasi kondisi
apapun maka harus dibela oleh semua warga negaranya.
Permainan politik negara rupanya bisa memberikan
inspirasi dan pemikiran sebuah analogi permainan pula, seperti tampak pada
lukisan kubisme hasil karya Budi Budek’s (38 th) berdujul “Ular Tangga”. Oleh
pelukisnya karya itu diakuinya sebagai sindiran terhadap jalannya pemerintahan
suatu negara itu tidak ubahnya sebuah permainan ular tangga yang di dalamnya
syarat saling menggulingkan untuk mencapai kekuasaan. Sebagaimana Budek’s
mengungkapkan: “ kita ini hanya menjadi korban permainan para penguasa di atas;
di ibukota negara sana. Dari ungkapan itu, dapat dipahami terdapat hubungan
timbal-balik antara pemimpin negara dan rakyatnya yang notabene sebagai tanda
terimakasih atas dukungan rakyat dalam pemilu.
Lukisan
kaligrafi berjudul “Pengorbanan” hasil
karya Suwardi Harris” (57 th) tampaknya merupakan hasil refleksi pemikiran
seperti diuraikan di atas. Karya ini dipesankan oleh pelukisnya, bahwa sekecil
apapun setiap orang apalagi seorang pemimpin harus memiliki nilai pengorbanan
untuk kepentingan umum. Mengutip sebuah hadis shahih Nabi Muhammad SAW yang
berbunyi: “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”
Di sisi
lain pengorbanan bisa menjadi sebuah filosofi Jawa, “jer basuki mawa beya” artinya untuk mencapai sebuah cita-cita itu
membutuhkan pengorbanan bisa berupa harta, tenaga, atau setidaknya pengorbanan
perasaan hati.
Dengan
demikian pengorbanan itu ada yang bersifat material dan spiritual. Apabila
bersifat material, maka bisa langsung dikeluarkan bentuk pengorbanan itu
misalnya berbentuk sedekah uang atau bahan makan. Namun apabila bersifat
spiritual dapat memberikan motivasi pada seseorang yang hampir putus asa. Maka, dibutuhkan kecerdasan pencarian sasaran yang
akan dibantu.
Latar belakang pemikiran
filosifis seperti itu telah diangkat oleh Adi Prawito kedalam karya lukisnya yang
berjudul “Pencarian”. Lukisan abstrak sederhana yang hanya berobjek segitiga
itu menawarkan bermacam pemikiran yang harus dicari bagi pengamatnya. Secara
tersirat sebuah ideologi pelukisnya yang memberikan alternatif pilihan untuk
mengambil sikap hidup baik itu di jalan hidup yang benar maupun yang salah.
Untuk dapat menentukan
pilihan, seseorang menyiapkan diri memiliki mental dan kekuatan batin agar
tidak keliru mengambil jalan yang salah dan tersesat. Bagi seorang pelukis
kekuatan batin itu dapat menjadi dasar utama untuk melahirkan sebuah hasil
karya yang merupakan refleksi dari sebuah pilihan antara baik dan buruk seperti
telah disebutkan di atas.
Seorang
pelukis Abstrakisme Bambang
Pujiono (52 th) yang meletakkan kekuatan batin dalam berkarya seperti tampak
pada lukisannya berjudul “Power”. Kata power diartikan sebagai kekuatan batin untuk menyikapi terhadap
fenomena kehidupan dan kesemestaan ciptaan-Nya. Bambang Pujiono dalam
melukis dilatarbelakangi oleh pemikirannya tentang persoalan dan makna
kehidupan semesta. Unsur-unsur seni rupa yang dituangkan ke atas kanvasnya
dianggapnya sebagai simbol
untuk berkomunikasi pada pengamatnya.
Dengan
demikian, karya seni lukis seabstrak apapun
dalam konsep penciptaan tetap menjadi representasi pemikiran dan
ideologi penciptanya. Bahkan, lukisan bergaya abstrak yang cenderung liar,
ruwet, dan eksperimental oleh seorang pelukis dapat dijadikan sebagai media
untuk menyindir sesuatu kondisi tertentu, misalnya kondisi jalannya
pemerintahan yang berlangsung pada saat ini. Sebagai contoh, lukisan abstrak
non-objektivisme berjudul “Potret Nagari” hasil karya Pitut Saputra (33 th).
