AKULTURASI
BUDAYA JAWA DAN TIONGHOA
DALAM
MOTIF BATIK TULIS LASEM
SEBAGAI
PEMBENTUK KARAKTER BANGSA
Oleh : Waluyo
NIM. S701008016
A.
Latar Belakang
Batik tulis Lasem di Kabupaten Rembang merupakan
salah satu dari warisan budaya masyarakat pesisir Jawa Tengah. Secara fungsional seni batik yang dikenal dewasa ini, tidak dapat dipisahkan
dengan "tata nilai" dalam kehidupan masyarakat. Kain batik di samping digunakan
untuk melindungi badan dari pengaruh iklim, cuaca
serta serangan dari binatang kecil seperti nyamuk, juga dapat menunjukkan
tingkat peradaban dan
budaya dari masyarakat pendukungnya. Hal ini tercermin dalam berbagai jenis kain batik dengan
motif-motifnya. Motif-motif tersebut terkandung
ide-ide, gagasan, norma-norma,
nilai etika dan
estetika yang secara umum menggambarkan keadaan budaya masyarakat pendukungnya.
Setiap daerah yang mengerjakan pembatikan
satu dan yang lain
mernpunyai keunikan atau kekhasan masing-masing. Keunikan tersebut dapat dilihat alam ragam
hias maupun tata warnanya. Keunikan tersebut dipengaruhi berbagai
hal sistem kepercayaan, tata kehidupan maupun alam sekitarnya. Batik sebagai warisan budaya
tersebar di berbagai daerah di Indonesia, tidak terkecuali di
Lasem, Jawa Tengah. Batik
yang terdapat menyebar di gallery
atau show room di Lasem merupakan jenis koleksi yang menarik. Aneka
ragam koleksi kain batik dengan berbagai motif yang tersimpan di dalamnya
berasal dari berbagai pengusaha
batik. Batik-batik tersebut bila dilihat secara cermat tampak perbedaan motif batik antara produk
pengusaha yang satu dengan yang
lain. Namun demikian, banyak juga terdapat persamaan-persamannya, misalnya dari
bentuk ragam hias, motif, warna dan sebagainya. Melalui keaneka-ragaman dan persamaan tersebut akhirnya mampu menarik minat dan dimanfaatkan
oleh pengunjung, maupun pengkaji budaya untuk mengungkap makna yang terkandung
dalam ragam hias batik, motif, warna dan sebagainya.
Asal -usul batik Lasem tidak ada
keterangan yang pasti. Akan tetapi keberadaan Batik Lasem erat kaitannya dengan datangnya bangsa asing terutama bangsa Cina
atau Tionghoa. Menurut data sejarah,
orang Cina mendarat pertama kali di Indonesia berada di Lasem kemudian mereka ke Kudus,
Demak dan seterusnya. (Wahono, 2004:
33). Oleh karena itu, sebagian
besar orang menyebutnya Lasem sebagai “Tiongkok kecil” karena Lasem merupakan
kota awal pendaratan orang Tionghoa bernama Laksamana Cheng Ho di tanah Jawa. Kemudian
mereka para pengikut Chen Ho menetap di
perkampungan tertentu yang dikenal
Kampung Pecinan.
Di Lasem, Kampung Pecinan tersebut banyak dijumpai rumah-rumah tua berpagar tembok tinggi dan kokoh dengan bercorak khas Tionghoa. Di balik tembok yang kokoh
itulah mereka melakukan aktivitas membuat
batik dengan pekerjanya sebagian besar dari penduduk pribumi. Akibat
aktivitas perbatikan dikuasai oleh kaum etnis Tionghoa itu, maka di
Lasem ada dua jenis batik yaitu batik dengan selera Tionghoa dan batik dengan
selera pribumi.
