Saturday, 16 February 2013


AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN TIONGHOA
DALAM MOTIF BATIK TULIS LASEM
SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER BANGSA

Oleh : Waluyo
NIM. S701008016

A. Latar Belakang
Batik tulis Lasem di Kabupaten Rembang merupakan salah satu dari warisan budaya masyarakat pesisir Jawa Tengah. Secara fungsional seni batik yang dikenal dewasa ini, tidak dapat dipisahkan dengan "tata nilai" dalam kehidupan masyarakat. Kain batik di samping digunakan untuk melindungi badan dari pengaruh iklim, cuaca serta serangan dari binatang kecil seperti nyamuk, juga dapat menunjukkan tingkat peradaban dan budaya dari masyarakat pendukungnya. Hal ini tercermin dalam berbagai jenis kain  batik  dengan  motif-motifnya.  Motif-motif  tersebut  terkandung  ide-ide, gagasan,  norma-norma,  nilai etika dan estetika yang secara umum menggambarkan keadaan budaya masyarakat pendukungnya.

Setiap daerah yang mengerjakan pembatikan satu dan yang lain mernpunyai keunikan atau  kekhasan  masing-masing.  Keunikan  tersebut dapat dilihat  alam  ragam  hias maupun tata warnanya. Keunikan tersebut dipengaruhi berbagai hal sistem kepercayaan, tata kehidupan maupun alam sekitarnya. Batik  sebagai  warisan budaya  tersebar di  berbagai daerah di Indonesia, tidak terkecuali di Lasem, Jawa Tengah. Batik yang terdapat menyebar di gallery atau show room di Lasem merupakan jenis koleksi yang menarik. Aneka ragam koleksi kain batik dengan berbagai motif yang tersimpan di dalamnya berasal dari berbagai pengusaha batik. Batik-batik tersebut bila dilihat secara cermat tampak perbedaan motif batik antara produk pengusaha yang satu dengan yang lain. Namun demikian, banyak juga terdapat persamaan-persamannya, misalnya dari bentuk ragam hias, motif, warna dan sebagainya. Melalui keaneka-ragaman  dan persamaan tersebut akhirnya mampu menarik minat dan dimanfaatkan oleh pengunjung, maupun pengkaji budaya untuk mengungkap makna yang terkandung dalam ragam hias batik, motif, warna dan sebagainya.
Asal -usul batik Lasem  tidak  ada  keterangan yang  pasti. Akan tetapi keberadaan Batik Lasem erat kaitannya dengan datangnya bangsa asing terutama bangsa Cina atau Tionghoa. Menurut data sejarah, orang Cina mendarat pertama kali di Indonesia berada di Lasem  kemudian  mereka  ke  Kudus, Demak dan seterusnya.  (Wahono, 2004: 33). Oleh karena itu, sebagian besar orang menyebutnya Lasem sebagai “Tiongkok kecil” karena Lasem merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa bernama Laksamana Cheng Ho di tanah Jawa. Kemudian  mereka para pengikut Chen Ho menetap di perkampungan tertentu yang dikenal Kampung Pecinan.
Di Lasem, Kampung Pecinan tersebut banyak dijumpai rumah-rumah tua berpagar tembok tinggi dan kokoh dengan bercorak khas Tionghoa. Di balik tembok yang kokoh itulah mereka melakukan aktivitas membuat batik dengan pekerjanya sebagian besar dari penduduk pribumi. Akibat aktivitas perbatikan dikuasai oleh kaum etnis Tionghoa itu,  maka di Lasem ada dua jenis batik yaitu batik dengan selera Tionghoa dan batik dengan selera pribumi.
Untuk menambah argumentasi kesejarahan, di Lasem juga terdapat banyak bangunan peribadatan agama Budha seperti Klenteng. Peninggalan Klenteng yang terkenal dan bersejarah di Lasem adalah Klenteng Gie Yong Bio, yang didirikan tahun 1780 menghormati para leluhur yang berani dan berbudi sebagai pahlawan kota Lasem dalam melawan VOC Belanda sekitar tahun 1742-1750 (Sigit Wicaksono atau Nyo Sun Yan, wawancara: Sabtu, 22 September 2012). Di samping itu di Lasem terdapat patung Buddha terbaring yang berlapis emas yang merupakan peninggalan sejarah Tionghoa (Merri C. Purnomo, wawancara: Sabtu, 22 September 2012). Kerajinan Batik Lasem sangat terkenal sejak lama yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1413 batik Lasem, Rembang ini cepat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani atau mencolok. Batik Lasem, Rembang sangat diminati banyak orang, tidak sekedar para kolektor batik saja.
Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa motif batik Lasem  diduga kuat memiliki latarbelakang akulturasi antara  budaya Jawa dengan budaya Cina Tionghoa. Akulturasi budaya tersebut dapat dirasakan di kawasan kota Lasem pada umunya tidak ada sekat komunikasi antara kedua etnis itu untuk saling mengisi ruang-ruang budaya, seperti pola berfikir, perkawinan campuran, pembauran adat-istiadat, ritual keagamaan, tata busana dan etos kerja. Oleh karena itu, motif batik Lasem memiliki karakteristik  tersendiri dibandingkan dengan motif-motif batik di wilayah lain. Kalau di wilayah lain, seperti Yogya, Solo, Pekalongan, Cirebon dan lain-lain motif batiknya berkarakter primodialisme lokal, tetapi motif batik Lasem memiliki karakter kebangsaan. Pertanyaannya, adalah seperti apakah bentuk motif Lasem yang memiliki latar belakang akulturasi budaya dan bagaimana proses terjadinya akulturasi antara kedua etnis pribumi Jawa dengan pendatang Cina Tionghoa sehingga dapat dikatakan sebagai pembentuk karakter bangsa?

