MENGUNGKAP MAKNA SIMBOL POPULARITAS
GROUP BAND “DEWA 19”:
Suatu Kajian Pencerahan
Pendidikan Semiotika Visual
Di SMA Negeri 1 Klaten
Oleh : Waluya, M.Hum.Sn
Guru Seni Budaya SMA Negeri 1 Klaten
ABSTRAK
Popularitas group band “Dewa 19” memang telah
diakui keberadaannya oleh pemirsa atau
penggemarnya
yang memiliki karakter dan warna musik yang berbeda dengan group musik yang lainnya. Begitu juga apresiasi masyarakat penggemarnya tampaknya sudah banyak
memberikan simpati, empati, atau pun penghargaan yang signifikan.
Ahmad Dhani, pimpinan sekaligus vocalis group band
itu seringkali menampilkan tanda-tanda atau
simbol-simbol
ketika menggelar pementasan. Jika diperhatikan assesories
yang dikenakan Ahmad Dhani dan cover
keping CD albumnya yang kemungkinan besar
mengandung makna-makna tertentu. Disamping itu, bisa jadi memiliki misi-misi
untuk suatu propaganda ideologi
tertentu untuk mempengaruhi pemirsanya. Namun sayangnya pemahaman pemirsanya terhadap makna simbol-simbol di balik
popularitas group band “Dewa 19” kebanyakan tidak tahu atau tidak mau tahu. Hal
ini dimungkinkan
karena tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang pendidikan
semiotika sangat terbatas atau bahkan tidak tahu sama sekali.
Tujuan tulisan ini antara lain, ingin mengungkap makna simbol di balik popularitas group band “Dewa 19” untuk pencerahan pendidikan semiotika visual dalam ranah pendidikan
seni budaya di sekolah khususnya di SMA Negeri 1 Klaten. Dalam skala lebih luas untuk menyadarkan
pemirsanya, bahwa secara tidak langsung mereka telah digiring ke dalam
jeratan propaganda ideologi.
Hasil survai di SMA Negeri 1 Klaten dari
seluruh jumlah responden 130 orang
terdiri dari 100 orang siswa, 20 orang guru dan 10 orang karyawan menunjukkan,
bahwa berdasarkan tingkat
pemahamannya, seluruh responden yang kurang paham lebih banyak yakni mencapai
di atas 50%, bahkan untuk karyawan sampai 70%.
Saran yang disampaikan dalam tulisan ini
adalah perlu adanya kegiatan pencerahan tentang makna-makna simbolik
di balik sebuah popularitas. Untuk itu kita perlu banyak membaca buku-buku yang
berkaitan dengan ajaran ideologi dan perbanyaklah mengikuti kajian-kajian
agama. Sedangkan guru-guru sebagai pemegang amanah pendidikan moral anak
bangsa, perlu untuk membentengi anak didiknya agar tidak terjerat pada
ajaran-ajaran sesat yang berkedok sebuah popularitas.
Kata
Kunci:
simbol, dewa 19, semiotika visual.
PENDAHULUAN
Simbolisasi
makna itu perlu
dalam interaksi seniman dengan pemirsanya.
Dengan cara masuk ke dalam tatanan simbolis inilah subjek terbentuk. Bagi Lacan (dalam Chris
Baker, 2000: 91), “simbolis adalah suatu struktur bahasa
dan makna sosial yang diterima yang bersifat melingkupi”. Oleh karena itu, seniman memerlukan juga bahasa baik berupa bahasa rupa maupun suara untuk menyampaian gagasan dalam berkarya seni dan sekaligus dapat dijadikan alat propaganda
suatu ideologi tertentu.
Kreativitas
manusia sepanjang sejarah meliputi banyak kegiatan, di antaranya dalam ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni yang di dalamnya tidak terlepas dari proses
simbolisasi.
Dalam tulisan
ini akan memusatkan perhatian pada proses simbolis budaya populer, yaitu pada realitas
yang lain daripada pengalaman sehari-hari. Proses simbolis meliputi
bidang-bidang agama , filsafat, seni, ilmu, sejarah, mitos dan bahasa (Kuntowijoyo, 2006: 3). Sedemikian luasnya bentuk-bentuk
simbolis, maka dalam tulisan
ini juga akan membatasi
pada beberapa hal yang berkaitan
dengan makna ungkapan dalam kesenian.
Interaksi
antara seniman dengan pemirsanya sangat dibutuhkan demi peningkatan suatu karya
lanjutan maupun dalam
penyampaian pesan ideologi. Interaksi itu berbentuk kritik
atau apresiasi. Seperti dikatakan
Sedyawati (2000:129), bahwa bagi seniman, kritik adalah suatu imbalan
atas jerih payahnya. Alangkah sia-sianya suatu usaha terasa, jika tiada satu
patah kata pun diucapkan pujian maupun
celaan, dapat diharapkan untuk merangsang percobaan-percobaan selanjutnya.
Secara
ideoantropologis setiap manusia memiliki paradigma tentang ideologi yang
berbeda pula. Menurut Althusser (dalam Chris Baker, 2000 : 60), “Ideologi
adalah pengalaman yang dijalani. Disisi lain, ideologi juga dipahami sebagai
seperangkat makna rumit yang menjelaskan dunia (suatu diskursus ideology) dengan cara melakukan misrecognize (salah mengenali) dan misrepresent (salah mempresentasikan) kekuasaan dan relasi kelas.
Ideologi dikatakan mempresenasikan hubungan imajiner individu dengan kondisi
eksistensi nyata mereka”. Dengan demikian
setiap karya seni seorang seniman
cenderung akan mempresentasikan pemaknaan terhadap keadaan peristiwa yang melatarbelakangi mereka dalam berkarya, misalnya pemaknaan