Untuk menambah argumentasi kesejarahan, di Lasem juga terdapat banyak bangunan
peribadatan agama Budha seperti Klenteng. Peninggalan Klenteng yang terkenal
dan bersejarah di Lasem adalah Klenteng Gie Yong Bio, yang didirikan tahun 1780
menghormati para leluhur yang berani dan berbudi sebagai pahlawan kota Lasem
dalam melawan VOC Belanda sekitar tahun 1742-1750 (Sigit Wicaksono atau Nyo Sun
Yan, wawancara: Sabtu, 22 September 2012). Di samping itu di Lasem terdapat patung
Buddha terbaring yang berlapis emas yang merupakan peninggalan sejarah Tionghoa
(Merri C. Purnomo, wawancara: Sabtu, 22 September 2012). Kerajinan Batik Lasem
sangat terkenal sejak lama yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1413 batik
Lasem, Rembang ini cepat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang
indah dengan pewarnaan yang berani atau mencolok. Batik Lasem, Rembang sangat diminati
banyak orang, tidak sekedar para kolektor batik saja.
Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan
bahwa motif batik Lasem diduga kuat
memiliki latarbelakang akulturasi antara
budaya Jawa dengan budaya Cina Tionghoa. Akulturasi budaya tersebut
dapat dirasakan di kawasan kota Lasem pada umunya tidak ada sekat komunikasi
antara kedua etnis itu untuk saling mengisi ruang-ruang budaya, seperti pola
berfikir, perkawinan campuran, pembauran adat-istiadat, ritual keagamaan, tata
busana dan etos kerja. Oleh karena itu, motif batik Lasem memiliki
karakteristik tersendiri dibandingkan
dengan motif-motif batik di wilayah lain. Kalau di wilayah lain, seperti Yogya,
Solo, Pekalongan, Cirebon dan lain-lain motif batiknya berkarakter primodialisme
lokal, tetapi motif batik Lasem memiliki karakter kebangsaan. Pertanyaannya,
adalah seperti apakah bentuk motif Lasem yang memiliki latar belakang
akulturasi budaya dan bagaimana proses terjadinya akulturasi antara kedua etnis
pribumi Jawa dengan pendatang Cina Tionghoa sehingga dapat dikatakan sebagai
pembentuk karakter bangsa?
B.
Pendekatan Teori dan Paradigma
Akulturasi budaya dalam batik tulis Lasem merupakan fenomena
budaya tersendiri dalam khasanah batik di Indonesia. Istilah akulturasi, menurut
Koentjaraningrat (1999: 155), tidak bisa lepas dari kontak budaya (culture contact) yang menyangkut konsep
mengenai proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu
kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayan asing
sehingga unsur-unsur asing itu lambat-laun diterima dan diolah ke dalam
kebudayan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.
Kondisi demikian itu tampak terjadi di daerah
kecamatan Lasem, kabupaten Rembang, provinsi Jawa Tengah. Oleh karena
itu, dalam pengkajian batik tulis Lasem ini, akan menggunakan pendekatan yang
sesuai dengan motif batik tulis Lasem yang berkarakter kebangsaan.
Secara visual, pendekatan semiotis adalah untuk mengkaji bentuk
motif batik Lasem dianggap sebagai simbol. Sementara untuk pembahasan yang
dipakai adalah menggunakan pendekatan deskripsi analitis dengan
"pendekatan tekstual". Pendekatan
teks di sini adalah seni batik dianggap sebagai teks yang harus dibaca dan kemudian ditasirkan seperti
halnya seseorang membaca sebuah teks yang pembacanya boleh memberikan tafsir apa saja dengan bebas. Oleh
karena itu, pemaknaan
"teks" tentang motif batik Lasem, tafsir seorang pengkaji atau peneliti yang satu dengan yang
lainnya dapat berbeda. Yang penting
adalah dukungan data yang mampu memperkuat
dan mendukung tafsir yang dikemukakannya (Ahimsa Putra, 1999: 404). Guna mencapai pengertian makna motif dan warna batik secara mendalam juga
dilakukan pendekatan kualitatif.