B. Pendekatan Teori  dan Paradigma
Akulturasi budaya dalam batik tulis Lasem merupakan fenomena budaya tersendiri dalam khasanah batik di Indonesia. Istilah akulturasi, menurut Koentjaraningrat (1999: 155), tidak bisa lepas dari kontak budaya (culture contact) yang menyangkut konsep mengenai proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayan asing sehingga unsur-unsur asing itu lambat-laun diterima dan diolah ke dalam kebudayan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. Kondisi demikian itu tampak terjadi di daerah  kecamatan Lasem, kabupaten Rembang, provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, dalam pengkajian batik tulis Lasem ini, akan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan motif batik tulis Lasem yang berkarakter kebangsaan.
Secara visual, pendekatan semiotis adalah untuk mengkaji bentuk motif batik Lasem dianggap sebagai simbol. Sementara untuk pembahasan yang dipakai adalah menggunakan pendekatan deskripsi analitis dengan "pendekatan tekstual". Pendekatan teks di sini adalah seni batik dianggap sebagai teks yang harus dibaca dan kemudian ditasirkan seperti halnya seseorang membaca sebuah teks yang pembacanya boleh memberikan tafsir apa saja dengan bebas. Oleh karena itu, pemaknaan "teks" tentang motif batik Lasem, tafsir seorang pengkaji atau peneliti yang satu dengan yang lainnya dapat berbeda. Yang penting adalah dukungan data yang mampu memperkuat dan mendukung tafsir yang dikemukakannya (Ahimsa Putra, 1999: 404). Guna mencapai pengertian makna motif dan warna batik secara mendalam juga dilakukan pendekatan kualitatif.
Dengan mencermati motif hias pada kain, maka batik dapat dikatakan bagian dari karya seni. Sebagai karya seni maka batik dapat dilihat dari berbagai paradigma. Paradigma dalam tulisan ini adalah anggapan dasar, model dan konsep yang digunakan dalam memahami dan menafsirkan apa yang hendak dikaji. (Ahimsa Putra,1999: 399). Batik dalam kajian ini tidak mutlak hanya berbicara. tentang seni yang penuh dengan nilai-nilai, estetika dan keindahan saja namun dilihat pula dalam tataran paradigma seni itu sendiri yang memiliki latar belakang sosial-budaya dalam kehadirannya.
Tataran paradigma kajian ini adalah karya seni batik Lasem dilihat sebagai teks. Teks yang dimaksud dalam kajian ini adalah motif hiasan yang tertuang dalam sebuah kain batik Lasem. Batik Lasem sebagai karya seni yang dianggap sebagai teks dalam sebuah paradigma, maka berusaha diungkap makna-makna dalam motif hiasnya.
Batik Lasem seperti halnya karya seni yang lain adalah bentuk ekspresi diri dari si pembuatnya. Sedangkan ekspresi diri seseorang tersebut dipengaruhi oleh diri pelaku dan sosial-budaya yang melingkupinya. Namun demikian pada dasarnya alam pikir manusia memiliki dasar-dasar kesamaan dalam berpikir. Untuk mengungkap dasar-dasar persamaan makna motif batik digunakan paradigma yang ada dalam fenomena kebahasaan. Hal ini dikarenakan antara karya seni dan bahasa terdapat kemiripan dalam kekehadirannya. Kemiripan tersebut adalah seni dipandang sebagai sebuah ekspresi, wujud atau simbol dari pandangan-pandangan atau perasaan - perasaan manusia. Pandangan dan perasaan manusia tersebut kemudian ingin dikomunikasikan seperti halnya bahasa.