sebab-akibat kebijakan pemerintah,
lingkungan hidup, sosial budaya, keagamaan, dan sebagainya. Artinya,
para seniman akan melahirkan diferensiasi karya seni yang bersifat subjektif dan cenderung membawa misi-misi tertentu untuk
mempengaruhi pemirsanya melalui karya-karyanya.
Di sisi lain kemunculan paham postmodernisme di Barat yang menunjukkan kecenderungan terhadap
subjektifitas dan narasi-narasi kecil. Menurut Sarup (dalam Ratna, 2007: 94),
bahwa postmodernisme adalah gerakan
kultural yang semula terjadi di masyarakat barat tetapi telah menyebar
keseluruh dunia, khususnya dalam bidang seni. Beberapa masalah pokok yang dikaitkan
dengan postmodernisme dalam bidang seni antara lain: hilangnya batas-batas
sekaligus hierarkhi
antara budaya populer dengan budaya elite, budaya massa dengan budaya tinggi.
Dalam karya seni populer
misalnya, hilangnya batas-batas yang tegas antara etika dan estetika.
Dalam menyikapi fenomena budaya populer yang cenderung
bias tersebut, maka diperlukan pemahaman makna di balik popularitas suatu karya
seni. Untuk dapat mengungkap misi yang bisa jadi disembunyikan dalam tampilan
karya seni tersebut dibutuhkan teori yang dapat membedahnya. Dalam ranah teori
kebudayaan dan antropologi, semiotika dapat digunakan sebagai alat mengungkap
makna simbolik sebuah karya seni. “Semiotika, biasanya didefinisikan sebagai
pengkajian tanda-tanda (the study of sign),
pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode yaitu sistem apapun yang
memungkinkan kita memandang etensitas-etensitas sebagai tanda atau sebagai
sesuatu yang bermakna” (Scholes, dalam Budiman, 2004: 3). Dengan demikian
semiotika dapat membantu manusia secara efektif untuk memaknai tanda-tanda di
setiap tempat baik yang kasat mata maupun yang tidak kelihatan.
Studi dan pengkajian tanda-tanda atau kode-kode yang
bersifat kasat mata biasa disebut semiotika visual. Seperti yang dikatakan
Budiman (2004: 13), “Semiotika visual (visual
semiotics) pada dasarnya merupakan salah sebuah bidang studi semiotika yang
secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang
disampaikan melalui sarana indera
lihatan (visual senses)”.
Namun begitu semiotika tidak hanya berfungsi sebagai pengkajian seni rupa
seperti seni lukis, seni patung, seni grafis, seni arsitektur dan sebagainya
semata-mata, melainkan juga segala macam
tanda visual yang sering dianggap bukan karya seni, misalnya lencana, liontin,
mata uang, huruf atau tulisan, perhiasan-perhiasan, dan sebagainya.
Group Band “Dewa 19” dengan pimpinan sekaligus vokalisnya
Ahmad Dhani, merupakan salah satu contoh group band yang memiliki tanda-tanda
atau simbol-simbol. Jika kita perhatikan assesories
yang dikenakan Ahmad Dhani dan cover
keping CD albumnya yang kemungkinan
besar mengandung makna-makna tertentu. Disamping itu, bisa jadi memiliki
misi-misi untuk suatu propaganda tertentu untuk mempengaruhi pemirsanya.
Tujuan tulisan ini antara lain, ingin mengungkap makna di
balik popularitas group band “Dewa 19” dan mengetahui pemahaman terhadap
simbol-simbol yang dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya
untuk pecerahan, yakni untuk menyadarkan
pemirsanya, bahwa secara tidak langsung mereka telah digiring ke dalam
jeratan propaganda ideologinya.
Permasalahan
Di jajaran komunitas kelompok aliran musik,
eksistensi group band “Dewa 19” memang telah diakui keberadaannya
oleh pemirsa atau
penggemarnya yang memiliki karakter dan warna musik yang potensial; berbeda dengan group musik yang lainnya. Begitu juga apresiasi masyarakat penggemarnya nampaknya sudah banyak memberikan simpati, empati,
atau pun penghargaan yang signifikan. Namun sayangnya pemahaman pemirsanya tentang makna di
balik popularitas group band “Dewa 19” kebanyakan tidak tahu atau tidak mau
tahu. Hal ini dimungkinkan karena tingkat pemahaman dan
pengetahuan masyarakat umum tentang
semiotika sangat
terbatas atau bahkan tidak
tahu sama sekali.
Berangkat dari paparan dan tujuan dalam tulisan ini, maka
muncul permasalahan sebagai berikut:
1.
Simbol-simbol
apa saja yang terdapat pada group band “Dewa 19” khususnya assesories yang dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya dan bagaimana makna simbolik di balik popularitas group
band “Dewa 19”?
2.
Bagaimana
pemahaman pemirsanya khususnya di SMA Negeri 1 Klaten terhadap makna
simbol-simbol yang dikenakan vokalis group band “Dewa 19” Ahmad Dhani dan cover keping CD albumnya?
PENDEKATAN TEORI
Kajian
budaya (Culture Studies) merupakan
wahana mengkaji berbagai karya manusia baik yang bersifat fisik maupun non
fisik. Termasuk di dalamnya adalah group
band “Dewa 19” dan komunitas penggemarnya. Seni rupa yang dimanfaatkan sebagai suatu simbol memerlukan pengkajian
