Saturday, 16 February 2013


MENGUNGKAP MAKNA SIMBOL POPULARITAS
GROUP BAND “DEWA 19”:
Suatu Kajian Pencerahan Pendidikan Semiotika Visual
Di SMA Negeri 1 Klaten

Oleh : Waluya, M.Hum.Sn
Guru Seni Budaya SMA Negeri 1 Klaten


ABSTRAK
Popularitas group band Dewa 19” memang telah diakui keberadaannya oleh pemirsa atau penggemarnya yang memiliki karakter dan warna musik yang berbeda dengan group musik yang lainnya. Begitu juga apresiasi masyarakat penggemarnya tampaknya sudah banyak memberikan simpati, empati, atau pun penghargaan yang signifikan. 

Ahmad Dhani, pimpinan sekaligus vocalis group band itu seringkali menampilkan tanda-tanda atau simbol-simbol ketika menggelar pementasan. Jika diperhatikan assesories yang dikenakan Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya yang kemungkinan besar mengandung makna-makna tertentu. Disamping itu, bisa jadi memiliki misi-misi untuk suatu propaganda ideologi tertentu untuk mempengaruhi pemirsanya. Namun sayangnya pemahaman pemirsanya terhadap makna simbol-simbol di balik popularitas group band “Dewa 19” kebanyakan tidak tahu atau tidak mau tahu. Hal ini dimungkinkan karena tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang pendidikan semiotika  sangat terbatas atau bahkan tidak tahu sama sekali.
Tujuan tulisan ini antara lain, ingin mengungkap makna simbol di balik popularitas group band “Dewa 19” untuk pencerahan pendidikan semiotika visual dalam ranah pendidikan seni budaya di sekolah khususnya di SMA Negeri 1 Klaten. Dalam skala lebih luas untuk menyadarkan  pemirsanya, bahwa secara tidak langsung mereka telah digiring ke dalam jeratan propaganda ideologi. 
Hasil survai di SMA Negeri 1 Klaten dari seluruh jumlah responden 130 orang terdiri dari 100 orang siswa, 20 orang guru dan 10 orang karyawan menunjukkan, bahwa  berdasarkan tingkat pemahamannya, seluruh responden yang kurang paham lebih banyak yakni mencapai di atas 50%, bahkan untuk karyawan sampai 70%.
Saran yang disampaikan dalam tulisan ini adalah perlu adanya kegiatan pencerahan tentang makna-makna simbolik di balik sebuah popularitas. Untuk itu kita perlu banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan ajaran ideologi dan perbanyaklah mengikuti kajian-kajian agama. Sedangkan guru-guru sebagai pemegang amanah pendidikan moral anak bangsa, perlu untuk membentengi anak didiknya agar tidak terjerat pada ajaran-ajaran sesat yang berkedok sebuah popularitas.

Kata Kunci: simbol, dewa 19, semiotika visual.