Karya ini oleh pelukisnya diakui sebagai cerminan kondisi negara yang carut
marut tidak ada kunjung selesai. Hal ini ditandai dengan teknik melukisnya yang
berupa tumpahan-tumpahan dan cipratan-cipratan minyak secara bebas, spontan,
dan liar yang pada akhirnya menghasilkan sebuah lukisan tanpa objek. Dengan
demikian, wujud lukisan abstrak hasil karya Pitut Saputra yang terlihat ruwet
dan liar itu dapat dianalogikan sebagai
sistem pemerintahan yang
mengalami krisis multidimensi.
Rakyat mendambakan kehalusan
budi pekerti dalam menyikapi setiap persoalan yang terjadi saat ini. Kehalusan
budi pekerti itu oleh Satya Budi Santosa dianalogikan dengan teknik melukisnya
yang halus untuk menampilkan kesan cahaya, seperti pada luksiannya yang
berjudul “Dini” (2005). Kehalusan teknik melukis itu tampaknya salah satu
tujuannya adalah untuk mencapai kesan cahaya. Oleh karena itu, ketika melihat
karya yang abstrak non-objektivisme tersebut terasa damai dan tenang.
Pemaknaan terhadap Perwujudan
Keperbedaan dalam Keragaman Karya Seni Lukis “Pasren”
Untuk
mengkaji makna keperbedaan dalam keragaman karya seni lukis “Pasren” harus
menempatkan karya seni lukis sebagai tanda atau simbol sebagaimana telah
diuraikan pada pembahasan bab sebelumnya, bahwa sebuah komposisi seni lukis
adalah susunan yang merupakan susunan atau pengorganisasian dari unsur-unsur garis,
shape (bidang), barik (tekstur), dan
warna yang tersusun sebagai bentuk karya seni lukis. Lewat komposisi tersebut
sebuah karya seni lukis akan memberikan informasi kesan dan makna. Maka, akan
terjadi komunikasi antara pelukis dan pengamatnya melalui tanda-tanda atau
simbol-simbol yang dihadirkan didalam bingkai lukisan tersebut.
Karya seni lukis “Pasren” merupakan
tanda atau simbol yang diciptakan pelukisnya, dalam hal ini berfungsi sebagai
pengirim tanda atau simbol. Pada karya seni lukis, komposisi merupakan tanda
pertama yang pokok dilihat pengamatnya, karena dapat mengkomunikasikan maksud
seniman (dalam arti karya seni lukisnya kepada pengamat). Sebagai sebuah tanda
atau simbol, komposisi dalam karya seni lukis “Pasren” merupakan penyusunan
atau pengorganisasian dari unsur-unsur garis, bidang, warna, ruang, dan tekstur
yang disusun dalam satu kesatuan. Demikian juga dengan unsur-unsur seni rupa
itu sendiri merupakan tanda atau simbol yang memiliki maknanya masing-masing.
Berdasarkan tanda atau simbol-simbol
yang dikirimkan melalui setiap hasil karya melukis “Pasren” seperti telah
diuraikan di atas, maka dalam analisis makna simbolis keperbedaan dan
keberagaman karya seni lukis “Pasren” dapat
diketahui ada tiga pokok pemaknaan. Tiga makna yang dimaksud antara lain: (1) makna ma’riifat; menganalisis atau membahas
keseluruhan bentuk alam semesta cipataan Tuhan baik dari sisi keindahan maupun
makna di balik keindahan alam tersebut. (2) makna kehidupan; yakni pemaknaan mengenai segala bentuk kehidupan di masyarakat,
khususnya masyarakat bawah dalam upaya memperjuangkan dan mempertahankan
kehidupannya di tengah carut marutnya sistem pemerintahan dan (3) makna sosial-budaya; menganalisis
dan membahas karya lukis “Pasren” yang mengangkat kehidupan sosial budaya yang
berupa atraksi-atraksi seni budaya
sebagai unsur kebudayaan. Untuk mengetahui makna simbolis tersebut lebih
mendalam, maka dapat diuraikan dalam pembahasan berikut ini.
Setelah dilakukan
pemaknaan yang diteruskan dengan penafsiran terhadap keperbedaan dalam
keragaman karya sen lukis “Pasren”, maka ditemukan bentuk konsep trilogifiguratif yang berupa struktur
tiga bidang dwimatra (horizontal) dalam wujud bidang segi tiga mendatar (trimandala) dan trimatra (vertikal)
dalam wujud limas segitiga ke atas (triloka).
Keduanya sebagai lambang atau simbol trihitakarana.