secara khusus. Pengkajian yang berkaitan dengan simbolisasi makna di balik popularitas group band belum
banyak dilakukan, apalagi sebagai kajian budaya. Untuk memperjelas uraian
tersebut, Chris Bakker (2000: 35)
mengatakan:
“Unsur yang signifikan dari karya cultural studies tidak bersifat empiris
melainkan bersifat teoretis. Teori dapat dipahami sebagai narasi yang berusaha
membedakan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan. Namun,
teori tidak menggambarkan dunia secara akurat; namun ia adalah alat, instrument
atau logika untuk mengintervensi dunia melalui diskripsi, definisi, prediksi
dan kontrol”.
Dari
pernyataan itu bisa disimpulkan, bahwa teori sebagai alat bantu manusia untuk
mengkaji suatu permasalahan budaya. Chris Bakker melanjutkan, pembentukan teori
melibatkan pemikiran melalui konsep dan argumen, sering kali meredefinisi dan
mengkritisi karya sebelumnya, dengan tujuan menawarkan alat baru yang digunakan
untuk memikirkan dunia kita.
Kebudayaan
dan masyarakat erat kaitannya, karena kebudayaan merupakan isinya, sementara masyarakat
merupakan wadahnya. Terbentuknya produk kebudayaan masyarakat sangat
dipengaruhi oleh aktivitas individu-individu. Seniman sebagai anggota
masyarakat, dengan karya-karyanya mampu untuk berkontribusi dalam memajukan
bidang kesenian di masyarakat. Karya
–karya tersebut dapat menjadi benilai ketika dapat mempengaruhi pandangan hidup
dan dapat menjadikan ideologi pengamatnya.
Seperti dikatakan Koentjaraningrat (1996:76), bahwa nilai budaya terdiri
dari konsep-konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai berharga dan penting
oleh warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman
orientasi pada kehidupan para mayarakat yang bersangkutan.
Seiring
dengan pernyatan itu, Umar Kayam (1981:38) juga menyatakan, kesenian tidak
pernah lepas dari masyarakat. Sebagai salah satu bagian yang penting dari
kebudayaan, kesenian adalah ungkapan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri.
Masyarakat yang menyangga kebudayaan dan dengan demikian juga kesenian
mencipta, member peluang untuk bergerak, memelihara, menularkan, mengembangkan
untuk kemudian menciptakan kebudayaan baru lagi.
Memahami
kebudayaan harus dimulai dengan mendefinisikan ulang kebudayaan itu sendiri,
bukan sebagai kebudayaan generik;
yang merupakan pedoman yang diturunkan, tetapi sebagai kebudayaan diferensial; yang dinegosiasikan dalam
keseluruhan interaksi sosial. Kebudayaan bukanlah suatu warisan yang secara
turu-tumurun dibagi bersama atau dipraktikkan secara kolektif, tetapi menjadi
kebudayaan yang lebih bersifat situasional yang keberadaannya tergantung pada
karakter kekuasaan dan hubungan-hubungan yang berubah dari waktu ke waktu.
(Abdullah, 2006: 9)
Menurut
Clifford Geertz (dalam Abdullah, 2006:1) bahwa kebudayaan itu, merupakan pola
dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh
dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. Pada bagian
selanjutnya, dia juga mengatakan bahwa kebudayaan itu merupakan sistem mengenai
konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia
dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya
terhadap kehidupan.
Masyarakat
adalah sebuah sistem, yaitu sistem sosial
budaya. Apabila kita mengartikan masyarakat sebagai sekumpulan manusia yag
saling bergaul dan berinteraksi antara sesamanya berdasarkan norma-norma atau
nilai yang berlaku, maka sistem sosial budaya dapat diartikan sebagai berikut.
Sistem sosial budaya adalah suatu kesatuan di mana terjadi proses penyesuaian
di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga mencapai
keserasian (Waridah, dkk. 2001:69). Maka dari itu, keseimbangan sosial adalah syarat yang
harus dipenuhi agar suatu masyarakat bias berfungsi
sebagaimana mestinya. Yang dimaksudkan
dengan keseimbangan atau ekuilibrium
sosial adalah situasi di
mana segenap lembaga sosial utama berfungsi dan saling tunjang-menunjang. Dalam
keadaaan seperti ini tiap warga masyarakat bisa memperoleh ketentraman batin,
karena tidak ada konflik norma
dan nilai dalam masyarakat. (Selo Soemardjan, 1981:30)
1.
Makna Simbolisasi
Visual
Ada
banyak cara untuk mencari hubungan antara simbol dan masyarakat. Manheim (dalam
Kuntowijoyo, 2006:1) mencoba mencari hubungan antara suatu kelompok kepentingan
tertentu dalam masyarakat dan pikiran serta modus berpikir yang medasari pengetahuannya. Menurut Maryanto (2006:113),
bahwa makna tidak terletak dalam objek atau orang atau benda, tidak pula dalam
dari tulisan yang kita coretkan, atau tidak pula dalam bentuk grafis yang kita
goreskan, melainkan kitalah yang memastikan/ menetapkan makna atas hal-hal yang
kita buat atau lakukan, sehingga setelah beberapa lama apa yang kita buat dan
lakukan itu tampak alamiah dan tak terhindarkan. Makna dikonstruksikan dengan