Dengan mencermati motif hias pada kain, maka
batik dapat dikatakan bagian
dari karya seni. Sebagai karya seni maka batik dapat dilihat dari berbagai paradigma. Paradigma dalam
tulisan ini adalah anggapan dasar, model dan konsep
yang digunakan dalam
memahami dan menafsirkan apa yang hendak dikaji. (Ahimsa Putra,1999: 399). Batik
dalam kajian ini tidak mutlak hanya berbicara. tentang seni yang penuh dengan nilai-nilai, estetika dan keindahan saja namun dilihat pula dalam
tataran paradigma seni itu sendiri yang
memiliki latar belakang sosial-budaya dalam kehadirannya.
Tataran paradigma kajian ini adalah karya seni batik Lasem dilihat
sebagai teks. Teks yang dimaksud dalam
kajian ini adalah motif hiasan yang
tertuang dalam sebuah kain batik Lasem. Batik Lasem sebagai karya seni yang dianggap sebagai teks dalam sebuah
paradigma, maka berusaha diungkap makna-makna dalam motif hiasnya.
Batik Lasem seperti halnya karya seni yang
lain adalah bentuk ekspresi
diri dari si pembuatnya. Sedangkan ekspresi diri seseorang tersebut dipengaruhi oleh diri pelaku dan
sosial-budaya yang melingkupinya. Namun demikian
pada dasarnya alam pikir manusia
memiliki dasar-dasar kesamaan dalam berpikir. Untuk mengungkap dasar-dasar persamaan makna motif batik digunakan paradigma yang ada
dalam fenomena kebahasaan. Hal ini dikarenakan antara
karya seni dan bahasa terdapat
kemiripan dalam kekehadirannya. Kemiripan tersebut adalah seni dipandang sebagai sebuah ekspresi, wujud atau simbol dari
pandangan-pandangan atau perasaan
- perasaan manusia. Pandangan dan perasaan manusia tersebut kemudian ingin dikomunikasikan
seperti halnya bahasa.
Oleh karena aspek pengungkapan ekspresi dan komunikasi tersebut, maka batik Lasem memiliki
aspek langue dan parole
seperti bahasa. Menurut F. de Sussure, langue
adalah khasanah tanda bahasa, suatu sistem lambang
atau sistem tanda-tanda bahasa atau seperangkat
hubungan di antara tanda‑tanda bahasa yang
stabil atau dengan kata lain adalah sistem unsur-unsur yang saling bergantung, yang nilai masing-masingnya ditentukan oleh keberadaan dari unsur-unsur lain secara serentak. Singkatnya, langue merupakan
keseluruhan sistematis yang
dibangun oleh aturan-aturan yang mendahului dan melampaui tiap penutur individual dan yang terdiri dari hubungan-hubungan antara unsur-unsur dan
massing-masing mempunyai fungsi diakritis
sendiri. Fungsi diakritis yaitu fungsi
yang didasarkan atas berjalannya waktu. Hal yang pokok dalam aspek langue dari bahasa pada
umumnya tidak disadari atau tidak
diketahui oleh pemakai bahasa itu sendiri. Kalau tidak disadari, bukan berarti bahwa aturan-aturan atau tata bahasa tersebut tidak ada. Sedangkan Parole adalah tuturan yang berada
pada individu. Jadi tutur individu
yang satu dengan inividu yang lain
kemungkinan berbeda. Oleh karena itu, Parole atau tutur seorang dapat pula dianggap gaya atau style dalam
menggunakan bahasa (Cremers, 1997:
99 -107)
Sementara itu, batik Lasem sebagai seni
dapat dilihat sebagai sistem
bunyi, seperti yang diungkapkan oleh Levi-Strauss dalam melihat seni. Levi-Strauss melihat, bahwa sistem bunyi dalam bahasa pada dasarnya bersifat oposisi
biner. Menurut Levi
Strause, oposisi binner adalah akal
manusia secara spontan dan tak
sadar menyusun segala tingkat realitas yang beraneka ragam lewat logika aposisi yang saling
bertentangan dan bentuknya
berpasangan seperti pria/wanita, gelap/terang, alam/kebudayaan, siang/malam,
gunung/laut, telanjang/ berpakaian
dan seterusnya (Keesing: 1992: 116 -117).