PENDAHULUAN
Simbolisasi makna itu perlu dalam interaksi seniman dengan pemirsanya. Dengan cara masuk ke dalam tatanan simbolis inilah subjek terbentuk. Bagi Lacan (dalam Chris Baker, 2000: 91), simbolis adalah suatu struktur bahasa dan makna sosial yang diterima yang bersifat melingkupi. Oleh karena itu, seniman memerlukan juga bahasa baik berupa bahasa rupa maupun suara untuk menyampaian gagasan dalam berkarya seni dan sekaligus dapat dijadikan alat propaganda suatu ideologi tertentu.
Kreativitas manusia sepanjang sejarah meliputi banyak kegiatan, di antaranya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang di dalamnya tidak terlepas dari proses simbolisasi. Dalam tulisan ini akan memusatkan perhatian pada proses simbolis budaya populer, yaitu pada realitas yang lain daripada pengalaman sehari-hari. Proses simbolis meliputi bidang-bidang agama , filsafat, seni, ilmu, sejarah, mitos dan bahasa (Kuntowijoyo, 2006: 3). Sedemikian luasnya bentuk-bentuk simbolis, maka dalam tulisan ini juga akan membatasi pada beberapa hal yang berkaitan dengan makna ungkapan dalam kesenian.
Interaksi antara seniman dengan pemirsanya sangat dibutuhkan demi peningkatan suatu karya lanjutan maupun dalam penyampaian pesan ideologi. Interaksi itu berbentuk kritik atau apresiasi. Seperti dikatakan  Sedyawati (2000:129), bahwa bagi seniman, kritik adalah suatu imbalan atas jerih payahnya. Alangkah sia-sianya suatu usaha terasa, jika tiada satu patah kata pun diucapkan pujian  maupun celaan, dapat diharapkan untuk merangsang percobaan-percobaan selanjutnya.
Secara ideoantropologis setiap manusia memiliki paradigma tentang ideologi yang berbeda pula. Menurut Althusser (dalam Chris Baker, 2000 : 60), “Ideologi adalah pengalaman yang dijalani. Disisi lain, ideologi juga dipahami sebagai seperangkat makna rumit yang menjelaskan dunia (suatu diskursus ideology) dengan cara melakukan misrecognize (salah mengenali) dan misrepresent (salah mempresentasikan) kekuasaan dan relasi kelas. Ideologi dikatakan mempresenasikan hubungan imajiner individu dengan kondisi eksistensi nyata mereka”. Dengan demikian setiap karya seni  seorang seniman cenderung akan  mempresentasikan  pemaknaan terhadap keadaan peristiwa yang melatarbelakangi mereka dalam berkarya, misalnya pemaknaan sebab-akibat kebijakan pemerintah,  lingkungan hidup, sosial budaya, keagamaan, dan sebagainya. Artinya, para seniman akan melahirkan diferensiasi karya seni yang bersifat subjektif dan cenderung membawa misi-misi tertentu untuk mempengaruhi pemirsanya melalui karya-karyanya.  
Di sisi lain kemunculan paham postmodernisme di Barat yang menunjukkan kecenderungan terhadap subjektifitas dan narasi-narasi kecil. Menurut Sarup (dalam Ratna, 2007: 94), bahwa postmodernisme  adalah gerakan kultural yang semula terjadi di masyarakat barat tetapi telah menyebar keseluruh dunia, khususnya dalam bidang seni. Beberapa masalah pokok yang dikaitkan dengan postmodernisme dalam bidang seni antara lain: hilangnya batas-batas sekaligus hierarkhi antara budaya populer dengan budaya elite, budaya massa dengan budaya tinggi. Dalam karya seni populer misalnya, hilangnya batas-batas yang tegas antara etika dan estetika.
Dalam menyikapi fenomena budaya populer yang cenderung bias tersebut, maka diperlukan pemahaman makna di balik popularitas suatu karya seni. Untuk dapat mengungkap misi yang bisa jadi disembunyikan dalam tampilan karya seni tersebut dibutuhkan teori yang dapat membedahnya. Dalam ranah teori kebudayaan dan antropologi, semiotika dapat digunakan sebagai alat mengungkap makna simbolik sebuah karya seni. “Semiotika, biasanya didefinisikan sebagai pengkajian tanda-tanda (the study of sign), pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode yaitu sistem apapun yang memungkinkan kita memandang etensitas-etensitas sebagai tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna” (Scholes, dalam Budiman, 2004: 3). Dengan demikian semiotika dapat membantu manusia secara efektif untuk memaknai tanda-tanda di setiap tempat baik yang kasat mata maupun yang tidak kelihatan.
Studi dan pengkajian tanda-tanda atau kode-kode yang bersifat kasat mata biasa disebut semiotika visual. Seperti yang dikatakan Budiman (2004: 13), “Semiotika visual (visual semiotics) pada dasarnya merupakan salah sebuah bidang studi semiotika yang secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indera  lihatan (visual senses)”. Namun begitu semiotika tidak hanya berfungsi sebagai pengkajian seni rupa seperti seni lukis, seni patung, seni grafis, seni arsitektur dan sebagainya semata-mata,  melainkan juga segala macam tanda visual yang sering dianggap bukan karya seni, misalnya lencana, liontin, mata uang, huruf atau tulisan, perhiasan-perhiasan, dan sebagainya.
Group Band “Dewa 19” dengan pimpinan sekaligus vokalisnya Ahmad Dhani, merupakan salah satu contoh group band yang memiliki tanda-tanda atau simbol-simbol. Jika kita perhatikan assesories yang dikenakan Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya yang kemungkinan besar mengandung makna-makna tertentu. Disamping itu, bisa jadi memiliki misi-misi untuk suatu propaganda tertentu untuk mempengaruhi pemirsanya.
Tujuan tulisan ini antara lain, ingin mengungkap makna di balik popularitas group band “Dewa 19” dan mengetahui pemahaman terhadap simbol-simbol yang dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya untuk pecerahan, yakni untuk menyadarkan  pemirsanya, bahwa secara tidak langsung mereka telah digiring ke dalam jeratan propaganda ideologinya. 
           
Permasalahan
Di jajaran komunitas kelompok aliran musik, eksistensi group band Dewa 19” memang telah diakui keberadaannya oleh pemirsa atau penggemarnya yang memiliki karakter dan warna musik yang potensial; berbeda dengan group musik yang lainnya. Begitu juga apresiasi masyarakat penggemarnya nampaknya sudah banyak memberikan simpati, empati, atau pun penghargaan yang signifikan.  Namun sayangnya pemahaman pemirsanya tentang makna di balik popularitas group band “Dewa 19” kebanyakan tidak tahu atau tidak mau tahu. Hal ini dimungkinkan karena tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat umum tentang semiotika  sangat terbatas atau bahkan tidak tahu sama sekali.
Berangkat dari paparan dan tujuan dalam tulisan ini, maka muncul permasalahan sebagai berikut:
1.      Simbol-simbol apa saja yang terdapat pada group band “Dewa 19” khususnya assesories yang dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya dan bagaimana makna simbolik di balik popularitas group band “Dewa 19”?
2.      Bagaimana pemahaman pemirsanya khususnya di SMA Negeri 1 Klaten terhadap makna simbol-simbol yang dikenakan vokalis group band “Dewa 19” Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya?