Oleh karena aspek pengungkapan ekspresi dan komunikasi tersebut, maka batik Lasem memiliki aspek langue dan parole seperti bahasa. Menurut F. de Sussure, langue adalah khasanah tanda bahasa, suatu sistem lambang atau sistem tanda-tanda bahasa atau seperangkat hubungan di antara tanda‑tanda bahasa yang stabil atau dengan kata lain adalah sistem unsur-unsur yang saling bergantung, yang nilai  masing­-masingnya ditentukan oleh keberadaan dari unsur-unsur lain secara serentak. Singkatnya, langue merupakan keseluruhan sistematis yang dibangun oleh aturan-aturan yang mendahului dan melampaui tiap penutur individual dan yang terdiri dari hubungan-hubungan antara unsur-unsur dan massing-masing mempunyai fungsi diakritis sendiri. Fungsi diakritis yaitu fungsi yang didasarkan atas berjalannya waktu. Hal yang pokok dalam aspek langue dari bahasa pada umumnya tidak disadari atau tidak diketahui oleh pemakai bahasa itu sendiri. Kalau tidak disadari, bukan berarti bahwa aturan-aturan atau tata bahasa tersebut tidak ada. Sedangkan Parole adalah tuturan yang berada pada individu. Jadi tutur individu yang satu dengan inividu yang lain kemungkinan berbeda. Oleh karena itu, Parole atau tutur seorang dapat pula dianggap gaya atau style dalam menggunakan bahasa (Cremers, 1997: 99 -107)
Sementara itu, batik Lasem sebagai seni dapat dilihat sebagai sistem bunyi, seperti yang diungkapkan oleh Levi-Strauss dalam melihat seni. Levi-Strauss  melihat, bahwa sistem bunyi dalam bahasa pada dasarnya bersifat oposisi biner. Menurut Levi Strause, oposisi binner adalah akal manusia secara spontan dan tak sadar menyusun segala tingkat realitas yang beraneka ragam lewat logika aposisi yang saling bertentangan dan bentuknya berpasangan seperti pria/wanita, gelap/terang, alam/kebudayaan, siang/malam, gunung/laut, telanjang/ berpakaian dan seterusnya (Keesing: 1992: 116 -117).
Berbagai motif batik di daerah Lasem merupakan basil kreativitas manusia. Kreativitas berupa aneka ragam motif hias perorangan manusia dalam pandangan Levi Strause adalah ilusi. Ilusi itu sendiri berarti sesuatu yang tidak sesuai dengan penginderaan atau hanya khaya!an saja. Kreativitas tersebut merasang dan tetap mengikuti "jejak-jejak" proses ciptaan seorang seniman lain dan tidak pernah sendirian karena mau tak mau ia harus menegaskan dirinya lain dengan seniman lainnya. Namun demikian seorang seniman tak pernah berjalan sendiri dalam proses penciptaan sebuah karya seni (Cremes, 1997: 205-206). Dengan demikian, pendekatan teori dan paradigma yang telah diuraikan di atas dapat dipergunakan untuk menganalisis sebagian besar motif batik, khususnya motif batik Lasem sebagai bentuk perwujudan akulturasi budaya.