Berbagai motif batik di daerah Lasem merupakan
basil kreativitas manusia.
Kreativitas berupa aneka ragam motif hias perorangan manusia dalam pandangan Levi Strause adalah
ilusi. Ilusi itu sendiri
berarti sesuatu yang tidak sesuai dengan penginderaan atau hanya khaya!an saja. Kreativitas
tersebut merasang dan tetap
mengikuti "jejak-jejak" proses ciptaan seorang seniman lain dan tidak pernah sendirian karena mau
tak mau ia harus menegaskan
dirinya lain dengan seniman lainnya. Namun demikian seorang seniman tak pernah berjalan sendiri dalam proses
penciptaan sebuah karya seni (Cremes, 1997: 205-206). Dengan demikian,
pendekatan teori dan paradigma yang telah diuraikan di atas dapat dipergunakan
untuk menganalisis sebagian besar motif batik, khususnya motif batik Lasem
sebagai bentuk perwujudan akulturasi budaya.
C. Batik Tulis Lasem Cermin Akulturasi Budaya
Bangsa
Batik dalam arti sederhana adalah suatu gambar yang berpola,
motif dan coraknya dibuat secara khusus dengan menggunakan teknik tutup-celup. Bahan yang digunakan untuk teknik tutup adalah malam dan alatnya adalah
canting tulis, canting cap, kuas atau
alat lainnya. Cara membuatnya dengan ditulis,
dicap atau ditera dilukis pada kain, seperti mori, katun, teteron, sutera dan lain-lain. Garis besar pengertian
tersebut sesuai dengan pengertian yang
dikemukakan Shadily (1980: 417) sebagai
berikut"
" .... Batik adalah suatu cara untuk melukis di atas kain (mori, katun, teteron
katun, adakalanya kain sutera dll.) dengan cara
melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin yang
disebut juga malam (bahasa Jawa: Jilin), yang biasanya
dibuat dari Jilin lebah yang kuning dicampur dengan
parafin damar atau colophonium...."
Berdasarkan pengertian di atas, maka apabila
sebuah kain bermotif pada saat
proses pengerjaannya menggunakan Jilin atau malam,
maka kain tersebut dapat dianggap sebuah kain batik. Sedangkan sehelai kain meskipun bercorak batik
tidak bisa disebut batik apabila tidak menggunakan
proses perintang Jilin atau malam, maka kain itu hanya disebut kain bercorak batik
Secara geografis, batik
dapat dibagi menjadi dua, yaitu batik pesisir dan non-pesisir. Batik non-pesisir
atau “batik dalam” adalah batik tradisional yang umumnya masih memegang pakem. Batik-batik ini banyak dijumpai
di daerah Solo dan Jogjakarta. Batik-batik ini dahulu kebanyakan dipakai oleh
kalangan terbatas saja seperti para kerabat keraton dan untuk acara tertentu
saja. Bahkan, dalam acara tertentu itu,
juga harus menggunakan corak dan motif tertentu pula. Sebagai contoh pada acara
perkawinan, kain batik yang digunakan harus bermotif Sidomukti dan atau
Sidoluhur. Untuk acara mitoni (tujuh
bulan kehamilan), kain batik yang boleh digunakan adalah bermotif Ceplok Garuda
dan atau Parang Mangkoro (Kristanti, 2009: 43). Demikian juga untuk acara-acara
upacara adat yang lain harus mengenakan motif yang kain pula.