PENDEKATAN TEORI
Kajian budaya (Culture Studies) merupakan wahana mengkaji berbagai karya manusia baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Termasuk di dalamnya adalah group band “Dewa 19” dan komunitas penggemarnya. Seni rupa yang dimanfaatkan sebagai suatu simbol memerlukan pengkajian secara khusus. Pengkajian yang berkaitan dengan simbolisasi makna di balik popularitas group band belum banyak dilakukan, apalagi sebagai kajian budaya. Untuk memperjelas uraian tersebut, Chris Bakker (2000: 35)  mengatakan:
“Unsur yang signifikan dari karya cultural studies tidak bersifat empiris melainkan bersifat teoretis. Teori dapat dipahami sebagai narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan. Namun, teori tidak menggambarkan dunia secara akurat; namun ia adalah alat, instrument atau logika untuk mengintervensi dunia melalui diskripsi, definisi, prediksi dan kontrol”.

Dari pernyataan itu bisa disimpulkan, bahwa teori sebagai alat bantu manusia untuk mengkaji suatu permasalahan budaya. Chris Bakker melanjutkan, pembentukan teori melibatkan pemikiran melalui konsep dan argumen, sering kali meredefinisi dan mengkritisi karya sebelumnya, dengan tujuan menawarkan alat baru yang digunakan untuk memikirkan dunia kita.
Kebudayaan dan masyarakat erat kaitannya, karena kebudayaan merupakan isinya, sementara masyarakat merupakan wadahnya. Terbentuknya produk kebudayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh aktivitas individu-individu. Seniman sebagai anggota masyarakat, dengan karya-karyanya mampu untuk berkontribusi dalam memajukan bidang kesenian di masyarakat.  Karya –karya tersebut dapat menjadi benilai ketika dapat mempengaruhi pandangan hidup dan dapat menjadikan ideologi pengamatnya.  Seperti dikatakan Koentjaraningrat (1996:76), bahwa nilai budaya terdiri dari konsep-konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai berharga dan penting oleh warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman orientasi pada kehidupan para mayarakat yang bersangkutan.
Seiring dengan pernyatan itu, Umar Kayam (1981:38) juga menyatakan, kesenian tidak pernah lepas dari masyarakat. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian adalah ungkapan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri. Masyarakat yang menyangga kebudayaan dan dengan demikian juga kesenian mencipta, member peluang untuk bergerak, memelihara, menularkan, mengembangkan untuk kemudian menciptakan kebudayaan baru lagi.
Memahami kebudayaan harus dimulai dengan mendefinisikan ulang kebudayaan itu sendiri, bukan sebagai kebudayaan generik; yang merupakan pedoman yang diturunkan, tetapi sebagai kebudayaan diferensial; yang dinegosiasikan dalam keseluruhan interaksi sosial. Kebudayaan bukanlah suatu warisan yang secara turu-tumurun dibagi bersama atau dipraktikkan secara kolektif, tetapi menjadi kebudayaan yang lebih bersifat situasional yang keberadaannya tergantung pada karakter kekuasaan dan hubungan-hubungan yang berubah dari waktu ke waktu. (Abdullah, 2006: 9)
Menurut Clifford Geertz (dalam Abdullah, 2006:1) bahwa kebudayaan itu, merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. Pada bagian selanjutnya, dia juga mengatakan bahwa kebudayaan itu merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan.
Masyarakat adalah sebuah sistem, yaitu sistem sosial budaya. Apabila kita mengartikan masyarakat sebagai sekumpulan manusia yag saling bergaul dan berinteraksi antara sesamanya berdasarkan norma-norma atau nilai yang berlaku, maka sistem sosial budaya dapat diartikan sebagai berikut. Sistem sosial budaya adalah suatu kesatuan di mana terjadi proses penyesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga mencapai keserasian (Waridah, dkk. 2001:69). Maka dari itu, keseimbangan sosial adalah syarat yang harus dipenuhi agar suatu masyarakat bias berfungsi sebagaimana mestinya. Yang dimaksudkan dengan keseimbangan atau ekuilibrium sosial adalah situasi di mana segenap lembaga sosial utama berfungsi dan saling tunjang-menunjang. Dalam keadaaan seperti ini tiap warga masyarakat bisa memperoleh ketentraman batin, karena tidak ada konflik norma dan nilai dalam masyarakat. (Selo Soemardjan, 1981:30)
1.    Makna Simbolisasi Visual
Ada banyak cara untuk mencari hubungan antara simbol dan masyarakat. Manheim (dalam Kuntowijoyo, 2006:1) mencoba mencari hubungan antara suatu kelompok kepentingan tertentu dalam masyarakat dan pikiran serta modus berpikir yang medasari  pengetahuannya. Menurut Maryanto (2006:113), bahwa makna tidak terletak dalam objek atau orang atau benda, tidak pula dalam dari tulisan yang kita coretkan, atau tidak pula dalam bentuk grafis yang kita goreskan, melainkan kitalah yang memastikan/ menetapkan makna atas hal-hal yang kita buat atau lakukan, sehingga setelah beberapa lama apa yang kita buat dan lakukan itu tampak alamiah dan tak terhindarkan. Makna dikonstruksikan dengan sistem reprsentasi. Makna dikonstruksi dan ditetapkan dengan kode yang menetapkan korelasi antara sistem konseptual dan sistem bahasa kita sedemikian rupa sehingga dapat dipahami.
Untuk mengungkapkan makna simbol secara mendalam, menurut Victor Tunner perlu memahami strukturnya yang terbagi dalam tiga bagian. Pertama, ialah struktur bentuk luar yang dapat diamati ciri-cirinya atau disebut juga signans. Kedua, adalah Struktur berbagai arti dari simbol tersebut atau signata. Struktur yang ketiga, adalah signifikansi, yaitu merupakan aktualisasi arti simbol dalam suatu konteks tertentu. (Tunner, 1982:19).