C. Batik Tulis Lasem Cermin Akulturasi Budaya Bangsa
Batik dalam arti sederhana adalah suatu gambar yang berpola, motif dan coraknya dibuat secara khusus dengan menggunakan teknik tutup-celup. Bahan yang digunakan untuk teknik tutup adalah malam dan alatnya adalah canting tulis, canting cap, kuas atau alat lainnya. Cara membuatnya dengan ditulis, dicap atau ditera dilukis pada kain, seperti mori, katun, teteron, sutera dan lain-lain. Garis besar pengertian tersebut sesuai dengan pengertian yang dikemukakan Shadily (1980: 417) sebagai berikut"
" .... Batik adalah suatu cara untuk melukis di atas kain (mori, katun, teteron katun, adakalanya kain sutera dll.) dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin yang disebut juga malam (bahasa Jawa: Jilin), yang biasanya dibuat dari Jilin lebah yang kuning dicampur dengan parafin damar atau colophonium...."

Berdasarkan pengertian di atas, maka apabila sebuah kain bermotif pada saat proses pengerjaannya menggunakan Jilin atau malam, maka kain tersebut dapat dianggap sebuah kain batik. Sedangkan sehelai kain meskipun bercorak batik tidak bisa disebut batik apabila tidak menggunakan proses perintang Jilin atau malam, maka kain itu  hanya disebut kain bercorak batik
Secara geografis, batik dapat dibagi menjadi dua, yaitu batik pesisir dan non-pesisir. Batik non-pesisir atau “batik dalam” adalah batik tradisional yang umumnya masih memegang pakem. Batik-batik ini banyak dijumpai di daerah Solo dan Jogjakarta. Batik-batik ini dahulu kebanyakan dipakai oleh kalangan terbatas saja seperti para kerabat keraton dan untuk acara tertentu saja. Bahkan,  dalam acara tertentu itu, juga harus menggunakan corak dan motif tertentu pula. Sebagai contoh pada acara perkawinan, kain batik yang digunakan harus bermotif Sidomukti dan atau Sidoluhur. Untuk acara mitoni (tujuh bulan kehamilan), kain batik yang boleh digunakan adalah bermotif Ceplok Garuda dan atau Parang Mangkoro (Kristanti, 2009: 43). Demikian juga untuk acara-acara upacara adat yang lain harus mengenakan motif yang kain pula.
Berbeda dengan batik pesisir yang memiliki kebebasan berekspresi, yaitu corak dan motifnya tidak memiliki pakem. Pada umumnya batik pesisir memiliki kekayaan motif beraneka ragam dan warnanya pun cerah, sehingga berkesan berani dan cantik. Sesuai letak geografisnya yang bersifat terbuka, batik pesisir ini berpotensi untuk berakulturasi dengan budaya asing, seperti motif bunga-bunga seperti bunga teratai dipengaruhi oleh India, bunga tulip dari Eropa dan sebagainya. Motif hewan banyak juga dijumpai pada batik pesisir, seperti motif burung, kupu-kupu yang diperkuat warna merah dipengaruhi oleh China. Sementara motif-motif hewan laut, seperti kerang, ikan, dan bintang laut lainnya adalah motif asli batik tulis pesisir nusantara. Motif asli batik tulis pesisir ini dapat ditemui di daerah Pekalongan, Cirebon, Lasem, Tuban, Tanjung Bumi-Bangkalan, Madura pada umumnya.
Batik tulis Lasem sebagai salah satu produk batik pesisir sangat familiar bagi masyarakat pecinta batik nusantara, karena batik tulis Lasem bernilai seni tinggi dan sarat dengan makna filosofis kehidupan. Batik tulis Lasem memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lain, baik dari secara visual seperti komposisi warna, motif dan ragam hiasnya. Berdasarkan data di showroom batik  setempat, terbukti batik tulis Lasem khususnya batik lawas atau batik klasik, menjadi salah satu motif batik pesisiran yang diburu oleh kolektor batik seni. Motif batik pesisiran yang dimaksudkan adalah motif-motif yang mencerminkan kehidupan sosial-budaya masyarakat Lasem, misalnya motif Naga, Lok Can dan Sekar Jagat.