Berbeda dengan batik
pesisir yang memiliki kebebasan berekspresi, yaitu corak dan motifnya tidak
memiliki pakem. Pada umumnya batik
pesisir memiliki kekayaan motif beraneka ragam dan warnanya pun cerah, sehingga
berkesan berani dan cantik. Sesuai letak geografisnya yang bersifat terbuka, batik
pesisir ini berpotensi untuk berakulturasi dengan budaya asing, seperti motif
bunga-bunga seperti bunga teratai dipengaruhi oleh India, bunga tulip dari
Eropa dan sebagainya. Motif hewan banyak juga dijumpai pada batik pesisir,
seperti motif burung, kupu-kupu yang diperkuat warna merah dipengaruhi oleh
China. Sementara motif-motif hewan laut, seperti kerang, ikan, dan bintang laut
lainnya adalah motif asli batik tulis pesisir nusantara. Motif asli batik tulis
pesisir ini dapat ditemui di daerah Pekalongan, Cirebon, Lasem, Tuban, Tanjung
Bumi-Bangkalan, Madura pada umumnya.
Batik tulis Lasem sebagai
salah satu produk batik pesisir sangat familiar bagi masyarakat pecinta batik
nusantara, karena batik tulis Lasem bernilai seni tinggi dan sarat dengan makna
filosofis kehidupan. Batik tulis Lasem memiliki karakteristik yang berbeda
dengan daerah lain, baik dari secara visual seperti komposisi warna, motif dan
ragam hiasnya. Berdasarkan data di showroom
batik setempat, terbukti batik tulis Lasem khususnya batik lawas atau batik klasik, menjadi salah satu motif batik pesisiran
yang diburu oleh kolektor batik seni. Motif batik pesisiran yang dimaksudkan
adalah motif-motif yang mencerminkan kehidupan sosial-budaya masyarakat Lasem,
misalnya motif Naga, Lok Can dan Sekar Jagat.
1.
Batik Lasem Naga
Batik tulis Lasem tidak bisa lepas dari pengaruh makhluk mitologi
bernama Naga. Oleh karena itu, bentuk binatang Naga atau disebut juga The Dragon selalu hadir meliuk dalam
ornamen utama motif Batik Lasem. Secara semiotis, Naga menjadi sebuah simbol
keberadaan batik Lasem itu sendiri. Dengan demikian keberadaan Naga yang secara
visua bebentuk ular raksasa ganas ini menjadi tidak membahayakan. Sang Naga
justru memoncerkan eleganitas keindahan Batik Lasem. Ornamen utama motif Naga
menjadi bagian penting dari keanekaragaman motif Batik Lasem, karena eksotismenya
mampu memperkokoh eksitensi Batik Lasem.

Gambar 1
Motif Naga
pada Batik Tulis Lasem
(Sumber:
Foto Penulis, 22 September 2012)
Dari detail ornamen The
Dragons, di atas tampak jelas batik Lasem Naga sangat orientalis. Tampilan
naga dengan tanduk, sungut, dan cakar, menandakan Liong atau Lung begitu
dominatif. Dominasi Liong dipertegas stilisasi Kilin yang bersuka ria memperebutkan bola api. Pada bagian tengah
divariasikan dengan hiasan meander untuk memberikan kesan perjalanan hidup.
Filosofisasi Liong dalam Batik Lasem tidak bisa dipungkiri.
Selain sarat nilai seni yang tinggi, Batik Lasem Naga dapat diintepretasikan
sebagai refleksi harapan-harapan mulia, serta simbolisasi perjalanan
spiritualisme. Dalam tradisi Cina, Naga berkaitan erat dengan sumber kekuatan
alam. Wajar jika akhirnya Sang Naga selalu melambangkan kekuatan alam yang mahadahsyat
layaknya angin taufan. Tidak hanya itu, Naga juga dipersonifikasi sebagai
penjelmaan roh orang suci yang belum bisa masuk surga. Roh orang suci menjelma
menjadi Naga kecil yang masuk ke bumi untuk tidur dan meditasi dalam waktu
lama. Setelah tubuh tumbuh membesar, Naga bangun, bangkit dan akhirnya terbang
ke surga.
Warna Naga juga bermakna filosofis. Naga Merah, Naga Biru,
Naga Putih, hingga mencapai Naga Emas, merupakan simbolisasi stratifikasi spiritualisme.