2.    Metode Memahami Makna Simbolisasi Visual 
Untuk memahami makna simbolis di balik popularitas group band “Dewa 19”, yaitu dengan mengadakan mini research dengan pengumpulan data. Secara garis besar pengumpulan data lapangan ini menggunakan teknik wawancara mendalam sambil menunjukkan gambar-gambar simbol kepada responden.
Wawancara dengan dilakukan terlebih dahulu menentukan sejumlah responden di SMA Negeri 1 Klaten berdasarkan statusnya, yakni sebagai guru atau siswa dalam rangka memperoleh data mengenai objek. Dengan diklasifikasikannya berdasarkan status tersebut, maka akan mempermudah memperoleh data yang diharapkan. Wawancara dilakukan untuk memperoleh gambaran umum tentang pemahaman guru dan siswa terhadap makna simbolis di balik popularitas group band “Dewa 19” berdasarkan tingkat pengetahuannya.

PEMBAHASAN
Menyimak lagu-lagu group band “Dewa 19” memang sangat menarik perhatian pendengarnya, apalagi penggemarnya yang masih muda remaja.  Hal ini karena lirik lagunya cukup memukau dan menggiring emosi perasaan bercinta maupun bernuansa religi. Disamping itu dipimpin dan sekaligus didukung oleh vokalisnya yang bernama Ahmad Dhani Manaf yang berparas tampan yang menjadi idola penggemar wanita. Oleh karena itu, tidak sedikit para penggemarnya yang setia menjadikan panutan dan bahkan sampai banyak secara tidak sadar senang menggambar atau mengoleksi souvenir simbol-simbol yang dikenakan Ahmad Dhani. 
Kepiawaian Ahmad Dhani  di atas panggung pun tidak diragukan lagi untuk menyanyikan syair-syair lagunya. Banyak sekali syair lagu cinta yang diciptakan yang digandrungi anak-anak muda baik laki-laki maupun wanita. Bagi penggemar yang dewasa, mereka disuguhi lagu-lagu bernuansa religi/ agama. Oleh karenanya wajar kalau di kalangan orang dewasa pun ketika diperlihatkan potongan foto Ahmad Dhani yang hanya terlihat dagunya saja mereka bisa menebaknya (Wawancara, 25-26 Maret 2011). Namun, kenyataannya dari hasil survei menunjukkan ketidakpahaman masyarakat terpelajar terhadap makna simbol di balik popularitas group band tersebut. Untuk mengetahui sejauhmana perihal itu, akan dibahas lebih lanjut berikut ini.

1.    Makna Simbol di Balik Popularitas Group Band “Dewa 19”
Untuk mengungkap simbol-simbol apa saja yang terdapat pada group band “Dewa 19” khususnya assesories yang dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya dan bagaimana makna simbolik di balik popularitas group band “Dewa 19” ini, maka dapat kita cermati latar belakang Ahmad Dhani sebagai pimpinan sekaligus vokalisnya terlebih dahulu.
Siapa sebenarnya Ahmad Dhani? Nama aslinya Dhani Ahmad Manaf, kemudian seperti tradisi dunia panggung hiburan untuk kepentingan popularitas dibaliklah nama ayahnya di depan menjadi “Ahmad Dhani”. Pada bagian ucapan terimakasih dalam album laskar cinta, Dhani menulis untuk Jan Pieter Frederich Kohler, berbunyi: thanks for the gen. Siapa Jan Pieter Frederich Kohler? Jan Pieter Frederich Kohler adalah kakek dari garis keturunan ibu kandungnya seorang Yahudi Jerman. Ibu kandung Dhani bernama Joyce Theresia Pamela Kohler. Itulah kenapa dhani berterima kasih kepada opanya atas keunggulan genetika yang diterimanya. Thank you for the gen artinya secara jujur Dhani berterima kasih kepada kakeknya atas genetika darah Yahudi yang ia warisi.
Dalam ajaran kitab Talmud, bangsa Yahudi sangat menjunjung superior rasnya secara genetika, dan menganggap ras lainnya adalah binatang/bukan manusia (goyim/gentiles), maka mereka yang di luar gennya diyakini ditakdirkan untuk menjadi budaknya.  Itulah kenapa Dhani berterimakasih kepada opanya atas keunggulan genetika yang diterimanya. Oleh karena itu, dia giat mempublikasikan simbol-simbol Yahudi zionis. Dhani sering tampil di atas panggung dengan memakai kalung bintang Daud berbentuk bintang segi enam sebagai simbol zionis Israel. Khalayak umum sudah mengetahui, bahwa dalam lambang kenegaraan, bintang segi enam itu merupakan gambar bendera negara Israel (Chaldun, 2005: 97). Untuk lebih jelasnya dapat kita perhatikan potongan foto wajah Ahmad Dhani berikut ini.