sistem reprsentasi. Makna dikonstruksi dan ditetapkan dengan kode yang
menetapkan korelasi antara sistem konseptual dan sistem bahasa kita sedemikian
rupa sehingga dapat dipahami.
Untuk
mengungkapkan makna simbol secara mendalam, menurut Victor Tunner perlu
memahami strukturnya yang terbagi dalam tiga bagian. Pertama, ialah struktur bentuk luar yang dapat diamati ciri-cirinya
atau disebut juga signans. Kedua, adalah Struktur berbagai arti
dari simbol tersebut atau signata.
Struktur yang ketiga, adalah signifikansi,
yaitu merupakan aktualisasi arti simbol dalam suatu konteks tertentu. (Tunner,
1982:19).
2.
Metode Memahami Makna
Simbolisasi Visual
Untuk
memahami
makna simbolis di balik
popularitas group band “Dewa 19”, yaitu dengan mengadakan mini
research dengan pengumpulan data. Secara garis besar pengumpulan
data lapangan ini menggunakan teknik wawancara
mendalam sambil menunjukkan
gambar-gambar simbol kepada responden.
Wawancara
dengan dilakukan terlebih dahulu menentukan
sejumlah responden di SMA
Negeri 1 Klaten berdasarkan statusnya, yakni sebagai guru atau siswa
dalam rangka memperoleh data mengenai objek. Dengan diklasifikasikannya berdasarkan status tersebut, maka akan
mempermudah memperoleh data yang diharapkan. Wawancara dilakukan untuk
memperoleh gambaran umum tentang
pemahaman guru dan siswa terhadap makna simbolis di balik popularitas group
band “Dewa 19” berdasarkan tingkat pengetahuannya.
PEMBAHASAN
Menyimak lagu-lagu group band “Dewa 19” memang sangat
menarik perhatian pendengarnya, apalagi penggemarnya yang masih muda
remaja. Hal ini karena lirik lagunya
cukup memukau dan menggiring emosi perasaan bercinta maupun bernuansa religi.
Disamping itu dipimpin dan sekaligus didukung oleh vokalisnya yang bernama
Ahmad Dhani Manaf yang berparas tampan yang menjadi idola penggemar wanita.
Oleh karena itu, tidak sedikit para penggemarnya yang setia menjadikan panutan
dan bahkan sampai banyak secara tidak sadar senang menggambar atau mengoleksi
souvenir simbol-simbol yang dikenakan Ahmad Dhani.
Kepiawaian Ahmad Dhani
di atas panggung pun tidak diragukan lagi untuk menyanyikan syair-syair
lagunya. Banyak sekali syair lagu cinta yang diciptakan yang digandrungi anak-anak muda baik
laki-laki maupun wanita. Bagi penggemar yang dewasa, mereka disuguhi lagu-lagu
bernuansa religi/ agama. Oleh karenanya wajar kalau di kalangan orang dewasa
pun ketika diperlihatkan potongan foto Ahmad Dhani yang hanya terlihat dagunya
saja mereka bisa menebaknya (Wawancara, 25-26 Maret 2011). Namun, kenyataannya
dari hasil survei menunjukkan ketidakpahaman masyarakat terpelajar terhadap makna
simbol di balik popularitas group band tersebut. Untuk mengetahui sejauhmana
perihal itu, akan dibahas lebih lanjut berikut ini.
1. Makna
Simbol di Balik Popularitas Group Band “Dewa 19”
Untuk mengungkap simbol-simbol apa saja yang terdapat
pada group band “Dewa 19” khususnya assesories
yang dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover
keping CD albumnya dan bagaimana
makna simbolik di balik popularitas group band “Dewa 19” ini, maka dapat kita
cermati latar belakang Ahmad Dhani sebagai pimpinan sekaligus vokalisnya
terlebih dahulu.
Siapa
sebenarnya Ahmad Dhani? Nama
aslinya Dhani Ahmad
Manaf, kemudian seperti tradisi dunia panggung hiburan untuk
kepentingan popularitas dibaliklah nama ayahnya di depan menjadi “Ahmad Dhani”.
Pada bagian ucapan terimakasih dalam
album “laskar cinta”, Dhani
menulis untuk Jan
Pieter Frederich
Kohler, berbunyi: thanks
for the gen. Siapa
Jan Pieter Frederich Kohler? Jan Pieter Frederich Kohler adalah kakek dari garis keturunan
ibu kandungnya seorang Yahudi
Jerman. Ibu kandung Dhani bernama Joyce Theresia Pamela Kohler. Itulah kenapa dhani berterima
kasih kepada opanya atas keunggulan
genetika yang diterimanya. Thank you for
the gen artinya secara
jujur Dhani berterima
kasih kepada kakeknya atas genetika darah Yahudi yang ia warisi.
Dalam ajaran kitab Talmud, bangsa Yahudi sangat menjunjung superior rasnya
secara genetika, dan menganggap ras lainnya adalah binatang/bukan manusia (goyim/gentiles), maka mereka yang di luar gennya diyakini ditakdirkan
untuk menjadi budaknya. Itulah
kenapa Dhani
berterimakasih kepada opanya atas
keunggulan genetika yang diterimanya. Oleh karena itu, dia giat mempublikasikan simbol-simbol Yahudi zionis. Dhani sering tampil di atas panggung dengan memakai kalung
bintang Daud
berbentuk bintang segi enam sebagai simbol
zionis Israel. Khalayak umum
sudah mengetahui, bahwa dalam lambang kenegaraan, bintang segi enam itu
merupakan gambar bendera negara Israel (Chaldun, 2005: 97). Untuk lebih
jelasnya dapat kita perhatikan potongan foto wajah Ahmad Dhani berikut ini.