1.        Batik Lasem Naga
Batik tulis Lasem tidak bisa lepas dari pengaruh makhluk mitologi bernama Naga. Oleh karena itu, bentuk binatang Naga atau disebut juga The Dragon selalu hadir meliuk dalam ornamen utama motif Batik Lasem. Secara semiotis, Naga menjadi sebuah simbol keberadaan batik Lasem itu sendiri. Dengan demikian keberadaan Naga yang secara visua bebentuk ular raksasa ganas ini menjadi tidak membahayakan. Sang Naga justru memoncerkan eleganitas keindahan Batik Lasem. Ornamen utama motif Naga menjadi bagian penting dari keanekaragaman motif Batik Lasem, karena eksotismenya mampu memperkokoh eksitensi Batik Lasem.
Gambar 1
Motif Naga pada Batik Tulis Lasem
(Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)

Dari detail ornamen The Dragons, di atas tampak jelas batik Lasem Naga sangat orientalis. Tampilan naga dengan tanduk, sungut, dan cakar, menandakan Liong atau Lung begitu dominatif. Dominasi Liong dipertegas stilisasi Kilin yang bersuka ria memperebutkan bola api. Pada bagian tengah divariasikan dengan hiasan meander untuk memberikan kesan perjalanan hidup.
Filosofisasi Liong dalam Batik Lasem tidak bisa dipungkiri. Selain sarat nilai seni yang tinggi, Batik Lasem Naga dapat diintepretasikan sebagai refleksi harapan-harapan mulia, serta simbolisasi perjalanan spiritualisme. Dalam tradisi Cina, Naga berkaitan erat dengan sumber kekuatan alam. Wajar jika akhirnya Sang Naga selalu melambangkan kekuatan alam yang mahadahsyat layaknya angin taufan. Tidak hanya itu, Naga juga dipersonifikasi sebagai penjelmaan roh orang suci yang belum bisa masuk surga. Roh orang suci menjelma menjadi Naga kecil yang masuk ke bumi untuk tidur dan meditasi dalam waktu lama. Setelah tubuh tumbuh membesar, Naga bangun, bangkit dan akhirnya terbang ke surga.
Warna Naga juga bermakna filosofis. Naga Merah, Naga Biru, Naga Putih, hingga mencapai Naga Emas, merupakan simbolisasi stratifikasi spiritualisme. Perbedaan warna Naga bermakna perjalanan langkah demi langkah menuju nirwana atau surga. Namun, Batik Lasem Naga tetaplah multitafsir. Stilisasi dan visualisasi Naga dalam ornamen utama motif Batik Lasem selalu terbuka bagi tumbuh berkembangnya intepretasi lintas tradisi. Dengan lintas tradisi inilah, baik secara visual maupun filosofis melahirkan sebuah bentuk akulturasi budaya.
Motif Naga memberikan bukti, bahwa antara etnis Tionghoa dan Jawa di daerah Lasem telah terjadi akulturasi budaya. Baik China maupun Jawa sama-sama memiliki motif Naga. Sebagaimana etnis Tionghoa, naga pada etnis Jawa juga tidak dimaknai sebagai binatang raksasa yang ganas dan menakutkan banyak orang, tetapi justru mendatangkan kemakmuran.
Dalam buku Patmasana karangan Cudamani (tanpa tahun: 21) ditemukan istilah Naga Anantaboga yang diyakinin oleh umat Hindu sebagai simbol kemakmuran. Seperti yang termaktub dalam buku Patmasana di atas sebagai berbunyi:
“… setelah Sang Hyang trimurti sampai di angkasa, maka Bhatara Brahma mohon ijin kepada Bhatara Iswara untuk terjun ke pertiwi. Setelah Bhatara Brahma memasuki pertiwi, maka berubahlah wujud beliau menjadi naga yang bernama Naga Anantaboga. Bulu-bulu Sang Hyang Anantaboga menjadi tumbuh-tumbuhan. Sehingga makmurlah manusia tidak kekurangan pangan”.

Berdasarakan penggalan cerita di atas dapat disimpulkan, bahwa naga dalam pengertian itu bukanlah makhluk yang menakutkan tetapi makhluk yang dapat memberikan kemakmuran pada umat manusia. Perlu juga diketahui, bahwa Anantaboga dalam bahasa Sanksekerta berasal dari dua kata, yakni  “ananta” dan “boga”. Ananta artinya tidak habis-habis dan boga artinya pangan. Jadi Anantaboga adalah pangan yang tidak habis-habis yang diberikan oleh ibu pertiwi. Dalam alam konteks sosial-budaya, memiliki makna luas, bahwa Naga dapat dimaknai sebagai binatang yang dapat memberikan kemanfaatan bagi orang lain, khususnya dalam rangka turut memakmurkan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara melalui usaha pengentasan kemiskinan. Untuk melihat bentuk akulturasinya, dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2 Motif Batik Lasem Naga modifikasi
(Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)