Gambar 1
Potongan wajah Ahmad Dhani memakai kalung bintang Daud
Gambar 2
Bentuk bintang segi enam lambang bendera Negara Israel



Pada sampul muka album pertama group band “Dewa 19 terdapat gambar piramida tidak sempurna (unfinished pyramid) yang terpancung pada bagian ujungnya. Nama “Dewa 19 dalam mitologi Judaisme atau agama Yahudi, angka 19 dikenal sebagai “bintang kegelapan” (dark star). Di sisi angka 19 merupakan satu ajaran salah satu pokok ajaran Rashad Khalifa yang dianggapnya Al Qur’an itu memiliki kelipatan 19 yang memiliki hubungan dengan gerakan feminisme dan karena pada akhirnya menyatakan dirinya sebagai rosul, maka ajaran ini dianggap sesat. (Jaiz, 2008: 154). Jika diteliti secara cermat bagian atas piramida tersebut tidak sempurna yang diselubungi kabut itu akan terlihat samar sebuah lingkaran bulat berwarna gelap yang mewakili bola mata, sama seperti simbol-simbol gerakan illuminati, masonik, dan perkumpulan rahasia lainnya menjalankan agenda “tatanan dunia baru”. Implementasi dari agenda ini adalah upaya menghegemonikan mata uang dollar Amerika bergambar sama yakni piramida terpotong di puncaknya. Apakah ini kebetulan atau kesengajaan, maka bisa  kita selidiki lebih mendalam.

Gambar 3
Sampul album pertama “Dewa 19” bergambar piramida


Gambar 4
Mata uang dollar Amerika bergambar piramida terpotong di puncaknya


Gambar piramida yang terdapat pada mata uang dollar Amerika itu kalau diperbesar di puncak piramida menunjukkan gambar “mata satu”. Artinya ini ada keterkaitan atau kesamaan ideologis antara Amerika dan Israel. Bahkan akan terlihat berkaitan dengan simbol-simbol Yahudi lainnya seperti pada gambar berikut ini.
Gambar 5
Pembesaran piramida terpotong pada mata uang dollar Amerika
sekaligus sebagai simbol “mata satu”

Gambar 6
Simbol gerakan Illuminati

Gambar 7
Simbol gerakan Masonik


Dengan memperhatikan gambar-gambar di atas, tampaknya Dhani sangat senang menggunakan istilah “mata satu”. Hal ini bisa kita perhatikan dalam lirik-lirik lagunya. Lalu apa yang terkandung dalam lirik lagu-lagu “Dewa 19”? Sebagai contoh, Lirik lagu sweetest place adalah sebuah lirik penantian akan ratu adil akan datangnya “yang dinantikan” yang bisa membuat kehidupan menjadi menyenangkan, dan yang dinanti adalah  mata satu”. Adapun bunyi liriknya sebagai berikut:
I am welcoming “an eye” into the darkest one
It’s tell me not to worry
For the time is yet to come
For someone to arrive

Ratu adil yang dinantikan itu adalah mata satu dalam kaballah, doktrin luciferian “the eye” atau mata satu merupakan mata Lucifer sang pangeran penguasa kegelapan sekaligus sang penguasa alam raya dajjal antichrist.
Dalam album “lascar cinta” ada sebuah lagu berjudul satu lirik lagu itu bagaikan kerinduan yang teramat sangat seorang kekasih kepada pujaan hatinya. Benarkah pujaan hatinya itu berupa seorang gadis,  ternyata tidak. Hal ini bisa dicermati pada cover versi CD, di bawah lirik lagu terdapat ucapan terimakasih kepada Syekh Lemah Abang. Keduanya, yakni Lucifer dan Syeh Lemah Abang adalah ulama sesat penganut wahdatul wujud atau istilah lain dalam sufisme Barat bernama ajaran satanisme. Lirik lagu tersebut merupakan manifestasi dari paham sesat bersatunya makhluk dengan pencipta. Siapa pun yang pernah mempelajari sejarah Wali Songo pasti tahu bahwa Syekh Lemah Abang adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar. Jika Syekh Siti Jenar pada akhirnya diperintahkan untuk dipenggal kepalanya oleh Wali Songo (Marhiyanto, 2000:120). Lalu bagaimana dengan Ahmad Dhani, apakah juga dipenggal kepalanya? Tentu tidak demikian. Dengan begitu banyak petunjuk tentang simbol-simbol makna di balik popularitas group band “Dewa 19” itu bukan kebetulan tetapi kesengajaan untuk menyebarkan misi-misi ideologi. Gambar berikut simbol “mata satu” berkaitan dengan “ulama”[pendeta, pen.] sesat Lucifer.