Gambar
1
Potongan
wajah Ahmad Dhani memakai kalung bintang Daud

Gambar 2
Bentuk bintang segi enam lambang bendera Negara Israel
Pada sampul muka album
pertama group band “Dewa
19” terdapat gambar
piramida tidak
sempurna (unfinished pyramid) yang
terpancung pada bagian
ujungnya. Nama “Dewa
19” dalam mitologi Judaisme atau agama Yahudi, angka 19 dikenal sebagai “bintang kegelapan”
(dark star).
Di sisi angka 19 merupakan satu ajaran salah satu pokok
ajaran Rashad Khalifa yang dianggapnya Al Qur’an itu memiliki kelipatan 19 yang
memiliki hubungan dengan gerakan feminisme
dan karena pada akhirnya menyatakan dirinya sebagai rosul, maka ajaran ini
dianggap sesat. (Jaiz, 2008: 154). Jika diteliti secara
cermat bagian atas piramida tersebut tidak sempurna yang diselubungi
kabut itu akan terlihat samar sebuah lingkaran bulat berwarna gelap yang
mewakili bola mata, sama seperti simbol-simbol gerakan illuminati, masonik,
dan perkumpulan rahasia lainnya menjalankan agenda “tatanan dunia baru”. Implementasi dari agenda ini adalah upaya menghegemonikan
mata uang dollar Amerika bergambar sama yakni piramida terpotong di puncaknya. Apakah
ini kebetulan atau kesengajaan,
maka bisa kita selidiki lebih mendalam.

Gambar 3
Sampul album pertama “Dewa 19” bergambar piramida

Gambar 4
Mata uang dollar Amerika bergambar piramida terpotong di
puncaknya
Gambar piramida yang terdapat pada mata uang dollar
Amerika itu kalau diperbesar di puncak piramida menunjukkan gambar “mata satu”.
Artinya ini ada keterkaitan atau kesamaan ideologis antara Amerika dan Israel.
Bahkan akan terlihat berkaitan dengan simbol-simbol Yahudi lainnya seperti pada
gambar berikut ini.

Gambar 5
Pembesaran piramida terpotong pada mata uang dollar
Amerika
sekaligus sebagai simbol “mata satu”

Gambar 6
Simbol gerakan Illuminati

Gambar 7
Simbol gerakan Masonik
Dengan memperhatikan gambar-gambar di atas, tampaknya
Dhani sangat senang menggunakan istilah “mata satu”. Hal ini bisa kita
perhatikan dalam lirik-lirik lagunya. Lalu apa yang terkandung
dalam lirik lagu-lagu
“Dewa 19”? Sebagai contoh, Lirik lagu sweetest place adalah sebuah lirik
penantian akan ratu adil akan datangnya “yang dinantikan” yang bisa membuat
kehidupan menjadi menyenangkan, dan yang dinanti adalah “mata
satu”. Adapun bunyi liriknya
sebagai berikut:
I am welcoming “an eye” into the darkest one
It’s tell me not to worry
For the time is yet to come
For someone to arrive
Ratu adil yang
dinantikan itu adalah “mata
satu” dalam kaballah,
doktrin luciferian “the eye” atau “mata satu” merupakan “mata Lucifer” sang pangeran penguasa kegelapan
sekaligus sang penguasa alam raya dajjal
antichrist.
Dalam album “lascar
cinta” ada sebuah lagu berjudul satu lirik lagu itu bagaikan kerinduan yang teramat
sangat seorang kekasih kepada pujaan hatinya. Benarkah pujaan hatinya itu berupa seorang gadis, ternyata tidak. Hal ini bisa dicermati pada
cover
versi CD,
di bawah lirik lagu terdapat ucapan terimakasih kepada Syekh Lemah Abang. Keduanya, yakni Lucifer dan Syeh Lemah Abang
adalah ulama sesat penganut wahdatul wujud atau istilah lain dalam sufisme Barat bernama ajaran satanisme. Lirik
lagu tersebut merupakan manifestasi dari paham sesat “bersatunya makhluk dengan pencipta”. Siapa pun yang pernah mempelajari
sejarah Wali
Songo pasti tahu bahwa Syekh Lemah Abang adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar. Jika Syekh Siti Jenar pada akhirnya diperintahkan untuk
dipenggal kepalanya oleh Wali
Songo (Marhiyanto, 2000:120). Lalu
bagaimana dengan Ahmad Dhani, apakah juga dipenggal kepalanya?
Tentu tidak demikian. Dengan begitu banyak petunjuk tentang simbol-simbol makna di balik popularitas group
band “Dewa 19” itu bukan kebetulan tetapi kesengajaan untuk menyebarkan misi-misi ideologi.
Gambar berikut simbol “mata satu” berkaitan dengan “ulama”[pendeta, pen.] sesat Lucifer.