Perbedaan warna Naga bermakna perjalanan langkah demi langkah menuju nirwana atau surga. Namun, Batik Lasem
Naga tetaplah multitafsir. Stilisasi dan visualisasi Naga dalam ornamen utama
motif Batik Lasem selalu terbuka bagi tumbuh berkembangnya intepretasi lintas
tradisi. Dengan lintas tradisi inilah, baik secara visual maupun filosofis
melahirkan sebuah bentuk akulturasi budaya.
Motif Naga memberikan bukti, bahwa antara etnis Tionghoa dan
Jawa di daerah Lasem telah terjadi akulturasi budaya. Baik China maupun Jawa
sama-sama memiliki motif Naga. Sebagaimana etnis Tionghoa, naga pada etnis Jawa
juga tidak dimaknai sebagai binatang raksasa yang ganas dan menakutkan banyak
orang, tetapi justru mendatangkan kemakmuran.
Dalam buku Patmasana
karangan Cudamani (tanpa tahun: 21) ditemukan istilah Naga Anantaboga yang diyakinin oleh umat Hindu sebagai simbol
kemakmuran. Seperti yang termaktub dalam buku Patmasana di atas sebagai berbunyi:
“… setelah Sang
Hyang trimurti sampai di angkasa, maka Bhatara Brahma mohon ijin kepada Bhatara
Iswara untuk terjun ke pertiwi. Setelah Bhatara Brahma memasuki pertiwi, maka berubahlah
wujud beliau menjadi naga yang bernama Naga Anantaboga. Bulu-bulu Sang Hyang
Anantaboga menjadi tumbuh-tumbuhan. Sehingga makmurlah manusia tidak kekurangan
pangan”.
Berdasarakan penggalan
cerita di atas dapat disimpulkan, bahwa naga
dalam pengertian itu bukanlah makhluk yang menakutkan tetapi makhluk yang dapat
memberikan kemakmuran pada umat manusia. Perlu juga diketahui, bahwa Anantaboga
dalam bahasa Sanksekerta berasal dari dua kata, yakni “ananta”
dan “boga”. Ananta artinya tidak habis-habis dan boga artinya pangan. Jadi Anantaboga
adalah pangan yang tidak habis-habis yang diberikan oleh ibu pertiwi. Dalam
alam konteks sosial-budaya, memiliki makna luas, bahwa Naga dapat dimaknai sebagai binatang yang dapat memberikan
kemanfaatan bagi orang lain, khususnya dalam rangka turut memakmurkan kehidupan
dan kejayaan bangsa dan negara melalui usaha pengentasan kemiskinan. Untuk
melihat bentuk akulturasinya, dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2
Motif Batik Lasem Naga modifikasi
(Sumber:
Foto Penulis, 22 September 2012)
Dengan demikian, ada tiga bentuk akulturasi budaya yang
tersirat dari gambar di atas, yakni motif, warna dan filosofinya. Bentuk motif
Naga sudah tidak begitu kentara gaya Tionghoa, namun sudah tampak terjadi
pembauran dengan gaya Jawa. Hal ini dapat diperhatikan cara penggambaran Naga
sudah lebih diperhalus, lunak dan tampak tenang, sehingga tidak terkesan garang
lagi. Dengan demikian, sifat-sifat kejawaannya sangat jelas. Sementara dari
segi warnanya, sudah tidak menggunakan warna merah, tetapi telah dicampurkan
dengan warna lain, sehingga menimbulkan warna baru yang memiliki keterpaduan
cirikhas warna antara kedua etnis Tionghoa dan Jawa. Begitu juga, setelah
memperbandingkan keduanya, Baik batik Naga motif Tionghoa dan Jawa memiliki
kesaman nilai filosofi, bahwa naga merupaka simbol keberuntungan dan
kesejahteraan bagi umat manusia.
2.