Gambar 8
Foto Lucifer yang  ada kaitannya dengan simbol “mata satu”
dan dianggap Ratu Adil oleh pengikutnya

Untuk memahami pengaruh ajaran satanisme, simbologi dan implementasinya di dunia musik, sehingga membentuk kebudayaan pop kita saat ini, kalian bisa menyimak serial “satanisme kebudayaan modern” di channel youtube: www.youtube.com/user/karkoons. Kita dapat menilik lebih jauh lagi sepak terjang Dhani dalam mempropagandakan simboli-simbol  pagan kaballah, Yahudi zionis, illuminati dan freemasonry melalui chanel tersebut. Disamping itu, sebenarnya dalam Agama Islam telah diperingatkan oleh Rosulullah Muhammad SWT tentang adanya dajjal yang bermata satu, yakni
“Aku memperingatkan kamu tentang dia [dajjal- the antichrist], dan tidak ada nabi melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang dia, tapi aku akan menjelaskan kepadamu sesuatu yang belum pernah dijelaskan seorang nabi sebelum aku. Ketahuilah bahwa dia bermata satu. Dan Allah  tidak bermata satu (HR. Bukhari)

Untuk mempelajari lebih jelas tentang  peristiwa sepak terjang tentang kedatangan dajjal tersebut dapat melalui gerakan-gerakan organisasi keumatan yang kelihatan berbasis agama dan menanti-nanti seorang pembaharu Islam yang biasa disebutnya Imam Mahdi, tetapi sebenarnya hanya penyebar fitnah belaka (Dwiko, 2007: 94).
Mata Satu” dalam mitologi Mesir kuno adalah simbol dari dewa Ra atau dewa matahari atau Horus, yakni dewa yang disembah Fir’aun dan kaum pagannya. Juga tuhan yang disembah kaum satanis, pagan-kaballah, Yahudi zionis, illuminati, dan freemason. Tampaknya group band “Dewa 19” terobsesi dengan simbol ini. Di album “lascar cinta” lirik lagu “satu” seakan-akan bercerita tentang bersatunya makhluk dengan sang pencipta. Oleh karena itu, simbol “mata satu” (the all seeing one eye) yang selalu muncul di video klip-nya. Dua penjepit di kanan-kiri adalah simbol bahwa mereka berada di dalam kekuasaan dajjal. Hal ini dapat diperhatikan setiap syair yang menggunakan kata ganti “Mu” yang seakan-akan ditujukan kepada tuhan “mata satu”, maka simbol “mata satu”lah yang selalu muncul. Gambar-gambar berikut merupakan ilustrasi keterkaitan simbol “mata satu” dengan mitologi Mesir kuno dan dajjal.

Gambar 9
Simbol “mata satu” terdapat pada cover CD “Dewa 19”



Gambar 10
Simbol “mata satu” dewa Ra Mesir Kuno
Dalam cover album “terbaik-baik” banyak di temukan simbol-simbol dewa Ra atau dewa matahari seperti terlihat di atas. Gambar ini bisa dilihat pada cover dalam album didesain sedemikian rupa, letak persisnya di paling kanan dimana menjadi background berwarna kuning anggota “Dewa 19”. Di dalam album itu juga terdapat lembaran satu “protocol of zion” atau agenda gerakan zionis untuk menguasai dunia dalam bahasa ibrani disamarkan dengan meletakkan terbalik horizontal untuk dapat membacanya, harus dihadapkan ke cermin. Di samping itu juga bisa ditemukan simbol lingkaran dengan satu titik di tengah (circle with a dot) dikenal sebagai simbol akulet dari organ perempuan yang merupakan simbol pemuja syetan dan dianggap juga sebagai penjelmaan simbol mata syetan (the evil eye).
Dari bulletin freemason, ditulis “sejak para satanisme memuja kegiatan seks dia harus memiliki simbol dari organ wanita untuk digabungkan dengan laki oblisk”. Memang benar satanisme memiliki simbol organ wanita lingkaran dan ketika ditambahkan titik, maka kamu memiliki seks yang lengkap dan lelaki adalah titik dan wanita adalah lingkaran. “Poin with a circle” masonik short talk bulletin, August 1931 volume 9 no 8 reprinted July, 1990, p.4. di sudut kiri bawah cover dalam album “the best of dewa 19” ada gambar kepala seorang gadis rambut panjang terurai di kepala si gadis seolah ada pusaran air. Jika di perbesar maka akan terlihat “pusaran air” dan rambut si gadis itu sesungguhnya adalah simbol mata air dewa Horus,  seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 11
Gadis rambut panjang terurai simbol “pusaran air” dewa Horus atau dewa Ra
Gambar 12
Inside gambar “organ wanita”  simbol Satanisme pemuja kegiatan seks