Gambar
8
Foto
Lucifer yang ada kaitannya dengan simbol
“mata satu”
dan
dianggap Ratu Adil oleh pengikutnya
Untuk
memahami pengaruh ajaran
satanisme,
simbologi dan implementasinya di dunia musik, sehingga membentuk kebudayaan pop kita saat ini, kalian bisa menyimak
serial “satanisme kebudayaan modern” di channel
youtube: www.youtube.com/user/karkoons. Kita dapat menilik lebih jauh lagi sepak
terjang Dhani
dalam mempropagandakan simboli-simbol
pagan
kaballah, Yahudi
zionis, illuminati dan freemasonry melalui chanel tersebut. Disamping itu, sebenarnya dalam
Agama Islam telah diperingatkan oleh Rosulullah Muhammad SWT tentang adanya dajjal yang bermata satu, yakni
“Aku memperingatkan
kamu tentang dia [dajjal- the
antichrist],
dan tidak ada nabi melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang dia,
tapi aku akan menjelaskan kepadamu sesuatu yang belum pernah dijelaskan seorang
nabi sebelum aku. Ketahuilah bahwa dia bermata satu. Dan
Allah tidak bermata
satu (HR. Bukhari)
Untuk
mempelajari lebih jelas tentang
peristiwa sepak terjang tentang kedatangan dajjal tersebut dapat melalui gerakan-gerakan organisasi keumatan
yang kelihatan berbasis agama dan menanti-nanti seorang pembaharu Islam yang
biasa disebutnya Imam Mahdi, tetapi sebenarnya hanya penyebar fitnah belaka
(Dwiko, 2007: 94).
“Mata Satu” dalam mitologi Mesir kuno adalah simbol dari dewa Ra atau dewa matahari atau Horus, yakni dewa yang disembah Fir’aun dan kaum pagannya.
Juga tuhan yang disembah kaum satanis,
pagan-kaballah, Yahudi zionis, illuminati, dan freemason. Tampaknya group band “Dewa 19” terobsesi dengan simbol ini. Di album “lascar cinta” lirik
lagu “satu” seakan-akan bercerita tentang bersatunya makhluk dengan sang
pencipta. Oleh karena itu,
simbol “mata satu”
(the all seeing one eye) yang selalu
muncul di video klip-nya. Dua penjepit
di kanan-kiri adalah simbol
bahwa mereka berada di dalam kekuasaan dajjal.
Hal ini dapat diperhatikan setiap syair
yang menggunakan kata ganti “Mu” yang seakan-akan ditujukan kepada tuhan “mata satu”, maka simbol “mata satu”lah yang selalu muncul. Gambar-gambar berikut merupakan ilustrasi keterkaitan
simbol “mata satu” dengan mitologi Mesir kuno dan dajjal.

Gambar
9
Simbol
“mata satu” terdapat pada cover CD “Dewa 19”

Gambar
10
Simbol
“mata satu” dewa Ra Mesir Kuno
Dalam cover album “terbaik-baik” banyak di
temukan simbol-simbol dewa Ra atau dewa matahari seperti terlihat di atas. Gambar ini bisa dilihat pada cover
dalam album didesain sedemikian rupa, letak persisnya di paling kanan dimana
menjadi background berwarna kuning anggota “Dewa 19”. Di dalam album itu juga terdapat
lembaran satu
“protocol of zion”
atau agenda gerakan zionis untuk
menguasai dunia dalam bahasa ibrani disamarkan dengan meletakkan terbalik
horizontal untuk dapat membacanya, harus dihadapkan ke cermin. Di samping itu juga bisa ditemukan simbol lingkaran dengan satu titik di
tengah (circle with a dot) dikenal
sebagai simbol
akulet dari organ perempuan yang merupakan
simbol pemuja
syetan dan dianggap juga sebagai penjelmaan simbol “mata syetan” (the
evil eye).
Dari bulletin freemason, ditulis “sejak para satanisme memuja kegiatan
seks dia harus memiliki simbol
dari organ wanita untuk digabungkan dengan laki oblisk”. Memang benar satanisme memiliki simbol organ wanita lingkaran dan ketika
ditambahkan titik, maka kamu memiliki seks yang lengkap dan lelaki adalah titik
dan wanita adalah lingkaran. “Poin with a
circle” masonik short talk bulletin, August 1931 volume 9 no 8 reprinted July, 1990, p.4.
di sudut kiri bawah cover dalam album
“the best of dewa 19” ada gambar
kepala seorang gadis rambut panjang terurai di kepala si gadis seolah ada
pusaran air. Jika di perbesar maka
akan terlihat “pusaran air” dan rambut si gadis itu sesungguhnya adalah simbol mata air dewa Horus, seperti terlihat
pada gambar berikut ini.