Batik Lasem Lok Can
Budayawan Tionghoa di Lasem, Sigid Witjaksono (82 th) yang
mengaku memiliki nama kecil Njo Tjoen Hian menjelaskan, bahwa kata Lok
Can dalam bahasa Cina berasal dari
dua kata yakni, Lok artinya biru dan Can berarti sutera. Jadi batik Lok Can adalah batik berbahan sutera
dengan motif berwarna biru. Memang batik Lasem Lok Can awalnya selalu dibuat berbahan sutera. Motif batik didominasi
warna biru, khususnya biru muda dengan latar belakang warna putih atau krem dan
harganya pun sangat mahal.
Namun, saat ini banyak dijumpai Batik Lasem Lok Can berbahan katun primisima super
halus dan dengan variasi warna yang semakin menarik terjangkau harganya
(wawancara: Sabtu, 22 September 2012). Dengan demikian, saat ini batik motif Lok Can keberdaannya sudah sudah
bersifat terbuka, baik dari segi bahan maupun warna motifnya.
Demikian juga dalam pendesainan bentuk motifnya pun saat ini
sudah banyak mengalami modifikasi dan disatukan dengan objek yang lain seperti
motif hewan atau tumbuhan. Sebagaimana disampaikan oleh pengusaha batik tulis
Lasem, Merry C. Purnomo (56 th), bahwa ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stilisasi
burung Hong atau burung phoenix. Meski adakalanya dimodifikasi
dengan motif burung kecil, seperti walet atau sriti, yang banyak terdapat di
Lasem. Stilisasi The Phoenix tersebut
sering diharmonisasikan dengan motif flora dan fauna (wawancara: Sabtu, 22
Septeber 2012). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada ganbar berikut.

Gambar 3
Batik
tulis Lasem Lok Can dengan motif
Burung Hong
(Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)
Gambar di atas bentuk motif dan beacgroundnya masih mendekati aslinya. Hal ini dapat diperhatikan pada
motifnya masih menunjukkan bentuk burung Hong
atau Phoenix yang sebenarnya,
yakni kepala berjengger, bersayap melebar keatas dan berekor lancur dengan
gerak terbang yang masih teratur. Begitu juga beacground berwarna putih mendekati krem untuk memperlihatkan bahan
suteranya. Setelah mengalami modifikasi, maka batik Lok Can menjadi bervariasi.
Motif burung Hong-nya diubah
bentuknya menyerupai burung Sriti di Jawa. Komposisinya juga dibuat sesuai
selera pembatiknya menjadi lebih dinamis dan atraktif. Sementara warnanya juga
beraneka ragam dan bahkan beacgroundnya
pun dibuat merah, sehingga tampak kontras sekali. Namun, justru cirikhas batik
Cinanya lebih kentara. Di samping itu,
juga dapat menjadi simbol pembauran etnis Tionghoa dan Jawa, seperti tampak pada
gambar di bawah ini.

Gambar 4
Motif
Burung Hong yang menyerupai burung
Sriti Jawa
(Sumber: Foto Penulis, 22 September 2012)
Dengan demikian, batik tulis Lasem motif Lok Can yang dahulu dipergunakan
untuk kegiatan berkabung (toa hwa)
dengan simbol warna biru, saat ini justru mengalami perubahan sedemikian rupa
hingga menjadi berbagai macam warna. Fenomena perkembangan batik Lasem Lok Can ini menimbulkan pro dan kontra.
Bagi yang kontra dia tidak setuju apabila orang berkabung memakai Lok Can warna merah. Sebaliknya
bagi yang pro lebih menekankan segi artistik dan estetis, bahkan dengan adanya
perubahan itu justru akan menambah keaneragaman Lok Can itu menjadi lebih memasyarakat.
Namun, Merry mengingatkan, selain bernilai artistik-estetis,
Batik Lasem Lok Can mesti tetap harus
memiliki makna filosofis sosial-budaya, karena akan menjadi cirikhasnya. Misalnya,
burung Phoenix atau Hong melambangkan kebajikan, prestasi,
dan keabadian. Oleh karena itu, apabila seseorang menginginkan aura kebajikan dan
prestasi selalu terpatri di dalam aura pribadi seseorang, maka disarankan
sering mengenakan busana batik tulis Lasem Lok
Can. Dengan demikian, bagi yang percaya
busana batik tulis Lasem motif Lok Can dapat membantu memotivasi
seseorang untuk menjadi pribadi bernilai plus yang penuh kebajikan dan
berprestasi.