Dengan demikian, ada tiga bentuk akulturasi budaya yang tersirat dari gambar di atas, yakni motif, warna dan filosofinya. Bentuk motif Naga sudah tidak begitu kentara gaya Tionghoa, namun sudah tampak terjadi pembauran dengan gaya Jawa. Hal ini dapat diperhatikan cara penggambaran Naga sudah lebih diperhalus, lunak dan tampak tenang, sehingga tidak terkesan garang lagi. Dengan demikian, sifat-sifat kejawaannya sangat jelas. Sementara dari segi warnanya, sudah tidak menggunakan warna merah, tetapi telah dicampurkan dengan warna lain, sehingga menimbulkan warna baru yang memiliki keterpaduan cirikhas warna antara kedua etnis Tionghoa dan Jawa. Begitu juga, setelah memperbandingkan keduanya, Baik batik Naga motif Tionghoa dan Jawa memiliki kesaman nilai filosofi, bahwa naga merupaka simbol keberuntungan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

2.    Batik Lasem Lok Can
Budayawan Tionghoa di Lasem, Sigid Witjaksono (82 th) yang mengaku memiliki nama kecil Njo Tjoen Hian menjelaskan, bahwa  kata Lok Can dalam bahasa Cina berasal  dari dua kata yakni, Lok artinya biru dan Can berarti sutera. Jadi batik Lok Can adalah batik berbahan sutera dengan motif berwarna biru. Memang batik Lasem Lok Can awalnya selalu dibuat berbahan sutera. Motif batik didominasi warna biru, khususnya biru muda dengan latar belakang warna putih atau krem dan harganya pun sangat mahal.
Namun, saat ini banyak dijumpai Batik Lasem Lok Can berbahan katun primisima super halus dan dengan variasi warna yang semakin menarik terjangkau harganya (wawancara: Sabtu, 22 September 2012). Dengan demikian, saat ini batik motif Lok Can keberdaannya sudah sudah bersifat terbuka, baik dari segi bahan maupun warna motifnya.
Demikian juga dalam pendesainan bentuk motifnya pun saat ini sudah banyak mengalami modifikasi dan disatukan dengan objek yang lain seperti motif hewan atau tumbuhan. Sebagaimana disampaikan oleh pengusaha batik tulis Lasem, Merry C. Purnomo (56 th), bahwa ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stilisasi burung Hong atau burung phoenix. Meski adakalanya dimodifikasi dengan motif burung kecil, seperti walet atau sriti, yang banyak terdapat di Lasem. Stilisasi The Phoenix tersebut sering diharmonisasikan dengan motif flora dan fauna (wawancara: Sabtu, 22 Septeber 2012). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada ganbar berikut.

Gambar 3
Batik tulis Lasem Lok Can dengan motif Burung Hong
 (Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)


Gambar di atas bentuk motif dan beacgroundnya masih mendekati aslinya. Hal ini dapat diperhatikan pada motifnya masih menunjukkan bentuk burung Hong atau Phoenix yang sebenarnya, yakni kepala berjengger, bersayap melebar keatas dan berekor lancur dengan gerak terbang yang masih teratur. Begitu juga beacground berwarna putih mendekati krem untuk memperlihatkan bahan suteranya. Setelah mengalami modifikasi, maka batik Lok Can menjadi bervariasi. Motif burung Hong-nya diubah bentuknya menyerupai burung Sriti di Jawa. Komposisinya juga dibuat sesuai selera pembatiknya menjadi lebih dinamis dan atraktif. Sementara warnanya juga beraneka ragam dan bahkan beacgroundnya pun dibuat merah, sehingga tampak kontras sekali. Namun, justru cirikhas batik Cinanya lebih kentara.  Di samping itu, juga dapat menjadi simbol pembauran etnis Tionghoa dan Jawa, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Gambar 4
Motif Burung Hong yang menyerupai burung Sriti Jawa
 (Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)