Gambar
11
Gadis
rambut panjang terurai simbol “pusaran air” dewa Horus atau dewa Ra

Gambar
12
Inside
gambar “organ wanita” simbol Satanisme pemuja kegiatan seks
Di album “Bintang Lima” dan “Atas Nama Cinta” group band “Dewa 19” memakai logo gambar sayap dengan
hati di tengahnya.
Simbol ini lazim dipakai sebagai salah
satu simbol gerakan
perkumpulan teosofi Yahudi. Ritual pengikut teosofi biasanya mengadakan upacara
pemanggilan arwah atau jin. Simbol
“mata satu Horus”
secara terang-terangan
dijadikan cover depan album “Dewa 19“ yang berjudul “Cintailah Cinta”. Dewa Horus adalah dewa bermata satu yang
disembah oleh bangsa Pagan
(penyembah berhala) Mesir
kuno dan
dia dikenal juga sebagai dewa Ra
(dewa matahari). Dewa ini yang di anggap sebagai tuhan dan disembah oleh illumintai, freemason, dan perkumpulan
pemuja syaitan
para pelaksana agenda “tatanan dunia baru”. Personifikasi dari simbol syaitan di muka
bumi, yang telah melintasi sejarah peradaban
manusia Dajjal,
Fir’aun
terakhir. Personifikasi dari simbol
setan di muka bumi ini bisa kita
temukan
untuk memahami, bahwa Ahmad Dhani mendapatkan
inspirasi utuk menamakan group
band “Dewa 19”

Gambar
13
Sampul
luar CD album “Dewa 19” berlogo “hati bersayap”
merupakan
simbol pengikut teosof

Gambar
14
Simbol
pengikut teosofi Yahudi untuk ritual pemanggilan arwah atau jin
.
“Laskar
Cinta” adalah album ke tujuh “Dewa 19” yang akhirnya menjadi ”batu sandungan” dan membuka selubung semua album-album “Dewa 19” sebelumnya yang sarat dengan
kampanye simbol dan lambang
Yahudi. Tipologi huruf “Laskar
Cinta” yang dibalik dari huruf Ibrani (huruf yang digunakan dalam kitab Yahudi). Di cover dalam ada gambar siluet
wajah Ahmad Dhani
memakai peci dengan tulisan berpola Arabic seakan bertuliskan “ahmad”. Tapi
kenapa huruf alifnya
ada cabang.
Padahal alif itu tidak harus
bercabang. Ini jelas bukan suatu kekhilafan. Jika gambar itu dibalik 180
derajat tulisan yang Arabic yang semula berbunyi “ahmad” menjadi huruf Arabic
yang terdiri dari konsonan semua dengan huruf “YHWH” atau bisa di baca kepanjangan dari kata“YaHWeH”
secara umum merupakan tuhan tertinggi Yahudi. Begitu juga lambang yang ada pada cover
album “Laskar Cinta” simbol dari kata Allah SWT dan Ahmad Dhani sangat memahami
itu. Dalam suatu show, dia meletakkan
lambang Allah
itu di lantai panggung saat konser disalah satu stasiun TV untuk diinjak-injak. Kejadian ini pada akhirnya menuai kecaman dari
para ulama.
Pada awalnya Ahmad Dhani tidak mau mengakui
kesalahan dari tindakannya itu; sampai dia terpojok dan mengakui kesalahannya; akhirnya dia meminta maaf.

Gambar
15
Logo
cover album “Laskar Cinta” yang
menjadi “batu sandungan”