Di album “Bintang Lima” dan “Atas Nama Cinta” group band “Dewa 19” memakai logo gambar sayap dengan hati di tengahnya. Simbol ini lazim dipakai sebagai salah satu simbol gerakan perkumpulan teosofi Yahudi. Ritual pengikut teosofi biasanya mengadakan upacara pemanggilan arwah atau jin. Simbol “mata satu Horus” secara terang-terangan dijadikan cover depan album “Dewa 19 yang berjudul “Cintailah Cinta”. Dewa Horus adalah dewa bermata satu yang disembah oleh bangsa Pagan (penyembah berhala) Mesir kuno dan dia dikenal juga sebagai dewa Ra (dewa matahari). Dewa ini yang di anggap sebagai tuhan dan disembah oleh illumintai, freemason, dan perkumpulan pemuja syaitan para pelaksana agenda “tatanan dunia baru”. Personifikasi dari simbol syaitan di muka bumi, yang telah melintasi sejarah peradaban manusia Dajjal, Fir’aun terakhir. Personifikasi dari simbol setan di muka bumi ini bisa kita temukan untuk memahami, bahwa Ahmad Dhani mendapatkan inspirasi utuk menamakan group band “Dewa 19”
Gambar 13
Sampul luar CD album “Dewa 19” berlogo “hati bersayap”
merupakan simbol  pengikut teosof
Gambar 14
Simbol pengikut teosofi Yahudi untuk ritual pemanggilan arwah atau jin
.
Laskar Cinta” adalah album ke tujuh “Dewa 19” yang akhirnya menjadi ”batu sandungan” dan membuka selubung semua album-album “Dewa 19” sebelumnya yang sarat dengan kampanye simbol dan lambang Yahudi. Tipologi huruf “Laskar Cinta” yang dibalik dari huruf Ibrani (huruf yang digunakan dalam kitab Yahudi). Di cover dalam ada gambar siluet wajah Ahmad Dhani memakai peci dengan tulisan berpola Arabic seakan bertuliskan “ahmad”. Tapi kenapa huruf alifnya ada cabang. Padahal alif itu tidak harus bercabang. Ini jelas bukan suatu kekhilafan. Jika gambar itu dibalik 180 derajat tulisan yang Arabic yang semula berbunyi “ahmad” menjadi huruf Arabic yang terdiri dari konsonan semua dengan huruf “YHWH” atau bisa di baca kepanjangan dari kata“YaHWeHsecara umum merupakan tuhan tertinggi Yahudi. Begitu juga lambang yang ada pada cover album “Laskar Cinta” simbol dari kata Allah SWT dan Ahmad Dhani sangat memahami itu. Dalam suatu show, dia meletakkan lambang Allah itu di lantai panggung saat konser disalah satu stasiun TV untuk diinjak-injak. Kejadian ini pada akhirnya menuai kecaman dari para ulama. Pada awalnya Ahmad Dhani tidak mau mengakui kesalahan dari tindakannya itu; sampai dia terpojok dan mengakui kesalahannya; akhirnya dia meminta maaf.
Gambar 15
Logo cover album “Laskar Cinta” yang menjadi “batu sandungan”


Gambar 16
Tipologi huruf cover album “Laskar Cinta” tampak seperti huruf Arabic
jika dibalik 180 ̊menjadi huruf Ibrani (dalam kitab Yahudi)


       
Gambar 17
Siluet wajah Ahmad Dhani di pecinya tampak huruf Arabic tertulis “ahmad”
jika dibalik 180  ̊ dibaca “YHWH” ( YaHWeH) sebagai tuhan tertinggi Yahudi
2.    Pemahaman Pemirsa terhadap Makna Simbol-simbol pada Group Band “Dewa 19”
Untuk mengetahui sejauhmana pemahaman pemirsa terhadap makna simbol-simbol di balik popularitas group band “Dewa 19” penulis awalnya mencoba menjajagi wawancara lepas kepada teman-teman ngobrol di rapat RT, di atas kendaraan, di gardu ronda, dan sebagainya. Dari hasil obrolan itu ternyata mendapat jawaban berbeda-beda yang pada intinya mereka tidak paham tentang makna simbol yang dimaksud. Apabila ditanyakan mengenai Ahmad Dhani dengan group band-nya mereka tahu dan menyukai lagu-lagunya, tetapi jika ditanyakan makna simbol-simbol yang dikenakan pada group band “Dewa 19”, mereka rata-rata menjawab tidak tahu.
Mengingat responden lepas tersebut berlatar belakang yang berbeda-beda tingkat pengetahuannya sehingga memicu hasil jawaban yang berbeda-beda pula. Namun, justru penulis termotivasi untuk mengadakan semacam mini research atau penelitian kecil secara formal dan terencana dengan instrumen sederhana berupa gambar-gambar simbol yang dikenakan group band “Dewa 19”. Penelitian kecil ini penulis lakukan di dalam lingkungan SMA negeri 1 Klaten. Alasannya, bahwa lembaga pendidikan merupaka tempat berkumpulnya orang-orang terpelajar yang tingkat pengetahuannya relatif seimbang.
Wawancara sambil menunjukkan gambar-gambar simbol group band “Dewa 19” diambil secara acak terdiri dari siswa, guru dan karyawan. Dari hasil pengumpulan data dapat diidentifikasikan tingkat pemahamannya terhadap makna simbol-simbol yang dikenakan group band “Dewa 19” tersebut. Berdasarkan pengidentifikasian data itu dapat disajikan melalui tabel berikut.