Dengan demikian, batik tulis Lasem motif Lok Can  yang dahulu dipergunakan untuk kegiatan berkabung (toa hwa) dengan simbol warna biru, saat ini justru mengalami perubahan sedemikian rupa hingga menjadi berbagai macam warna. Fenomena perkembangan batik Lasem Lok Can ini menimbulkan pro dan kontra. Bagi yang kontra dia tidak setuju apabila orang berkabung memakai Lok Can warna merah. Sebaliknya bagi yang pro lebih menekankan segi artistik dan estetis, bahkan dengan adanya perubahan itu justru akan menambah keaneragaman Lok Can itu menjadi lebih memasyarakat.
Namun, Merry mengingatkan, selain bernilai artistik-estetis, Batik Lasem Lok Can mesti tetap harus memiliki makna filosofis sosial-budaya, karena akan menjadi cirikhasnya. Misalnya, burung Phoenix atau Hong melambangkan kebajikan, prestasi, dan keabadian. Oleh karena itu, apabila  seseorang menginginkan aura kebajikan dan prestasi selalu terpatri di dalam aura pribadi seseorang, maka disarankan sering mengenakan busana batik tulis Lasem Lok Can. Dengan demikian, bagi yang percaya busana batik tulis  Lasem motif Lok Can dapat membantu memotivasi seseorang untuk menjadi pribadi bernilai plus yang penuh kebajikan dan berprestasi.

3.    Batik Lasem Sekar Jagad
Asumsi masyarakat pada umumnya berkonotasi, bahwa istilah Sekar Jagad adalah suatu pemandangan alam yang indah dan di dalamnya berupa  taman yang tumbuh beraneka ragam bunga warna-warni jenisnya, harum semerbak baunya. Tentunya asumsi ini tidak salah dengan memaknai istilah itu sebagai bentuk simbolisasi naturalistis. Menurut Sigid Witjaksono (82 th), kata Sekar Jagad berasal dari kata dalam bahasa Jawa “kar” artinya peta dan “jagad” artinya dunia. Jadi Sekar Jagad dapat diartikan peta dunia. Namun, dia memperluas pengertiannya itu menjadi simbolisasi keanekaragaman di seluruh dunia atau dengan kata lain alam semesta.
Dengan demikian, berbeda dengan batik tulis Lasem Naga dan Lok Can yang motifnya cenderung mempertahankan bentuk dasarnya untuk berakulturasi, batik sekar jaga jagad lebih terbuka untuk menerima bentuk akulturasi. Hal ini dapat untuk menekan asumsi, bahwa batik tulis Lasem memicu multitafsir pada pengamatnya. Artinya, kehadiran motif Sekar Jagad dalam batik tulis Lasem akan menciptakan keanekargaman unsur budaya dan tata kelolanya agar dunia terasa indah, damai dan harmonis.
Dibandingkan dengan motif batik pada umumnya, unsur sekar atau bunga itu sekedar menjadi pelengkap atau dalam istilah batik mejadi “isen-isen” untuk mengharmoniskan keindahan, batik Lasem Sekar Jagad memiliki dominasi bunga, puspa atau kembang yang distilisasi seperti  mawar, melati, matahari dan lain-lain. Batik tulis Lasem Sekar Jagat lebih mudah menerima kolaborasi dengan bentuk flora, fauna dan benda-benda lain. Oleh karena itu, batik Lasem Sekar Jagad di balik status keklasikannya tidak mudah tergeser oleh budaya batik kontemporer.
Gambar 5 Motif Sekar Jagad Klasik Latar Biru
(Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)
Gambar 6
Motif Sekar Jagad Kolaboratif Flora dan Fauna
(Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)


Dua contoh gambar di atas menunjukkan, bahwa terdapat perbedaan mengenai motifnya. Pada gambar 5 menampilkan motif bunga-bunga dengan latar biru yang menunjukkan cirikhas batik Sekar Jagad yang masih asli dan belum mengalami pengembangan. Sementara pada gambar 6 tampak merupakan komposisi bunga sulur-sulur khas Jawa dan divariasiasikan dengan binatang gajah. Berdasarkan pengakuan Merry (wawancara: 22 September 2012), gajah merupakan binatang yang suci yang dipercayai dalam agama budha, baik di Cina maupun di Jawa. Kalau latar beacground warna merah menunjukkan khas warna Cina. Dengan memadukan keduanya, maka motif batik Sekar Jagad di atas dapat mewakili pembauran etnis Jawa dan Cina. Pembauran atau akulturasi lainnya dapat dilihat pada gambar berikut.

1 comment:

  1. Titip sosialisasi ilmu seni musik baru untuk nguri-uri budoyo jawi, bagi bpk/ibu yg ingin ilmu gitar khusus langgam jawa,monggo brosing youtube tulis widodo prasetyo utomo, maturnuwun

    ReplyDelete