Gambar
16
Tipologi
huruf cover album “Laskar Cinta”
tampak seperti huruf Arabic
jika
dibalik 180 ̊menjadi huruf Ibrani (dalam kitab Yahudi)
![]() |
![]() |
Gambar 17
Siluet wajah Ahmad Dhani di pecinya tampak huruf Arabic
tertulis “ahmad”
jika dibalik 180 ̊ dibaca “YHWH” ( YaHWeH) sebagai tuhan tertinggi Yahudi
2. Pemahaman
Pemirsa terhadap Makna Simbol-simbol pada Group Band “Dewa 19”
Untuk mengetahui sejauhmana pemahaman pemirsa terhadap
makna simbol-simbol di balik popularitas group band “Dewa 19” penulis awalnya
mencoba menjajagi wawancara lepas kepada teman-teman ngobrol di rapat RT, di
atas kendaraan, di gardu ronda, dan sebagainya. Dari hasil obrolan itu ternyata
mendapat jawaban berbeda-beda yang pada intinya mereka tidak paham tentang
makna simbol yang dimaksud. Apabila ditanyakan mengenai Ahmad Dhani dengan
group band-nya mereka tahu dan menyukai lagu-lagunya, tetapi jika ditanyakan
makna simbol-simbol yang dikenakan pada group band “Dewa 19”, mereka rata-rata
menjawab tidak tahu.
Mengingat responden lepas tersebut berlatar belakang yang
berbeda-beda tingkat pengetahuannya sehingga memicu hasil jawaban yang
berbeda-beda pula. Namun, justru penulis termotivasi untuk mengadakan semacam mini research atau penelitian kecil
secara formal dan terencana dengan instrumen sederhana berupa gambar-gambar
simbol yang dikenakan group band “Dewa 19”. Penelitian kecil ini penulis
lakukan di dalam lingkungan SMA negeri 1 Klaten. Alasannya, bahwa lembaga
pendidikan merupaka tempat berkumpulnya orang-orang terpelajar yang tingkat
pengetahuannya relatif seimbang.
Wawancara sambil menunjukkan gambar-gambar simbol group
band “Dewa 19” diambil secara acak terdiri dari siswa, guru dan karyawan. Dari
hasil pengumpulan data dapat diidentifikasikan tingkat pemahamannya terhadap
makna simbol-simbol yang dikenakan group band “Dewa 19” tersebut. Berdasarkan
pengidentifikasian data itu dapat disajikan melalui tabel berikut.
|
No
|
Responden
|
Jumlah
|
Tingkat Pemahaman
|
||
|
Kurang Paham
|
Paham
|
Sangat Paham
|
|||
|
1.
2.
3.
|
Siswa
Guru
Karyawan
|
100
20
10
|
54
12
7
|
32
5
2
|
14
3
1
|
Dengan menganalisis
data-data di atas dapat kita lihat, bahwa jumlah seluruh responden 130 orang terdiri dari 100 orang
siswa, 20 orang guru dan 10 orang karyawan. Berdasarkan
tingkat pemahamannya, seluruh responden yang kurang paham lebih banyak yakni
mencapai di atas 50%, bahkan untuk karyawan sampai 70%. Penyebab kekurangpahaman
terhadap makna simbol-simbol group band “Dewa 19”,
berdasarkan hasil wawancara, rata-rata seluruh responden mengaku kurang
membaca, khususnya simbol-simbol Yahudi, sehingga tidak bisa mengkaitkan dengan
simbol-simbol yang ada pada group band “Dewa 19”. Sedangkan responden yang
paham dan sangat paham rata-rata mereka mengaku telah banyak membaca buku-buku
yang berkaitan dengan simbol-simbol Yahudi dan sering mengikuti kajian-kajian
agama.
PENUTUP
Menjawab permasalahan
yang berdasarkan latar belakang dan tujuan
dalam
tulisan ini dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Banyak simbol-simbol yang terdapat pada group band “Dewa
19” khususnya assesories yang
dikenakan vokalisnya, Ahmad Dhani dan cover
keping CD albumnya dan makna simbolik
di balik popularitas group band “Dewa 19” kemudian setelah diteliti ada
keterkaitannya dengan simbol-simbol ajaran bangsa Yahudi Israel. Dengan
mengetahui silsilahnya, maka diduga kuat Ahmad Dhani merupakan antek Yahudi
yang disusupkan melalui popularitas group band-nya dan tujuannya untuk
propaganda simbol-simbol Yahudi agar penggemarnya terjerat ke perangkap ke
dalam pengaruhnya yang akhirnya tidak disadari menjadi gaya hidup Yahudi.
2. Pemahaman pemirsanya khususnya di SMA Negeri 1 Klaten
terhadap makna simbol-simbol yang dikenakan vokalis group band “Dewa 19” Ahmad
Dhani dan cover keping CD albumnya berdasarkan hasil survai menunjukkan kurang paham, karena
kurang membaca tentang ajaran Yahudi dan tidak pernah ikut kajian-kajian agama.
Oleh karena itu, secara umum masyarakat penggemar group band “Dewa 19” selama
ini masih belum mendapatkan pencerahan.
Saran yang disampaikan
dalam tulisan ini adalah perlu adanya
kegiatan pencerahan tentang makna-makna simbolik di balik sebuah popularitas.
Untuk itu kita perlu banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan ajaran
ideologi dan perbanyaklah mengikuti kajian-kajian agama. Sedangkan guru-guru
sebagai pemegang amanah pendidikan moral anak bangsa, perlu untuk membentengi
anak didiknya agar tidak terjerat pada ajaran-ajaran sesat yang berkedok sebuah
popularitas.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah,Irwan.
2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bakker,
Chris. 2000. Cultural Studies
(terjemahan Nurhadi).Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Budiman, Kris.
2004. Semiotika Visual. Yogyakarta:
Buku Baik.
Chaldun,
Ahmad.2005. Atlas: Ilmu Pengetahuan
Sosial Indonesia Wawasan Nusantara dan Dunia. Surabaya: Karya Pembina
Swajaya.
Dwiko, R.
Firzatullah. 2007. Keluarnya Dajjal.
Surabaya: Pustaka Media.
Jaiz, Hartono
Ahmad.2008. Nabi-nabi Palsu dan Para
Penyesat Umat. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta : Sinar Harapan.
Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.
Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta : Tiara Wacana
Marhiyanto,
Bambang. 2000. Siti Jenar Menggugat.
Surabaya: Jawara.
Marianto, Dwi. 2006. Quantum Seni. Semarang : Dahara Prize.
Tunner,V. 1977.
The Ritual Proses.Ithaca and
London: CornellUniversity Press.
Wahyuni, Niniek Sri dan Yusniati. 2007. Manusia dan Masyarakat.Jakarta: Ganeca
Exact.
Waridah Q., Siti, dkk. 2001. Antropologi
untuk SMU. Jakarta ; Bumi Aksara.
Wawancara di SMA
Negeri 1 Klaten, 25-26 Maret 2011.
www. youtube.com/user/karkoons


No comments:
Post a Comment