No
Responden
Jumlah
Tingkat Pemahaman
Kurang Paham
Paham
Sangat Paham
1.
2.
3.
Siswa
Guru
Karyawan
100
20
10
54
12
7
32
5
2
14
3
1
Dengan menganalisis data-data di atas dapat kita lihat, bahwa jumlah seluruh responden 130 orang terdiri dari 100 orang siswa, 20 orang guru dan 10 orang karyawan.  Berdasarkan tingkat pemahamannya, seluruh responden yang kurang paham lebih banyak yakni mencapai di atas 50%, bahkan untuk karyawan sampai 70%. Penyebab kekurangpahaman terhadap makna simbol-simbol group band “Dewa 19”, berdasarkan hasil wawancara, rata-rata seluruh responden mengaku kurang membaca, khususnya simbol-simbol Yahudi, sehingga tidak bisa mengkaitkan dengan simbol-simbol yang ada pada group band “Dewa 19”. Sedangkan responden yang paham dan sangat paham rata-rata mereka mengaku telah banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan simbol-simbol Yahudi dan sering mengikuti kajian-kajian agama.

PENUTUP
Menjawab permasalahan yang berdasarkan latar belakang dan tujuan dalam tulisan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Banyak simbol-simbol yang terdapat pada group band “Dewa 19” khususnya assesories yang dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya dan makna simbolik di balik popularitas group band “Dewa 19” kemudian setelah diteliti ada keterkaitannya dengan simbol-simbol ajaran bangsa Yahudi Israel. Dengan mengetahui silsilahnya, maka diduga kuat Ahmad Dhani merupakan antek Yahudi yang disusupkan melalui popularitas group band-nya dan tujuannya untuk propaganda simbol-simbol Yahudi agar penggemarnya terjerat ke perangkap ke dalam pengaruhnya yang akhirnya tidak disadari menjadi gaya hidup Yahudi.
2.      Pemahaman pemirsanya khususnya di SMA Negeri 1 Klaten terhadap makna simbol-simbol yang dikenakan vokalis group band “Dewa 19” Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya berdasarkan hasil survai menunjukkan kurang paham, karena kurang membaca tentang ajaran Yahudi dan tidak pernah ikut kajian-kajian agama. Oleh karena itu, secara umum masyarakat penggemar group band “Dewa 19” selama ini masih belum mendapatkan pencerahan.
Saran yang disampaikan dalam tulisan ini adalah perlu adanya kegiatan pencerahan tentang makna-makna simbolik di balik sebuah popularitas. Untuk itu kita perlu banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan ajaran ideologi dan perbanyaklah mengikuti kajian-kajian agama. Sedangkan guru-guru sebagai pemegang amanah pendidikan moral anak bangsa, perlu untuk membentengi anak didiknya agar tidak terjerat pada ajaran-ajaran sesat yang berkedok sebuah popularitas.
 
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,Irwan. 2006.  Konstruksi dan Reproduksi Kebudayan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bakker, Chris. 2000. Cultural Studies (terjemahan Nurhadi).Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Budiman, Kris. 2004. Semiotika Visual. Yogyakarta: Buku Baik.
Chaldun, Ahmad.2005. Atlas: Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia Wawasan Nusantara dan Dunia. Surabaya: Karya Pembina Swajaya.
Dwiko, R. Firzatullah. 2007. Keluarnya Dajjal. Surabaya: Pustaka Media.
Jaiz, Hartono Ahmad.2008. Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta : Sinar Harapan.
Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.
Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta : Tiara Wacana
Marhiyanto, Bambang. 2000. Siti Jenar Menggugat. Surabaya: Jawara.
Marianto, Dwi. 2006. Quantum Seni. Semarang : Dahara Prize.
Tunner,V. 1977.  The Ritual Proses.Ithaca and London: CornellUniversity Press.
Wahyuni, Niniek Sri dan Yusniati. 2007. Manusia dan Masyarakat.Jakarta: Ganeca Exact.
Waridah Q., Siti, dkk. 2001.  Antropologi untuk SMU. Jakarta ; Bumi Aksara.
Wawancara di SMA Negeri 1 Klaten, 25-26 Maret 2011.
www. youtube.com/user/karkoons

No comments:

Post a Comment