Trihitakarana berarti tiga hubungan keselarasan atau keharmonisan, yakni
tiga hubungan keselarasan adalah hubungan manusia dengan manusia, manusia
dengan alam semesta, dan manusia dengan Tuhan. Berdasarkan konsep trilogifiguratif itu, maka dapat
ditafsirkan sebuah korelasi antara tiga makna simbolis terhadap keragaman karya
seni lukis “Pasren”, yakni makna ma’rifat,
makna kehidupan, dan makna sosial-budaya dengan latar belakang konsep penciptaan
seni lukis “Pasren” yang terdiri dari tiga hal, yakni latar belakang pemikiran,
ideologi dan filosofi yang berpusat pada dzat
Ghoib (Allah).
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa latar belakang
kehidupan sosial-budaya yang melingkupi para pelukis “Pasren” sangat
berpengaruh dalam proses penciptaan karya lukisnya.
Keperbedaan latar belakang
tersebut juga dapat melahirkan perwujudan corak dan gaya pada hasil karya seni
lukis “Pasren”. Ketika corak dan gaya lukisan
itu dianalisis dan dilakukan pemaknaan, maka dapat ditemukan semacam
jaring-jaring makna yang sama, walaupun
corak dan gayanya berbeda-beda. Makna yang dimaksud adalah makna ma’rifat, makna kehidupan dan makna
sosial-budaya. Dari ketiga makna ini dapat dibuat pola limas segitiga yang
disebut limas trilogifiguratif yang
menjadi lambang tiga keselarasan (trihitakarana).
Saran yang disampaikan, hasil penelitian ini dapat bermanfaat
untuk memberikan sumbangan
sekaligus menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam kaitannya dengan
masalah kajian budaya. Lebih khusus lagi mengenai analisis seni lukis sebagai
bagian dari kajian budaya dan seni rupa. Di samping itu, dapat
memberikan inspirasi dan menambah referensi penelitian-penelitian berikutnya
atau sebagai pembanding dalam penelitian budaya yang lain. Saran
praktis yang dapat diberikan adalah agar peneliti budaya dapat menerapkan teori
yang dipakai untuk menganalisis, kemudian mencoba mencari kelebihan dan
kekurangan teori tersebut yang selanjutnya berani menyampaikan pendapat sendiri
sebagai penguatan ilmiah.
DAFTAR
PUSTAKA
Barker,
Chris. 2009. Cultural
Studies (terjemahan Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Dharsono,
(Sony Kartika). 2007. Budaya Nusantara:
Kajian Konsep Mandala dan Konsep Triloka terhadap Pohon Hayat pada Batik Klasik.
Bandung: Rekayasa Sains.
_____ .
1996. Penelitian Seni dengan Pendekatan Semiotik.
Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.
Eco,
Umberto. 2009. Teori
Semiotika: Signifikasi Komunikasi, Teori Kode serta Teori Poduksi-Tanda. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Geertz, Clifford. 2004. Tafsir
Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Kayam,
Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta:
Sinar Harapan.
Laksmi,
V. Kristanti Puri. 2009. Penelitian: Kajian Makna Simbolis Motif Batik
Sidowirasat Surakarta. Surakarta: Institut Seni Indonesia.
Liliweri,
Alo. 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS
Poespowardoyo,
Soerjanto. 1989. Strategi Kebudayaan:
Suatu Pendekatan Filosofis. Jakarta: Gramedia.
Poespoprodjo. 2004. Hermeneutika.
Bandung: Pustaka Setia.
Ratna,
Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan
Budaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_____
2007. Metodologi Penelitian Kajian Budaya
dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sedyawati,
Edi. 2006. Budaya Indonesia: Kajian
Arkeologi, Seni dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Setiadi,
M.Elly, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya
Dasar. Jakarta: Kencana.
Subiyantoro,
Slamet. 2010. Antropologi Seni Rupa,
Teori, Metode dan Contoh Telaah Analisis. Surakarta: UNS Press.
Waseno, dkk. 1998. Pola Permukiman Tradisional Daerah Jawa
Tengah: Kab. Sukoharjo, Boyolali, Klaten, Brebes dan Kodya. Semarang:
Proyek Inventarisasi Nilai-nilai Budaya dan Dokumentasi Sejarah Peniggalan Purbakala
Daerah Jawa Tengah.
Yatim,
Badri. 1999. Sejarah Peradaban Islam.
Jakarta: Rajawali Press.
No comments:
Post a Comment