3.
Batik Lasem Sekar Jagad
Asumsi masyarakat pada umumnya berkonotasi, bahwa istilah
Sekar Jagad adalah suatu pemandangan alam yang indah dan di dalamnya
berupa taman yang tumbuh beraneka ragam
bunga warna-warni jenisnya, harum semerbak baunya. Tentunya asumsi ini tidak
salah dengan memaknai istilah itu sebagai bentuk simbolisasi naturalistis.
Menurut Sigid Witjaksono (82 th), kata Sekar Jagad berasal dari kata dalam
bahasa Jawa “kar” artinya peta dan “jagad” artinya dunia. Jadi Sekar Jagad
dapat diartikan peta dunia. Namun, dia memperluas pengertiannya itu menjadi
simbolisasi keanekaragaman di seluruh dunia atau dengan kata lain alam semesta.
Dengan demikian, berbeda dengan batik tulis Lasem Naga dan Lok Can yang motifnya cenderung
mempertahankan bentuk dasarnya untuk berakulturasi, batik sekar jaga jagad
lebih terbuka untuk menerima bentuk akulturasi. Hal ini dapat untuk menekan asumsi,
bahwa batik tulis Lasem memicu multitafsir pada pengamatnya. Artinya, kehadiran
motif Sekar Jagad dalam batik tulis Lasem akan menciptakan keanekargaman unsur
budaya dan tata kelolanya agar dunia terasa indah, damai dan harmonis.
Dibandingkan dengan motif batik pada umumnya, unsur sekar
atau bunga itu sekedar menjadi pelengkap atau dalam istilah batik mejadi “isen-isen” untuk mengharmoniskan
keindahan, batik Lasem Sekar Jagad memiliki dominasi bunga, puspa atau kembang
yang distilisasi seperti mawar, melati,
matahari dan lain-lain. Batik tulis Lasem Sekar Jagat lebih mudah menerima
kolaborasi dengan bentuk flora, fauna dan benda-benda lain. Oleh karena itu,
batik Lasem Sekar Jagad di balik status keklasikannya tidak mudah tergeser oleh
budaya batik kontemporer.

Gambar 5
Motif Sekar Jagad Klasik Latar Biru
(Sumber:
Foto Penulis, 22 September 2012)

Gambar 6
Motif
Sekar Jagad Kolaboratif Flora dan Fauna
(Sumber:
Foto Penulis, 22 September 2012)
Dua contoh gambar di atas menunjukkan, bahwa terdapat
perbedaan mengenai motifnya. Pada gambar 5 menampilkan motif bunga-bunga dengan
latar biru yang menunjukkan cirikhas batik Sekar Jagad yang masih asli dan
belum mengalami pengembangan. Sementara pada gambar 6 tampak merupakan
komposisi bunga sulur-sulur khas Jawa dan divariasiasikan dengan binatang gajah.
Berdasarkan pengakuan Merry (wawancara: 22 September 2012), gajah merupakan
binatang yang suci yang dipercayai dalam agama budha, baik di Cina maupun di
Jawa. Kalau latar beacground warna
merah menunjukkan khas warna Cina. Dengan memadukan keduanya, maka motif batik
Sekar Jagad di atas dapat mewakili pembauran etnis Jawa dan Cina. Pembauran
atau akulturasi lainnya dapat dilihat pada gambar berikut.
Titip sosialisasi ilmu seni musik baru untuk nguri-uri budoyo jawi, bagi bpk/ibu yg ingin ilmu gitar khusus langgam jawa,monggo brosing youtube tulis widodo prasetyo utomo, maturnuwun
ReplyDelete